
Venus sedang membalurkan body lotion ke kakinya ketika Samudera keluar dari kamar mandi dengan selembar kain handuk kecil melingkari perutnya dan titik-titik air masih berjatuhan dari rambutnya.
Sebenarnya tadi mereka mandi bersama, tetapi Venus lebih dulu mengakhiri kegiatan mandinya.
Venus membuang arah pandangnya kemudian mengambil handuk kecil di lemari, ia menarik Samudera duduk di tepi tempat tidur.
"Duduk sini, biar aku keringkan rambut kamu!" Samudera seperti anak kecil yang penurut kepada ibunya. Ia menarik pinggang Venus agar lebih dekat dan berdiri di antara dua pahanya. Wajahnya diangkat agar bisa memandangi wajah cantik istrinya. Bibirnya sedikit melengkung.
Dengan cekatan kedua tangan Venus mengeringkan rambut Samudera. Ia bergerak tidak tenang karena tangan Samudera memainkan tali bathrobe-nya, terkadang ikatannya ia lepas, lalu diikat lagi, begitu seterusnya berulang-ulang.
Venus sedikit berjingkak ketika tangan Samudera membelah kain bathrobe-nya sehingga terpampanglah perut buncitnya tanpa penghalang.
Samudera memberinya beberapa kecupan di sana. Dielusnya penuh sayang dan terasa lembut mengenai kulit Venus.
"Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya. Pasti dia sangat lucu. Kalau dia cewek, pasti cantik seperti kamu dan kalau dia cowok pasti akan setampan daddynya." Percaya diri sekali bahwa anaknya akan tampan seperti dirinya.
"Aku mau dia lebih cantik dan lebih tampan dari mommy dan daddy-nya." Mata Venus berbinar membayangkannya.
Sampai saat ini mereka memang belum tahu jenis kelamin bayi yang ada di dalam kandungannya. Sengaja, biar surprise nantinya.
Mereka juga sudah membeli beberapa perlengkapan bayi dan memilih warna netral.
Tanpa sadar Venus membelai kepala Samudera dengan gerakan abstrak. Berada dalam dekapan Samudera selalu memberikan sensasi yang begitu memabukkan.
"Iya, dia akan lebih cantik dari kamu atau lebih tampan dari aku, itu sudah pasti. Tapi aku ingin dia perempuan agar ada yang selalu tergila-gila dengan ketampananku selain dirimu." Samudera membenarkan harapan Venus, tetapi ujung kalimatnya terdengar tidak enak di telinga Venus.
Tiba-tiba perut Venus seperti bergejolak di salam sana, bayinya menendang dengan begitu keras dan intens.
Kedua mata mereka membulat dan saling menatap. "Dia merespon!" Ucap Samudera antusias, tangannya mengikuti tonjolan di perut Venus yang dibentuk oleh gerakan bayinya itu.
"Lihatlah, dia menyukai daddy-nya. Sepertinya dia memang baby girl." Senyum Samudera merekah dengan binar-binar penuh kebahagiaan.
"Hei baby girl, i love you more!"
Tubuh Venus terasa beku seketika, mendengar ungkapan cinta Samudera kepada bayinya seolah mendengar lantunan melodi indah di kesunyian padang luas.
Ah, andai pernyataan itu untuknya, mungkin Venus akan pingsan mendengarnya.
__ADS_1
"I love you too, daddy!" Venus membuat suara seperti anak kecil dengan ekspresi sesantai mungkin, seolah ia memang hanya berakting sebagai anak perempuan kecil mereka.
Giliran tubuh Samudera yang terasa beku mendengarnya. Namun bukan Samudera namanya jika ungkapan seperti itu bisa mencairkan kebekuan hatinya.
"Thank you baby girl, you are so sweet. Udah bisa ngerayu daddy-nya yah, awas saja kalau nanti sudah besar kamu berani merayu laki-laki lain, daddy pastikan laki-laki itu akan menanggung akibatnya." Samudera sedikit mengancam dengan kembali banyak- banyak menghujani perut Venus dengan kecupan ringan di sana.
Venus terkekeh karena geli, "geli, Sam. Udah ih, sana pake baju. Lapar!" Ucap Venus manja dengan sedikit mendorong kepala Samudera yang masih menempel di perutnya.
"Lagian anak masih di dalam perut aja udah diancam, entar nangis, ngambek, bingung sendiri kan?" Kembali Venus tertawa ringan melihat tingkah absurd suaminya itu, anak gadisnya belum lahir saja sudah overprotektif.
_____
Bintang mengetuk-ngetuk setir mobilnya dengan ujung-ujung jari di kedua tangannya sembari menunggu kedatangan Venus dengan hati gelisah.
