A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 66


__ADS_3

Samudera terus menggenggam tangan Venus ketika operasi cesar harus dilakukan untuk menyelamatkan bayi dan ibunya. Ketuban sudah pecah ketika mereka dalam perjalanan ke rumah sakit tadi, beruntung jarak kantor ke rumah sakit tidak terlalu jauh.


Dan di sinilah Venus berbaring di atas brankar dengan kesadaran yang sudah hampir menghilang. Ia tidak bisa memikirkan apa-apa lagi, satu doanya agar anaknya bisa diselamatkan meski itu harus mengorbankan nyawanya.


Sayup-sayup terdengar suara tangisan bayi di telinga Venus sebelum semuanya terlihat gelap dan ia tidak mengingat apa-apa lagi setelahnya.


Samudera tersentak ketika tangan Venus melemah di dalam genggamannya.


"Hei.. bangun! Venus, Ve.. bangun!!!" Tidak ada gerakan, tidak ada suara, Venus terbaring kaku menyisakan jejak-jejak air mata di pipi chubbynya.


"Maaf pak, biarkan kami menangani ibu dulu, bapak bisa mengikuti perawat itu bersama bayinya." Seorang perawat meminta Samudera menjauh dari Venus karena ingin segera melakukan pertolongan.


"Tapi..."


"Tolong kerjasamanya, pak. Ibu harus segera ditangani saat ini juga."


Samudera akhirnya menurut dan dengan berat hati meninggalkan Venus sendirian berjuang di sana.


-----


Dua minggu berlalu, Venus pun akhirnya dibolehkan pulang setelah sepuluh hari dirawat di ICU dan empat hari di ruang inap pasien. Perasaan Venus membuncah sudah tidak sabar ingin bertemu dengan bayinya.


Ah, ia sudah membayangkan saat menimang-nimang bayinya, ia sampai lupa, ia blum tahu nama anaknya, bahkan jenis kelaminnya pun belum ia ketahui.


Ada yang aneh, tapi ia tetap berfikir positif, selama proses perawatan dan pemulihan kesehatannya, tidak sekalipun Samudera datang menjenguknya. Ia berusaha memaklumi, Samudera pasti sibuk di kantor, belum lagi ada bayi mereka yang lahir prematur, pasti bayinya itu juga menjalani perawatan intensif dan Samudera juga tentunya kesulitan sendiri mengurus bayinya.


Ia seperti orang hilang, sendiri tanpa ada yang menemani, hanya ada dua orang perawat yang selalu standby bersamanya, katanya mereka diperintahkan suaminya untuk menjaganya.


Venus sedih, tetapi ia kuatkan perasaannya. Bahkan saat ini ia bingung sendiri bagaimana caranya pulang karena belum ada tanda-tanda Samudera akan menjemputnya.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Venus, saat pintu terbuka, muncul Alex kemudian disusul Max datang ke kamar inapnya.


"Sudah siap, non? Kami diminta pak Sam menjemput non Venus." Alex memberi tahu.

__ADS_1


"Iya, aku udah menunggu dari tadi. Ayok!" Venus langsung berdiri dan melangkah duluan keluar dari kamar.


"Apa tidak pake kursi roda dulu, non? Sepertinya tubuh non masih belum sembuh total." Max menahan Venus kemudian mendorong kursi roda yang ada di dalam ruangan tersebut.


Venus menimbang-nimbang kekuatannya, sepertinya tawaran Max memang harus ia terima, ia merasa masih sedikit lemas, rumah sakit ini sangat besar dan untuk ke lobby mesti berjalan kaki cukup jauh ke sana.


"Baiklah!" Venus akhirnya duduk di atas kursi roda dengan Max memegang gagang kursi tersebut.


"Loh, ini bukan jalan ke rumah, memangnya kita mau kemana?" Tanya Venus dengan nada heran setelah beberapa menit Alex mengemudikan mobil, setahunya ini bukan jalan pulang ke rumah Samudera.


"Pak Sam memerintahkan kami membawa non Venus tinggal di apartemen." Jawab Alex ragu-ragu.


"Maksudnya? Samudera dan bayi kami sekarang juga tinggal di apartemen?" Venus masih berusaha berfikir positif. Mungkin Samudera sengaja mengungsikan dirinya dan bayinya tinggal di apartemen agar tidak dekat dengan ibunya.


