
Samudera mendengus kesal, ia menghempaskan tubuhnya begitu saja duduk di kursi berputarnya. Tangannya melonggarkan dasinya. Ia memijit pelipisnya.
Dirinya sangat tidak senang melihat Venus yang memilih berangkat ke kantor tanpa dirinya. Ingin rasanya menumpahkan semua kekesalannya ke wajah Venus saat masuk ke ruangannya tadi, namun melihat raut ketakutan dan kecemasan di wajah Venus kepadanya, hal itu menyurutkan niatnya.
Samudera seketika tersadar bahwa hal itu tidak baik untuk psikis ibu hamil dan ia tidak ingin itu mempengaruhi perkembangan bayinya di dalam kandungan Venus.
Hanya karena Samudera ingin Venus lebih bersabar dan lebih memperhatikan ibunya, Venus bisa semarah itu. Padahal ia hanya mengingatkan.
Samudera sangat gerah mendengar komplain ibunya terhadap Venus yang tidak ada habisnya itu. Ia tahu bahwa ibunya sedikit berlebihan dan ia cukup kenal bagaimana karakter Venus.
Samudera hanya berharap Venus bisa memahami dirinya yang tidak ingin membuat ibunya tersinggung apalagi sakit hati.
Sebuah ketukan pintu menyadarkan Samudera dari pikirannya yang carut marut.
"Masuk..."
"Pak, ini jadwal meeting dan bahan-bahannya, slidenya sudah dikirim ibu Venus ke email bapak." Robby meletakkan sebuah berkas di atas meja kerja Samudera.
Samudera mengangguk, "kemana Venus? Kenapa kamu yang antar berkasnya ke sini?" Samudera bergeming, tidak biasanya Venus menitipkan pekerjaannya kepada Robby.
Robby mengatupkan bibirnya, ia sendiri tidak punya jawaban pasti atas pertanyaan Samudera. Karena saat ke ruangan Venus, Venus hanya memberinya berkas tersebut dan memintanya sekalian membawanya ke ruangan Samudera.
"Ah..itu, ibu Venus tidak mengatakan apa-apa, mungkin karena saya mengatakan akan ke ruangan bapak jadi sekalian saja berkasnya dititip ke saya." Setidaknya seperti itulah alasan Venus yang difikirkan Robby.
Samudera mengusap dagunya yang sudah sedikit ditumbuhi bulu-bulu kasar.
"Ya, sudah. Ingatkan saya sepuluh menit sebelum meetingnya dimulai."
Robby mengangguk patuh kemudian undur diri dari sana. Ia bisa menebak bahwa suasana hati Samudera saat ini sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
------
Setelah dua jam duduk di depan komputer dengan pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu banyak namun membutuhkan ketelitian, kini Venus menyerah. Ia sangat butuh meluruskan badannya sekarang juga, sakit di punggungnya tidak tertahankan lagi.
Venus bergegas ke ruangan Samudera, yang ia butuhkan saat ini adalah tempat tidur yang nyaman dan itu hanya ada di ruangan pribadi suaminya.
Venus tahu tidak ada Samudera di sana karena dirinya sendiri yang mengatur jadwal meeting Samudera pagi ini.
Venus menghembuskan nafas lega ketika seluruh bagian belakang tubuhnya bertemu dengan kasur. Ia bertahan dengan posisi terlentang beberapa saat hingga ia merasakan nyaman di sepanjang tubuhnya, sayangnya perutnya yang buncit itu tidak bisa bertahan lama dengan posisi tersebut.
Rasa nyaman di atas kasur seperti membelai mata Venus, semenjak hamil, jam delapan pagi ke atas itu adalah ujian mata Venus. Ia sering dilanda rasa kantuk di jam-jam tersebut.
Pada akhirnya mata Venus kalah dan terjatuh ke dalam buaian dan rayuan kasur.
Sementara itu, setelah hampir tiga jam melakukan meeting bersama para kepala cabang dilanjutkan dengan obrolan singkat dengan beberapa orang, Samudera baru bisa lepas dari kesibukannya setelah waktu istirahat akan datang.
Namun, sesaat ia melihat pintu kamar pribadinya tidak tertutup rapat. Samudera membuka pintu kamar dan ia mendapati Venus tertidur di sana.
