A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 26


__ADS_3

Dengan kasar Sam melepaskan tangannya dari kerah bajuku, aku meringis menahan rasa sakit ketika bahuku membentur tempat tidur.


Aku terisak tanpa suara.


Sam berdiri dengan mengepalkan tangannya, ia berjalan ke depan jendela, menatap jauh dengan wajahnya yang tampak frustasi. Sesekali Sam mengusap kasar rambutnya. Entah apa yang mengganggu fikirannya saat ini.


Aku hanya bisa memandanginya lewat ekor mataku, tidak berani bertanya. Jangankan sekedar bertanya, mengeluarkan suara pun rasanya keberanianku sudah pupus.


Lama kami saling berdiam diri, posisi Sam masih tidak berpindah. Aku pun sama, masih terbaring meresapi kesedihan dan meratapi mimpiku yang sepertinya akan segera kandas.


Hatiku tiada berhenti meminta maaf kepada kedua orang tuaku. Mungkin ini adalah akhir dari awal perjuangan yang baru saja kumulai.


Aku pasrah, aku seperti daun yang gugur dari pohonnya, terombang-ambing terbawa angin kemana pun berhembus.


Tidak ada yang tahu, apa yang akan dilakukan Sam kepadaku setelah ini, apakah ia akan membunuhku, menyiksaku terus menerus atau ada keajaiban yang membisikkan ke dalam hati Sam agar melunak sehingga ia melepaskanku.


"


"


Aku terbangun saat merasakan pantulan cahaya menembus masuk dinding kaca rumah sakit yang cukup menyilaukan mata. Aku mengerjap-ngerjapkan mata berusaha menyesuaikan penglihatanku. Rupanya aku tertidur. Kurasakan tubuhku terasa lebih ringan, rasa sakit pada lengan dan bahuku tidak lagi terasa menyiksa.


Fikiranku mulai tersambung pada saat terakhir aku belum tidur. Aku melirik ke arah sofa, kulihat Sam tertidur dengan posisi duduk, satu lengannya bersandar di dahinya.


Aku fikir dia sudah pergi. Aku menghela nafas panjang, entah kata-kata apa lagi yang akan terlontar dari mulut kasarnya nanti setelah dia bangun.


Kulirik jam d dinding, sudah pukul lima lewat 10 menit. Kutarik tubuhku agar bisa duduk dengan baik, kakiku kuturunkan perlahan dari tempat tidur. Aku ingin ke kamar mandi, waktu sebentar lagi masuk maghrib. Sholat asar sendiri tadinya sudah kujamak saat sholat dhuhur.


Ternyata lenganku masih sedikit terasa sakit saat kuangkat hendak meraih botol infus. Mau tidak mau, aku harus menahannya. Belum lagi saat berjalan ke kamar mandi, posisi satu tanganku tetap harus terangkat ke atas agar tidak membuat darah masuk ke selang infus.


Baru tiga langkah menuju kamar mandi, tiba-tiba sebuah tangan meraih botol infus dari tanganku. Aku sedikit menggeser tubuhku ketika menyadari itu adalah Samudera. Jujur, aku masih takut berada di dekatnya, apalagi melihat tatapannya. Tatapannya itu selalu seperti ingin mengulitiku dan penuh kebencian.

__ADS_1


"Kalau butuh bantuan, bilang!" Ketusnya kemudian mendorong tubuhku yang memaku sejak tadi.


"A..aku bisa melakukannya sendiri." Ucapku pelan.


Tapi itu tidak membuat Sam berhenti mendorong pundakku dengan telapak tangannya berjalan masuk ke kamar mandi.


Sam memposisikan botol infus di tiang kemudian berjalan keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi namun segera kembali membawa satu set pakaian tidur lengkap dengan pakaian dalamnya, warna hitam. Wajahku terasa memanas melihat pakaian itu. Semoga dia tidak melihat perubahan wajahku.


Sam kembali keluar. Setelah pintu tertutup, segera kuselesaikan semua keperluanku dan terakhir berwudhu. Beruntung Febby mau mengalah saat diriku kekeh ingin memakai jilbab rumahan sehabis sholat dhuhur tadi, kalau tidak, lagi-lagi Samudera akan melihat rambutku. Padahal sejak aku mulai baligh, aku sudah tidak pernah lagi menampakkan rambutku atau sebagian tubuhku selain wajah, tangan dan kaki.


Bunda Aisyah sangat menjagaku dan cukup ketat kalau sudah mengenai urusan berpakaian. Meskipun aku masih suka memakai celana, bukan rok longgar dan jilbab lebar, tetapi aku memang sudah tidak nyaman jika ada yang tidak sengaja melihatku tanpa jilbab atau pun saat memakai pakaian rumah.


