A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 7 Terlambat


__ADS_3

Waktu berjalan dan sekarang sudah memasuki jam istirahat. Sebelumnya Venus sudah meminta Muthia agar memesan makan siang untuknya. Dia masih terlalu malas melangkahkan kakinya ke kantin.


Satu hal yang membuatnya sedikit terganggu karena ternyata di gedung berlantai 4 dan cukup luas ini tidak mempunyai fasilitas Musholla. Padahal Venus yakin, sebagian besar karyawan yang bekerja di sini pasti beragama Islam.


Venus ingat betul dalam desain milik ibunya, Musholla itu cukup besar dan berada di atas lantai 4. Tapi ternyata ruang tersebut malah dialih fungsi menjadi bagian dari ruang pribadi Sam.


Setelah menyelesaikan makan siang dan kewajibannya sebagai seorang muslimah, Venus terus melirik jam di tangannya. Dia tidak ingin terlambat, selain karena Venus memang sangat menjunjung tinggi pada prinsip menghargai waktu sendiri dan waktu orang lain, Venus juga tidak ingin mendapatkan kesan buruk saat pertama kali bertemu dengan pimpinan perusahaan ini.


Kurang dari 10 menit, Venus mendatangi Muthia agar menemaninya ke ruangan pak Sam. Venus enggan menemui Sam seorang diri.


"Kamu kek anak-anak, Ve. Masih minta antar!" Sindir Muthia yang sebenarnya enggan ikut Venus.


"Harusnya mba Muth berterima kasih karena dapat kesempatan bertemu dengan sang pujaan hati." Ucap Venus mengelak dari tuduhan Muthia.


"Aku kan statusnya hanya sebatas secret admirer, Ve. Aku hanya butiran rinso yang bermimpi naik ke atas awan." Keluh Muthia merendah.


"Apaan!" Venus hanya bisa mencebik, "mulai lagi deh lebaynya." Venus memanyunkan bibirnya.


Mereka memilih menaiki tangga dibanding naik lift. Tanggung, lantai 3 ke lantai 4. Hitung-hitung olahraga siang untuk meregangkan otot kaki dan otot perut.


Sejenak perhatian Venus teralihkan kepada pemandangan hijau dan segar yang memanjakan matanya di sepanjang sisi kanan koridor yang dilewatinya.


"Gak usah kekotaan yah, Ve. Kamu itu seperti orang kota yang gak pernah lihat kebun aja! Kamu kan orang dari daerah, udah biasa banget lihat yang ijo-ijo." Ucap Muthia menyadari Venus yang sedari tadi mengalihkan pandangannya ke arah jejeran green house yang mereka lewati.


"Yang beginian gak ada di kampung kali mba. Ini loh.. di atas gedung ada kebunnya. Bagi orang kampung ini adalah keajaiban dunia, tapi bisa juga dianggap gak punya kerjaan sih." Ucap Venus sambil terkekeh menunjukkan gigi putihnya yang rapi. "Tanah masih luas kok bertani di atas atap rumah, aneh-aneh saja!" Imbuhnya lagi.


"Nah, ini ruangannya.. aku tinggal yah." Muthia langsung menghentikan langkahnya ketika mereka sudah berada tepat di hadapan ruangan Samudera.


"Eits..." Venus langsung menarik ujung kemeja Muthia. "Mba jangan kabur yah."


"Ekkhmm.." Sebuah deheman mengalihkan pandangan kedua gadis dewasa tersebut.

__ADS_1


"Pak Robby, selamat siang. Pak Sam ada?" Sapa Venus berbasa-basi.


"Ibu sudah ditunggu di dalam. Masuk saja!" Jawab Robby kemudian membuka pintu.


Venus dan Muthia pun segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Sam. Namun, baru 2 langkah Muthia melewati pintu, Robby sudah menarik kerah baju bagian belakangnya.


"Mau kemana? Pak Sam hanya ingin bertemu ibu Venus bukan anda!"


Mau tidak mau Muthia pun menghentikan langkahnya dan berbalik keluar. Sementara Venus hanya bisa pasrah.


"Selamat siang, pak!" Sapa Venus ketika dirinya sudah berdiri tepat di depan meja kerja Sam.


