A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 36


__ADS_3

Febby membawa Venus ke kamar Samudera yang sudah disulap menjadi kamar pengantin untuk mereka. Setelah serangkaian agenda menjamu tamu tadi, acara barulah diakhiri setelah adzan duhur berkumandang.


"Kak Venus cantik banget sih, pantes kak Sam ngebet banget halalinnya!" Seru Febby ketika mereka sudah duduk di sisi tempat tidur.


Venus mengabaikan komentar Febby yang terdengar seperti omong kosong di telinganya.


"Sini biar aku bantu!" Febby berinisiatif membantu Venus yang terlihat sibuk hendak melepas beberapa jarum pentul di jilbabnya.


"Tolong bantu lepas pengait bagian belakangnya saja. Nanti biar aku ganti di kamar mandi." Pinta Venus saat Febby ikut membantunya melepas gaun yang dikenakannya.


"Gak dilepas di sini saja kak? Ini sepertinya agak ribet di bagian belakang, banyak talinya."


Venus membenarkan ucapan Febby, ia pun merasakan keribetannya saat tim MUA memakaikan gaun itu tadi pagi. Entah siapa yang memilihnya. Namun meski demikian, ukurannya sangat pas di tubuhnya.


"Enggak papa Feb, yang penting semua kaitan talinya udah kamu buka semua."


"Nah.. udah!" Febby menepuk tangannya setelah berhasil membuka semua simpulan tali di gaun Venus.


"Thanks, aku mandi dulu, udah gerah, mau sholat dhuhur juga ini." Venus segera berlalu ke kamar mandi.


Febby hanya menggelengkan kepala melihat Venus yang seolah sudah tidak tahan lagi memakai gaun pengantinnya. Padahal Febby ingin mengingatkannya membawa pakaian ganti sekalian tetapi pintu kamar mandi sudah keburu ditutup.


Ceklek..


Pintu terbuka dan menampilkan Samudera yang masuk ke dalam kamar.


"Kamu masih di sini?" Tanya Sam melihat Febby berada di dalam kamarnya.


"Berhubung kakak sudah di sini, ini aku sudah siapkan baju ganti buat kak Venus. Tadi dia lupa bawa ke kamar mandi. Aku keluar dulu yah.. jangan kasar-kasar mainnya. Oke!!!" Ucap Febby menyeringai nakal kemudian segera beranjak keluar dari kamar sang pengantin.


"Anak kecil tau apa kamu!" Samudera hendak menyentil kepala Febby yang menggodanya namun Febby sudah keburu menutup pintu.


Tidak berselang lama, Venus keluar dari kamar mandi menggunakan kemeja milik Sam yang tampak kebesaran di tubuhnya. Dia tidak memiliki baju ganti di sini karena kamar yang ditempatinya bukan kamar yang sebelumnya.


Di dalam walk in closet yang menyatu dengan kamar mandi, yang ada hanya pakaian laki-laki yang ia tebak adalah milik Sam. Siapa lagi kalau bukan dia.


Venus melihat ada mukenah dan pakaian yang sepertinya itu untuknya tergeletak di atas tempat tidur, namun ia hanya meraih mukenah dan segera melaksanakan sholat dhuhur.

__ADS_1


Venus larut dalam doanya, melepaskan segala kegundahannya. Tubuhnya bergetar mengadukan semua perasaannya.


Tanpa sadar, ada sosok yang sedari tadi menatapnya dari arah balkon sana.


"Cihhh... munafik!" Samudera berdecih.


Mengapa di dunia ini banyak diisi oleh orang-orang munafik yang sok suci. Siang hari tampak begitu alim sementara di malam hari menjadi pendosa.


Venus merapikan alat sholatnya, mata dan hidungnya memerah karena terlalu banyak menangis sejak di kamar mandi tadi dan dilanjutkannya lagi saat sholat.


Bukannya tadi dia ingin bersikap tidak sopan dengan Febby yang begitu sabar membantunya, dia hanya sudah tidak tahan ingin melepaskan tangisannya namun ia enggan melakukannya di hadapan Febby. Biarlah lukanya dia tanggung sendiri, cukup dirinya yang tahu.


"Apa kamu ingin menggodaku?" Suara bariton itu menarik atensi Venus.


'Sejak kapan lelaki itu ada di sini?' Tanyanya di dalam hati.