Samudera merangkak naik ke atas tempat tidur. Melihat kepala Venus yang tidak memakai bantal, Samudera berinisiatif memberikan pahanya sebagai bantal.
Samudera terpaku pada wajah teduh dan sendu istrinya, ia sangat mengagumi kecantikan itu. Tidak ada yang bisa menggetarkan hatinya selain Venus. Dan satu lagi perasaan yang berbeda menghampirinya, hatinya selalu berbunga-bunga setiap saat Venus tersenyum manis kepadanya, atau ketika Venus memberinya perhatian-perhatian kecil, atau ketika Venus mengkhawatirkannya. Hatinya menghangat, seperti ada jutaan keindahan yang bersatu padu memenuhi perutnya.
Samudera menunduk kemudian ikut membaringkan tubuhnya yang masih setia meringkuk agar kepala Venus tetap di atas pahanya.
Pergerakan Samudera yang meringkuk dan merangkulnya dengan wajah yang menyatu dengannya membuat tidur Venus terganggu. Nafas keduanya saling menderu menerpa wajah.
Samudera langsung menyatukan bibir mereka dan langsung dibalas oleh Venus. Mereka bertaut penuh sayang dan rindu. Entah mengapa tiba-tiba ada rasa rindu yang sangat besar yang memberontak ingin diselesaikan.
Perdebatan semalam hingga tadi pagi sungguh sangat mengganggu kinerja otak dan hati mereka. Itu sangat menyiksa.
__ADS_1
Pelan tangan Samudera bergerak lincah melepas jilbab dan kancing kemeja Venus. Bibirnya menyesap kuat leher Venus di beberapa tempat membuat Venus mengeluarkan suara-suara merdu penambah semangat untuk Samudera.
Tidak berbeda dengan Venus, tangannya pun tidak bisa tinggal diam. Ia menjambak, menarik dan meremas apa saja yang dijangkau tangannya.
"Boleh?" Tanya Samudera di tengah aktivitas bibir dan tangannya. Ia kemudian menjauhkan sedikit jarak mereka, mencoba menyelami wajah cantik nan ayu yang ada di hadapannya.
Nafas mereka saling memburu dan terasa hangat.
Venus mengangguk, "itu hak kamu. Lakukanlah!" Bagaimanapun Venus juga menginginkannya.
Sesungguhnya Samudera sangat tidak suka ketika Venus menyebutnya sebagai haknya, karena ia merasa Venus melakukannya karena hanya ingin menggugurkan kewajibannya, bukan karena ia juga menginginkannya.
Tetapi kali ini Samudera lagi-lagi tidak ingin mempersoalkannya. Ia yakin, suatu saat Venus akan menyerahkan dirinya sepenuhnya karena Venus telah mencintai dirinya.
Tidak ada lagi kata terpaksa atau karena kewajiban, tetapi karena panggilan hati, dorongan naluriah dan penyerahan jiwa atas nama cinta.
Mungkin karena bawaan hormon kehamilan, Venus begitu menyukai setiap kali mendapatkan sentuhan yang memabukkan dari suaminya itu.
Ada kalanya ia begitu menginginkan suaminya itu menyentuhnya, namun untuk memulainya apalagi memintanya sungguh Venus tidak punya nyali untuk melakukannya.
Rasa malunya masih sangat tinggi, harga dirinya terlalu banyak untuk ia rendahkan meskipun bukan masalah karena mereka sudah terikat pernikahan.
Padahal Samudera sangat suka dan bergairah berkali-kali lipat ketika Venus bergerak sedikit liar dan membalas semua sentuhannya.
Tidak ada keindahan dan kenikmatan lain yang pernah dirasakan Samudera jika itu bukan dengan Venus. Baginya, Venus adalah keindahan paripurna dari segala ciptaan Tuhan yang pernah dimilikinya.
Samudera menyukai setiap apa yang ada di tubuh Venus, Samudera menikmatinya. Menikmati senyumnya, menikmati parasnya, menikmati kehangatannya, bahkan marahnya pun tetap ia nikmati.
Dan pada akhir penyatuan mereka, ledakan itu selalu membuat kepala Samudera menjadi ringan, seringan kapas. Ia seperti terbang bersama ribuan kupu-kupu yang bergelayut manja di setiap kepakannya. Luar biasa.
__ADS_1