Sam sendiri masih menundukkan pandangannya menatap beberapa berkas yang ada di hadapannya.


"Anda terlambat 10 detik." Sarkas Sam tanpa berniat membalas sapaan Venus.


Venus ingin menjelaskan namun seketika ia urung dan memilih meminta maaf.


"Maaf, pak!"


"Maaf karena saya telah telat dan membuang waktu bapak yang berharga itu selama 10 detik." Jawab Venus dengan sedikit penekanan di akhir kalimatnya.


"Berani sekali dia menentangku!" Batin Samudera tidak terima seolah-olah terlambat 10 detik itu sudah merupakan hal biasa bagi orang yang baru dipilihnya menempati salah satu posisi penting di perusahaannya.


Samudera mengangkat wajahnya kemudian menatap tajam ke arah Venus.


Deg...


"Mata itu!" Samudera merasa pernah melihat iris mata tersebut.


Seketika suasana hening menyelimuti mereka, seperti ada sesuatu yang menarik dan memerangkap pandangan mereka untuk terus saling terikat.

__ADS_1


Menyadari hal tersebut, buru-buru Venus memutus kontak mata mereka dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Maafkan saya pak. Saya benar-benar tidak bermaksud membuang waktu bapak. Tadi dalam perjalanan ke sini saya sedikit teralihkan melihat keindahan kebun di atas gedung ini. Sekali lagi saya meminta maaf!" Pinta Venus dengan menangkupkan kedua tangannya di dada sambil menundukkan wajahnya.


Venus berharap Samudera tidak mengenalinya. Meskipun Samudera masih lupa ingatan dan pertemuan terakhir mereka sudah berlalu 15 tahun, namun tetap saja ada ketakutan di hati Venus kalau sampai Samudera masih bisa mengenalinya.


Samudera sama sekali tidak tertarik menanggapi permintaan maaf perempuan yang ada di hadapannya ini, menurutnya ada yang berbeda saat pertama kali melihatnya.


Tatapan matanya...


Warna suaranya...


Garis wajah itu...


Mengapa terasa begitu mengusik jiwa kelaki-lakiannya?


Matanya masih menatap intens dari ujung sepatu hingga puncak kepala Venus. Bukan terpesona, tapi entah mengapa ada yang terasa berbeda.


"Robby!" Panggil Samudera bergema lewat interkom.


Tanpa menunggu lama, Robby segera memenuhi panggilan tuannya.


"Kamu yakin dia adalah pengganti pak Adam?" Tanyanya terdengar seperti meremehkan di telinga Venus.


"Bukankah bapak sendiri yang memilihnya?" Jawab Robby balik bertanya sebagai koreksi untuk mengingatkan.


"Kenapa yang datang malah manusia gurun? Apa tidak ada yang berpenampilan lebih menarik sedikit selain dia?" Sinis Samudera memberi tatapan jijik.


Sungguh, Venus sangat tersinggung mendengar gelaran manusia gurun yang disematkan Sam kepadanya. Ingin rasanya mengulek-ulek mulut Samudera saat ini juga menggunakan ekor onta biar dia tahu bagaimana rasanya dikadalin makhluk dari gurun.


"Maaf.. saya datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk menjadi objek pemandangan yang bisa membuat mata anda terpukau. Saya rasa semua orang berhak berpakaian sesuai dengan kenyamanannya, dan tentu sesuai dengan norma yang dianut oleh sebagian besar masyarakat di negeri ini. Kalau anda tidak suka dengan penampilan saya, lebih baik diam. Jangan merusak kebahagiaan saya, karena saya bahagia dengan cara saya sendiri bukan karena penilaian anda. Terima kasih. Saya permisi!" Akhirnya pecah juga emosi Venus.

__ADS_1


"Tunggu!!!" Samudera tidak terima dengan sikap Venus yang ingin meninggalkan ruangannya tanpa persetujuannya. Belum lagi ceramah panjang yang baru saja diucapkan Venus.


Langkah Venus pun terhenti kemudian membalik tubuhnya menghadap ke arah Samudera. Tatapannya tajam menghunus jauh ke dalam manik mata Samudera. Tidak ada pancaran ketakutan di sana, dia sudah pasrah apapun akhirnya nanti. Yang terpenting adalah membela keyakinannya.


__ADS_2