Semenjak pertemuannya di kafe sebelah kantor beberapa bulan yang lalu, ia sama sekali tidak punya celah untuk bertemu Venus. Tiba-tiba saja keesokan harinya ia ditugaskan ke kantor cabang dan beberapa hari kemudian surat penempatannya menyusul datang.
Setelah melakukan berbagai cara, akhirnya surat pengunduran dirinya dikabulkan dan tidak menunggu lama dirinya langsung kembali ke Jakarta.
Matanya melirik jam tangan dinoergelangan tangannya kemudian menatap awas, sesekali melirik spion di sebelah kiri dan kanan mobilnya, ia berharap Venus datang.
Bintang keluar dari mobilnya dan memilih bersandar di pillar gedung yang cukup besar.
Venus melirik ke belakang, kemudian ke kiri dan kanannya, memastikan tidak ada orang yang mengikutinya ke sini.
"Terima kasih sudah mau datang." Bintang menyapa Venus dengan wajah cerah.
Venus mengangguk, terlihat jelas di matanya menggambarkan kegelisahan dan rasa ingin tahu yang besar.
"Cepat katakan, apa yang mas ketahui tentang kecelakaan kedua orang tuaku?" Langsung ke intinya, Venus tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi dengan Bintang.
"Aku tidak bisa menjelaskannya di sini, bisakah kamu ikut aku sekarang?"
Venus mendesahkan nafasnya dengan kasar, "katakan saja dengan singkat apa yang mas Bintang ketahui tentang kasus tersebut? Juga, apa hubungannya dengan mas, kenapa mas Bintang bisa mengenal aku dan kedua orang tuaku? Siapa mas Bintang sebenarnya?" Tanya Venus bertubi-tubi menyuarakan semua pertanyaannya selama ini.
Bintang memejamkan matanya, menghirup udara memenuhi rongga dadanya.
"Aku di sana saat peristiwa itu terjadi, gadis kecil yang ikut di dalam mobil bersama kedua orang tuamu adalah adikku, aku mengejarnya karena tidak ingin berpisah dengan adikku, tetapi malang menimpa mereka. Aku mengikuti jenazah mereka saat dibawah ke rumah sakit dan aku melihat kamu di sana.
__ADS_1
Aku mencoba mencari kebenarannya setelah sekian lama, aku juga berusaha mencarimu kemana-mana, tetapi kamu menghilang tanpa jejak. Aku selalu menunggumu, menunggu saat kamu kembali ke sini dan mencari kebenarannya."
"Katakan apa yang mas Bintang ketahui? Siapa pelakunya? Aku sangat yakin itu bukan kecelakaan biasa tetapi sudah direncanakan oleh orang lain." Suara Venus bergetar, hatinya kembali seperti diremas mengingat kejadiaan naas tersebut.
Bintang mengikis jarak diantara mereka, netranya menatap lekat ke dalam mata sendu itu.
"Dia adalah orang terdekat sua--
"Venus!!!" Tiba-tiba suara keras itu memotong ucapan Bintang.
"Jadi begini kelakuan kamu saat aku memberimu kebebasan? Kamu selingkuh!!!" Suara Samudera menggelegar meremukkan hati Venus.
Alex dan Max bergerak secepat kilat mengamankan Bintang sementara Samudera langsung menarik Venus dengan kasar meninggalkan basement.
"Sam... aku bisa jelaskan, please, ini sakit, jangan begini." Venus tertatih-tatih mengikuti langkah besar kaki Samudera.
Samudera menulikan telinganya, emosinya tersulut api yang siap membakar siapa saja saat ini.
"Sam... aku mohon. Aku tidak selingkuh. Tolong percaya kepadaku!"
"Arrrggghhhhh.. " Venus mengeluh kesakitan saat Samudera mendorongnya dengan kasar masuk ke dalam mobilnya. Kedua tangannya ia gunakan untuk melindungi perutnya sehingga semua bobot tubuhnya bertumpu pada punggungnya saat terhempas masuk mobil.
Meski demikian, tiba-tiba Venus merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.
"Sam..." Panggilnya sambil memeluk perutnya.
"Ii..ini sangat sakit, Sam!" Keringat dingin muncul begitu saja di seluruh permukaan wajahnya.
Melihat wajah Venus yang tiba-tiba memucat, Samudera segera memeriksa keadaan Venus.
"Apa yang sakit?" Tanyanya cemas.
"Perut.. perut aku, saa kiit!" Venus merintih, tangannya meremas kerah baju Samudera melampiaskan rasa sakitnya.
Mata Samudera melebar ketika melihat rok abu muda yang dikenakan Venus sedikit memerah, seperti...
"Darah...!"
__ADS_1