A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 62


__ADS_3

"Iya, sama-sama."


Muthia tersenyum, memilih diam sejenak memberi waktu Venus untuk meresapi kata-katanya.


Setelah lama terdiam, Muthia kembali membuka pembicaraan.


"Sebenarnya, kalau urusan pak Sam yang tidak peka dengan perasaannya, kenapa bukan kamu saja yang memulai?"


"Maksud mbak?" Venus tidak mengerti arah pembicaraan Muthia.


"Tembak dia duluan, nyatakan perasaan kamu kepadanya."


Venus tersenyum kecut kemudian menggeleng, "pantang bagi aku nembak cowok, lagian aku juga enggak cinta sama dia." Venus berkilah.


Muthia melengos mendengar pernyataan Venus yang menurutnya tidak masuk akal itu.


"Hello.. itu suami kamu, udah halal itu, salahnya dimana coba kalau bilang cinta sama suami sendiri? Lagian apa tadi kamu bilang, enggak cinta? Terus yang ada di dalam perut kamu itu apa namanya kalau bukan buah cinta? Buah benci? Emang ada gitu?"


Gemes..greget, rasa-rasanya Muthia mau garuk-garuk tembok saat ini juga.


"Mbak enggak akan mengerti hubungan kami yang rumit ini. Susah jelasinnya!" Venus menekuk wajahnya.


Benarlah bahwa orang-orang hanya melihat apa yang ingin mereka lihat, mereka tidak akan pernah melihat sudah berapa banyak luka yang sudah kita jahit agar terlihat semuanya baik-baik saja.


"Iya, sepertinya mbak memang tidak mengerti. Maaf!" Muthia merasa bersalah, mungkin ia sudah terlalu banyak menekan Venus. Apa yang dirasakan Venus belum tentu seperti apa yang terlihat di matanya. Bukan dia yang hidup dengan Samudera, tetapi Venus. Tentu saja yang merasakan dan yang menjalani dan yang paling tahu yang sebenarnya hanya Venus dan Samudera saja.


"


"

__ADS_1


Saat ini, Samudera seolah berdiri di persimpangan jalan. Ia berdiri di antara istrinya dan ibunya.


Setelah beberapa bulan kembali ke Singapur, kembali terdengar kabar bahwa ibunya lagi-lagi harus dirawat di rumah sakit. Namun kali ini ibunya mengalami stroke sehingga kehadirannya disisi ibunya sangat dibutuhkan.


Sementara di sisi lain, Venus semakin menjadi-jadi manjanya, ia seolah tidak suka jika harus berpisah terlalu lama. Jangankan sehari, satu jam saja Venus sudah ngambek.


Pada akhirnya, Samudera membawa ibunya pulang ke rumahnya agar ia bisa mengontrol dan merawatnya sendiri.


Walau seburuk apapun ibunya di matanya, tetap saja cintanya kepada ibunya tidak akan hilang. Berbakti kepada orang tua itu bukan hanya sekedar kewajiban, tetapi menjadi kebutuhan bagi setiap anak.


Walau Samudera tidak yakin, apakah ibunya itu pernah menyebut namanya dalam doa-doanya, tetapi Samudera yakin dan percaya bahwa kesuksesan yang telah ia raih selama ini tidak lepas dari harapan-harapan kebaikan yang dipanjatkan ibunya.


Ia tidak ingin jumawa, merasa kesuksesan yang diraihnya adalah hasil dari kerja kerasnya seorang diri, tidak sama sekali.


Bisa jadi di sana ada kerja-kerja dan doa-doa dari orang tua kita, ada doa-doa dari orang-orang yang mendapatkan manfaat dari kita dan di dalamnya juga ada rezeki orang lain yang dititipkan melalui kita.


Kondisi ibunya cukup memperihatinkan, seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan, beruntung masih bisa berkomunikasi meski sudah tidak terlalu jelas pengucapannya.


"Biar aku saja yang memandikan ibu, bagaimanapun di sini masih ada aku dan bu Wati yang bisa mengurus ibu untuk bersih-bersih tubuhnya."


Venus tahu, Samudera tidak nyaman melakukannya. Dan di dalam pemahaman Venus, untuk urusan memandikan jenazah saja, jika bagi jenazah perempuan, ternyata yang ada hanya putranya saja, atau pamannya saja ataupun laki-laki yang bukan mahramnya, maka cukup ditayamumkan saja dengan menempelkan kedua tangannya di tanah kemudian diusapkan ke wajah dan telapak tangan jenazah tersebut dengan niat memandikannya.