Tok tok..


"Sudah selesai belum?" Tanya Sam dari balik pintu.


Aku yang memang sudah selesai dari beberapa detik yang lalu akhirnya membuka suara. "Iya, sudah."


Sam lebih duluan berjalan di depanku. Tetapi bukannya menuju tempat tidur, dia malah membawaku ke arah sofa.


"A..aku mau sholat!" Ucapku saat Sam menggantung kembali botol infusnya, dia memang sudah niat membawaku ke sofa karena tiang infus sudah dia pindahkan ke situ.


Sam tidak menjawab tapi tetap melangkahkan kakinya mengambil alat sholatku di atas nakas.


"Mau sholat berdiri, duduk apa berbaring?" Tanyanya masih dengan datar dan tatapan dinginnya.


"Duduk di sini saja!" Jawabku singkat, lututku memang masih terasa sakit saat ditekuk. Kebetulan sofanya memang posisinya menghadap ke kiblat, menghadap ke arah matahari yang sinarnya sudah mulai meredup.


Jujur saja, aku merasa cukup terharu diperlakukan seperti ini oleh Sam. Ternyata dia masih memiliki sisi kemanusiaan.


Setelah sholat, kusempatkan untuk berzikir dan berdoa. Saat diriku masih khusyu' meluapkan semua doa-doa yang menghimpit di dalam hati, menengadahkan kedua tanganku meminta sepenuh hati, tiba-tiba Sam mengiterupsi.

__ADS_1


"Doanya tidak usah terlalu panjang, apalagi meminta kepada Tuhanmu agar kamu aku bebaskan, gak akan terkabul, lagian yang berdoa itu banyak, bukan cuma kamu."


Aku mengabaikan kata-katanya yang tidak masuk akal itu, memangnya dia fikir Tuhan itu sekecil apa hingga tidak sempat mendengar semua doa-doa hamba-Nya?


Mungkin karena dia tidak pernah berada pada posisi dimana hanya tersisa doa yang dimilikinya.


Mungkin karena dia tidak tahu bahwa doa-doa itu seperti mengayuh sepeda, suatu saat pasti akan membawa pada tujuan yang ingin dituju.


Seperti aku saat ini, hanya doalah senjata utamaku, tidak ada yang lain.


Sam mengambil alat sholat yang sudah kulipat rapi dia simpan kembali ke atas nakas, setelah itu mengambil tempat duduk di salah satu sofa yang posisinya di sisi kiriku. Aku memainkan kancing baju tidurku, aku seperti terdakwa yang sedang menunggu jatuh vonis.


"Aku kira kamu akan malu bertemu Tuhanmu setelah melakukan tindakan tidak terpuji, mencuri!" Ucapnya menekankan kata mencuri di ujung kalimatnya.


"Kalau aku tidak sholat, apa yang akan menghapus dosa-dosaku sebelumnya? Kalau aku tidak sholat, maka dosa-dosaku yang akan menghapus pahala sholatku. Jadi kenapa aku harus malu?"


"Apa kamu yakin sholatmu itu akan menghapus dosa-dosamu yang sudah tidak terhingga itu?" Tanyanya mengejek.


"Kalau aku tidak yakin aku tidak akan melakukannya." Jawabku tegas. Meski rasa takutku kepadanya sangat besar, tapi aku berusaha menutupinya, seperti suaraku yang sebenarnya sudah bergetar setiap kali menjawab. Beruntung air mataku kali ini masih bisa diajak berkompromi.


"Hebat sekali, mungkin itu yang biasa disebut, siang beragama, tetapi saat malam agamanya disimpan di bawah bantal." Ucapnya sinis, "jadi sudah berapa banyak laki-laki yang kamu puaskan saat agamamu kamu simpan?"


Lagi-lagi pertanyaan itu? Apa aku tampak seperti perempuan murahan?


Kenapa dia selalu menuduhku tanpa alasan yang jelas? Sekedar pacaran saja tidak pernah, jalan bergandengan tangan dengan lawan jenis saja tidak pernah, bagaimana mungkin aku memberikan tubuhku kepada laki-laki yang tidak halal bagiku?


Aku akui aku memang masih jauh dari kata sempurna, tetapi bukan berarti aku tidak tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik.


"Aku baik atau tidak, aku seperti yang kamu tuduhkan atau tidak, tidak ada untungnya bagiku menjelaskannya, karena yang benci tetap tidak akan percaya." Jawabku membuang muka.


Ekspresi wajahnya saat ini benar-benar sangat menjengkelkan.

__ADS_1


__ADS_2