"Ah, aku sampai hampir lupa. Kamu kan memang perempuan penggoda." Samudera mendekati Venus kemudian menarik pinggangnya membuat tubuh Venus menabrak dada Samudera.


Venus menggeleng. Tanpa bisa dicegah kembali air matanya menganak sungai. Mengapa Samudera selalu menuduhnya yang bukan-bukan?


"Kenapa menangis? Sakit hati? Bukankah kamu memang perempuan murahan? Katakan, sudah berapa banyak lelaki yang menyentuhmu di sini?" Satu tangan Sam meremas kuat satu bemper belakang Venus membuatnya meringis menahan sakit.


"Aku tidak seperti itu. Harus berapa kali aku katakan kalau aku tidak seperti yang kamu tuduhkan." Suara Venus bergetar menatap nanar ke dalam mata Samudera.


Samudera mengangkat satu tangannya membelai wajah Venus dan terakhir di bagian bibir yang sedari tadi menggoda Samudera.


"Maka buktikan!" Tantang Samudera.


"Kalau aku bisa membuktikannya, apa kamu mau melepaskan aku?" Venus merasa punya kesempatan melakukan penawaran di sini.


"Tidak!" Tegas Samudera membuat Venus patah semangat.


"Kenapa?" Tanya Venus putus asa.


"Karena sekali aku merusak sesuatu, aku tidak akan pernah membuangnya." Entah apa yang merasuki fikiran Sam saat ini. Egois bukan?


Tidak memberi waktu Venus mendebatnya, Samudera langsung mempertemukan bibir mereka dengan intens dan terburu-buru.

__ADS_1


Venus memukul-mukul dada Sam ketika ia merasa sudah hampir kehabisan oksigen.


"Bernafas, bodoh!"


Venus mendorong tubuh Samudera namun justru dirinya yang terpental ke belakang. Beruntung jatuhnya tepat di atas tempat tidur.


Cepat-cepat Venus bangkit dan memperbaiki posisi duduknya, setelah itu mengusap bibirnya seolah ingin menghilangkan jejak Samudera di sana.


Hal itu cukup mampu membuat hati Samudera kepanasan. Mengapa Venus tampak jijik dengan ciumannya yang notabene adalah suaminya sendiri.


Samudera merangkak naik ke tempat tidur membuat Venus memundurkan tubuhnya menjauh dari Samudera.


Kembali samudera menarik tubuh Venus agar mendekat dengannya. Kedua tangan Samudera meremas pinggang Venus cukup kencang. Venus menggeliat karena tidak nyaman dengan posisi mereka yang sangat dekat.


Dapat Samudera rasakan hembusan hangat nafas dari hidung dan bibir Venus yang menyapu wajahnya. Samudera menikmati bagaimana reaksi tubuh Venus yang begitu sensitif dengan sentuhannya. Rona pipinya memerah, Samudera bisa melihatnya dan merasakannya.


"Sepertinya kamu sudah tidak tahan lagi untuk aku sentuh." Senyum miring tampak di wajah Samudera seolah mencemooh Venus. "Katakan kepadaku, kamu ingin aku memulainya dari mana?" Lanjutnya lagi.


"Apa dari sini?" Tangannya menyentuh bibir Venus.


"Atau dari sini? Atau di sini?" Tanyanya lagi sambil menyentuh dua titik paling sensitif milik Venus secara bergantian.


Plak...


Lagi-lagi tangan Venus begitu ringan melayang di pipi Samudera.


"Aku istri kamu, bukan pelacurmu!" Pekik Venus merasa tidak terima dengan perlakuan Samudera pada tubuhnya.


Bukannya ingin menjadi istri durhaka. Tetapi bagaimana bisa ia diperlakukan seperti itu oleh laki-laki yang baru beberapa jam lalu menikahinya.


"Apakah kamu sudah memperlakukan aku layaknya suamimu sehingga kamu merasa harus aku perlakukan layaknya seorang istri?" Tanya Samudera sengit. Suaranya sama sekali tidak terdengar ramah di telinga membuat Venus bergidik di tempatnya.


Samudera mendorong tubuh Venus hingga tubuhnya terbaring sempurna di atas tempat tidur.


Tidak ingin terbawa emosi lebih lama lagi, Samudera memutuskan pergi meninggalkan Venus dengan bunyi dentuman pintu yang cukup membuat Venus tersadar.


'Apa aku sudah keterlaluan?' Batinnya.

__ADS_1


__ADS_2