Karena wanita tidak dimandikan kecuali oleh salah satu dari dua orang, yaitu sesama wanita atau suaminya.


Samudera mengangkat tubuh ibunya ke tempat tidur setelah Venus memakaikan pakaian. Bu Wati juga sudah menyiapkan sarapan.


"Bukannya pagi ini kamu ada meeting penting?" Venus berusaha mengingatkan.


Samudera menepuk jidatnya karena benar-benar melupakan agendanya hari ini. Terlalu sibuk mulai dari memulangkan ibunya ke Indonesia sampai mengurus dan merawatnya.

__ADS_1


Samudera menyerahkan mangkuk bubur yang sudah ia pegang ke tangan Venus. "Tolong suapin ibu dulu yah, aku mau siap-siap."


Samudera segera meninggalkan mereka, meeting kali ini sangat penting untuk membahas kelanjutan kerjasama dengan Perusahaan asing yang selama ini menjadi salah satu konsumen terbesarnya di bidang nikel.


Samudera tidak ingin mengacaukan jadwal yang sudah mereka sepakati, salah sedikit akan berefek kepada banyak hal. Banyaknya perusahaan kompetitor membuat Samudera harus pandai-pandai menjaga hubungan baiknya dengan pihak-pihak konsumen. Apalagi perusahaan ini adalah pengkonsumsi 40% dari hasil produksi perusahaan Samudera.


Venus segera duduk di tepi ranjang dengan semangkuk bubur di tangannya.


Dibantu oleh perempuan muda yang baru diketahui Venus bernama Clara. Dia adalah asisten pribadi ibu mertuanya. Cantik dan cekatan, juga terlihat cerdas.


Saat Venus hendak menyuapkan bubur, tangan ibu mertuanya mendorong mangkuk yang dipegang Venus hingga jatuh terpelanting dan pecah.


Sedikit kaget, tetapi itu tidak cukup membuat air muka Venus berubah. Ia terlihat biasa-biasa saja kemudian memberi kode kepada Clara dan bu Wati kalau dia baik-baik saja.


"Bu Wati, tolong ambil bubur yang baru yah." Perintahnya kepada bu Wati yang sedari tadi beridiri di dekat pintu, jelas terlihat kecemasan di wajah tuanya itu.


Venus menoleh kepada Clara yang dari tatapannya terlihat permohonan maaf dan berharap dimaklumi sikap majikannya yang merupakan mertua Venus sendiri.


Venus mendesah pelan. Ia tidak ingin memaksa ibu mertuanya itu.


"Clara, tolong pastikan ibu memakan buburnya, setelah itu berikan obatnya yah. Aku ingin istirahat sebentar di kamar, kalau ada apa-apa jangan ragu panggil saya."


Setelah mengucapkan itu kepada Clara, Venus langsung beranjak keluar dari kamar ibu mertuanya kemudian menuju kamarnya sendiri.


Venus tidak ingin membebani pikirannya dengan hal apapun itu, termasuk sikap mertuanya yang dingin dan kasar kepadanya. Baginya itu bukan masalah.


Fokus Venus saat ini adalah kesehatan dirinya dan bayi yang ada di dalam kandungannya. Memasuki kehamilannya yang sudah menginjak usia tujuh bulan, Venus mulai merasa gampang lelah, kakinya pun mulai terlihat membengkak. Belum lagi sakit punggung yang sering datang menderanya. Terkadang belum sejam beraktifitas, dia sudah mencari tempat untuk rebahan, sekedar mencari tenpat yang nyaman untuk meluruskan badan.


Sebenarnya Samudera sudah memintanya lebih banyak tinggal di rumah, tetapi Venus menolak. Ia beralasan kalau di rumah ia akan lebih banyak rebahan, berbeda jika itu di kantor, mau tidak mau pasti dia akan lebih banyak bergerak di sana. Itu juga demi kebaikan dirinya dan bayinya.

__ADS_1


"Aku hanya hamil, bukan sakit!" Begitu terus yang Venus katakan setiap kali Samudera melarangnya melakukan ini itu.


__ADS_2