Max dan Alex sempat saling melirik, namun memilih bungkam. Bukan kapasitas mereka untuk menjawab pertanyaan nona mereka itu.


Tidak mendapatkan jawaban, Venus mulai gelisah, tangannya terus meremas ujung jilbabnya. Perasaannya mulai tidak tenang.


Sesampainya di apartemen, Venus tidak mendapati siapapun di sana. Sunyi dan sepi, dimana Samudera? Dimana bayinya?


"Dimana Samudera? Dimana anakku?" Tanya Venus tidak sabar.


"Maaf non!" Alex menunduk menyesal. Begitu pun dengan Max yang tidak tega melihat nonanya itu.


"Apa maksudnya begini?" Suara Venus mulai bergetar dan air matanya sudah keluar membasahi pipinya.


Tidak ada jawaban, Venus langsung bergegas meninggalkan Apartemen mengabaikan rasa sakit dan tubuhnya yang masih lemas, ia harus menemui Samudera.


Alex dan Max mengejar, berusaha mencegah aksi Venus.


"Nona sembuh dulu, jangan memaksakan diri!" Ucap Max benar-benar tidak tega melihat kondisi Venus saat ini.


"Jangan menghalangi saya, Max!" Tatapan Venus nyalang, tekadnya sudah bulat, ia harus bertemu Samudera, juga bertemu anaknya.

__ADS_1


Max mengalah, memberi kode kepada Alex untuk mengantar Venus kembali ke rumah. Meski tidak sesuai perintah, tetapi melihat nona mereka seperti itu, rasa iba dan kasihan tidak bisa diabaikan.


Tuan mereka pasti akan sangat murka setelah ini, tapi sekian lama menjadi pengawal nona Venus, mereka sudah menganggap Venus seperti kakak mereka sendiri.


Air mata Venus tidak berhenti mengalir di sepanjang jalan menuju ke rumah Samudera. Hatinya sakit, seperti diremas-remas. Ia tidak habis fikir, kenapa Samudera memisahkan dirinya dengan bayinya.


Mereka tiba di sana sudah hampir maghrib, mobil yang biasa dipakai Samudera juga terparkir di tempat biasa. Berarti Samudera ada di rumah.


Venus tidak sabar dan segera mencari Samudera. Orang pertama yang ia temui di dalam rumah adalah bu Wati.


"Bu, Sam mana? Bayiku mana?" Tanya Venus menuntut dan tampak kacau.


Bu Wati tampak kaget melihat kondisi Venus yang terlihat kacau dan menangis.


"Ada non, ada di atas!" Jawabnya kemudian melirik Alex dan Max yang kompak menjawab dengan mengedikkan bahu.


Venus langsung bergegas menaiki tangga, ia sempat memegangi perutnya ketika baru menaiki lima anak tangga. Sempat meringis namun ia kuatkan dirinya dan kembali melangkah naik.


Ceklek...


Venus membuka pintu kamar Samudera dan mendapati Samudera sedang menggendong bayinya yang sedang menangis keras.


Venus mendekati mereka, saat tangannya hendak meraih bayinya, Samudera memutar tubuhnya, ia tidak memberi Venus ruang untuk menyentuh putrinya, Alea.


"Sam..." ucap Venus lirih, kembali air matanya mengalir deras.


"Biarkan aku menggendongnya, dia sepertinya haus." Ucapnya lagi dengan suara tercekik di leher.


Samudera tidak peduli dan masih berusaha memasukkan dot ke mulut baby Alea namun Alea menolaknya. Ia terus menangis kencang membuat yang mendengar pasti tidak tega mendengarnya.


"Sam.. please!" Venus menyentuh bahu Samudera meminta izin.


Samudera mendesah kasar tetapi pada akhirnya menyerahkan Alea ke dalam gendongan Venus. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya menenangkan Alea, sudah dua jam ia hanya terus menangis.

__ADS_1


Meski tangannya gemetaran, lututnya pun terasa semakin lemas, Venus menggendong anaknya penuh kehati-hatian. Ia menatapnya penuh sayang, menenangkannya dengan sentuhan-sentuhannya dan bisikan penuh cinta untuk sang buah hati.


Samudera menatapnya dengan perasaan tidak menentu. Seharusnya Venus menjalani masa hukumannya karena sudah nakal dan tidak penurut...


__ADS_2