
Venus kembali ke kamar namun tidak menemukan Samudera di sana, ia sudah memeriksa kamar mandi dan balkon, tetapi tetap tidak menemukan dia dimana-mana.
Sebenarnya, Venus tidak ingin peduli dengan apapun yang terjadi diantara Samudera dengan ibunya, itu sama sekali bukan urusannya, tetapi satu sisi kemanusiaannya mengkhawatirkan perasaan suaminya itu.
Venus menyambar cardigan yang selalu tergantung di stand hanger dekat pintu kamar, ia ingin memeriksa keberadaan Samudera. Mungkin ia sedang bersama Alex dan Max di depan, fikirnya.
Venus menembus gerimis, tetapi saat tiba di sana, Venus malah tidak menemukan siapa-siapa di sana. Venus melangkah kecewa kembali masuk rumah.
"Non Ve cari bapak?" Tanya bu Wati saat mereka bertemu di lorong masuk kamar seolah mengerti keinginan Venus.
"Ah, iya bu. Ibu lihat gak?" tanya Venus lesu.
"Kalau bertengkar sama nyonya, biasanya bapak suka menyendiri di atas." Tangan bu Wati mengarahkan telunjuknya ke atas lebih condong ke belakang kepalanya.
Venus akhirnya mengerti maksud bu Wati, di atas ada rooftop yang dilengkapi dengan ruang baca. Ia pernah ke atas, tetapi tidak berani menyentuh buku-buku yang tersusun rapi di sana. Belum lagi pemandangannya yang sangat menenangkan.
Tanpa berfikir panjang, Venus berlari kecil menaiki anak tangga untuk menuju rooftop.
Venus mengedarkan pandangannya, mencoba mencari sosok Samudera di sana. Ruang baca yang keseluruhannya berdinding kaca transparan itu terlihat sunyi. Venus mengalihkan pandangannya ke gazebo depan ruang baca, langkahnya berjalan pelan mendekat ke sana, benar saja di sana sudah ada Samudera yang menyandarkan tubuhnya dengan kaki selonjoran di kursi santai sambil membaca.
Inilah Samudera, tidak di kantor tidak di rumah, kembali kita disuguhkan dengan roof garden yang memesona di lantai paling atas rumahnya ini.
Suasana begitu syahdu dengan sedikit sisa gerimis tipis-tipis yang masih turun.
Indera penciuman Venus begitu jelas membaui aroma daunt mint yang menyegarkan. Ia memejamkan mata, merentangkan tangan, menengadah ke atas merasai jejak gerimis di wajahnya kemudian menghirup udara banyak-banyak memenuhi rongga dadanya.
Sepertinya suasananya akan sempurna jika disuguhkan teh panas dengan irisan lemon dan tambahan beberapa lembar daunt mint di dalamnya. Setidaknya itulah salah satu hal yang ada di dalam pikiran Venus saat ini.
Tanpa mengeluarkan suara, atau bertindak berlebihan yang bisa membuat Samudera terganggu dengan kehadirannya, Venus ikut duduk di kursi yang kosong di sisi Samudera. Ia menyandarkan punggungnya kemudian memanjangkan kakinya mengikuti kontur kursi tersebut.
Venus menatap ke langit luas yang hitam pekat. Tampak masih ada sisa air hujan di atas atap gazebo transparan yang Venus bisa pastikan bahwa bahan atap tersebut bukan terbuat dari kaca, tetapi dari polikarbonat yang lebih kuat dibanding kaca bahkan dari akrilik sekalipun.
__ADS_1
"Kamu tau enggak? Salah satu kesenangan terbaik di dalam hidup ini adalah membaca di dalam keheningan yang sempurna." Suara pelan Samudera memecah suasana setelah sekian menit tidak ada percakapan diantara mereka.
Venus menoleh memandang Samudera yang juga sedang memandangnya. Ia kemudian duduk menghadap Samudera.
"Aku minta maaf kalau ternyata aku mengganggu kesenangan kamu." Ucap Venus menyesal. Ia kemudian bangkit dan hendak kembali ke kamar.
Seketika tangan Samudera mencekal tangan Venus. "Aku tidak pernah bilang kalau kamu mengganggu."
Langkah Venus tertahan dan tangannya yang sudah terangkat sedikit ingin menghempas cekalan Samudera kini terdiam.
"Duduklah." Ucap Samudera lembut menarik Venus ikut duduk bersamanya. Samudera sedikit menggeser tubuhnya agar Venus punya space.
Venus pun ikut berbaring dengan lengan Samudera sebagai bantal kepalanya.
"Kenapa ke sini? Bukannya tidur?" Tanya Samudera setelah meletakkan buku yang tadi bacanya. Tangannya yang sudah bebas itu ia pakai mengusap tangan Venus yang ada di atas perutnya.
"Aku mengkhawatirkan kamu." Samudera seperti tidak percaya dengan ucapan Venus, ia sedikit mengangkat kepalanya agar bisa melihat wajah Venus, mencoba mencari kebohongan di sana.
"Aku tidak sebodoh itu." Samudera menyentil hidung Venus membuatnya mengadu kesakitan padahal Samudera hanya menyentuhnya sedikit.
"Enggak usah lebay." Samudera malah menggosok seluruh permukaan wajah Venus dengan telapak tangannya membuat Venus protes.
"Isshhh... apaa sih? Gak asyik tau digituin." Venus balas mencubit perut Samudera.
"Aawwww..." Keluh Samudera.
"Makanya, jangan usil kalau enggak mau diusilin balik." Venus mengerucutkan bibirnya melihat Samudera yang mengadu kesakitan karena cubitannya. Padahal pelan.
Cepat-cepat Samudera memiringkin tubuhnya menghadap Venus lalu memeluknya erat-erat hingga kedua tangan Venus terkunci di bawah ketiak Samudera.
Awalnya Venus berusaha melepaskan tangannya, tetapi menyadari bahwa itu hanya buang-buang energi, Venus pun melemaskan otot-ototnya menerima kuncian Samudera.
__ADS_1
"Maaf kalau tadi ucapan ibu ada yang membuat kamu tersinggung." Pinta Samudera tulus.
Venus menarik tangannya naik menyentuh jidat Samudera. "Kamu enggak lagi sakit kan?"
"Maksudnya?" Samudera tidak mengerti.
"Seorang Samudera Biru yang terkenal kejam, dingin dan arrogant ternyata bisa juga meminta maaf. Haruskah aku sujud syukur sekarang juga?"
Samudera memutar kedua bola matanya, "nyesel aku meminta maaf kalau akhirnya cerita begini."
"Eitsss... jangan gitu, tadi niat dan perbuatannya udah dicatat sama malaikat loh, kok mau dihapus lagi? Aku kan hanya heran saja, ternyata kamu bisa juga meminta maaf. Padahal kalau dihitung-hitung, jari tangan aku ini udah enggak cukup buat hitung hutang permintaan maaf kamu ke aku. Ibu kamu hebat yah? Dia bisa membuat kamu seperti manusia pada umumnya."
"Memangnya kemarin-kemarin aku bukan manusia?" Tanya Samudera tidak senang.
"Menurut kamu?"
"Aku hanya jahat sama kamu saja." Balas Samudera.
Venus tersenyum kecut, ada yang perasaan sakit yang seketika menjalari hatinya.
"Untuk itu, tidak usah meminta maaf atas nama ibu kamu. Lagian aku benar-benar tidak peduli dengan apapun yang dikatakannya. Toh keinginan ibu kamu hanyalah agar kamu menceraikan aku. Bukankah itu lebih baik untuk aku?"
Rahang Samudera mengeras mendengar penuturan Venus. Ia tidak suka mendengar kata cerai keluar dari mulut Venus.
"Sekali lagi aku tegaskan, tidak akan ada perceraian di antara kita."
"Kalau aku selingkuh?" Tantang Venus.
Mulut Samudera mangatup, tatapannya tajam menghunus masuk ke netra Venus. Tangannya menyingkirkan anak rambut yang ada di wajah putih Venus.
"Aku pastikan akan membun*h selingkuhan kamu itu dengan tanganku sendiri." Jawab Samudera penuh penekanan.
__ADS_1
Samudera kemudian menyatukan bibirnya dengan Venus, "kamu milikku, selamanya kamu milikku." Bisik Samudera di tengah aktivitas ciuman mereka yang semakin panas dan membara.