
Aku berjalan cepat masuk ke dalam ruanganku sambil memegang dadaku. Masih bisa kurasakan detakan jantungku masih sama kencangnya dari sejak kedapatan Sam di ruangannya. Nafasku menderu bersahutan. Aku takut ketahuan, ini baru hari kedua bagiku. Tatapan Sam tadi jelas seperti sedang curiga kepada diriku.
Muthia menyusulku masuk ke dalam ruangan, aku memang tidak membalas sapaannya tadi. Sepertinya dia penasaran.
"Darimana? Aku nyariin kamu sampai toilet tapi gak nemu." Tanyanya penasaran memasang wajah keingin tahuannya yang tingkatannya kalah tinggi gedung kantor ini.
"Dari ruangan pak Sam." Jawabku jujur. Aku tidak mungkin menutupinya karena cepat atau lambat pasti dia akan menyadarinya bahkan dalam beberapa waktu ke depan bisa jadi seisi kantor ini akan tahu kalau aku sekarang merangkap sebagai pembuat kopi untuk Sam.
"Untuk?" Tanyanya heran. Muthia memicingkan matanya menatapku.
"Kamu masih ingatkan waktu kita ke ruangannya kemarin?"
"Iya." Muthia mengangguk.
"Aku telat 10 detik dan itu menjadi masalah."
"What? Yang benar aja, bukannya kita ke atas lebih awal yah?" Tanyanya berusaha mengingat.
"Nah, itu. Tapi menurut pak Sam aku terlambat dan mulai hari ini aku sedang memulai melaksanakan hukuman darinya... jadi pembuat kopi!" Jawabku jujur.
Namun aku tidak ingin menceritakan kejadiannya yang sebenarnya. Cukup aku saja yang tahu karena itu memalukan dan menjijikkan.
"Wow!" Katanya speechless.
"Kok wow? Bukannya prihatin?" Aku tidak habis fikir dengan reaksi Muthia yang malah tertakjub mendapatkan pengakuanku.
"Kamu beruntung banget, Ve. Orang-orang pada antri sampai kepala mau botak mikirin cara biar bisa masuk ke ruangan pak Sam, lah dirimu malah dihukum jadi gadis pembuat kopi. Itu mah sengsara membawa nikmat, Ve." Katanya antusias.
"Ampuuuun deh, mba Muth. Sumpah, gak ada tuh nikmat-nikmatnya ketemu sama pak Sam. Yang ada bikin hancur moodku aja." Keluhku kesal.
"Kurang bersyukur banget kamu Ve. Yaa Allah.. rezeki kok dibilang gak ada nikmatnya." Muthia sepertinya masih tidak habis fikir dengan jalan fikiranku.
"Memang susah yah ngasih tau kelelawar kalau matahari pagi itu lebih sehat dibanding angin malam." Aku berdecak takjub melihat mba Muthia yang sebegitu meng-agung-agungkan pak Sam.
__ADS_1
Oke, fisikly..pak Sam memang tampan, 9.9 dari 10 hampir gak ada cacat kalau melihat fisik. Tapi akhlaknya, beuggghhh.. minus parah.
"Maksud kamu aku kelelawar?"
Aku tidak bisa menahan tawa melihat wajah mba Muthia yang sebal kepadaku.
"Itu hanya perumpamaan mbaku yang cantik sayang imut dan baik hati." Aku gemes sendiri jadinya.
"Mba sih terlalu memuja pak Sam seolah-olah gak ada celanya. Padahal bisa jadi kan dia suka ngupil trus upilnya dilepeh." Ucapku terkekeh, aku ngeri sendiri membayangkan ada cowok tampan yang ternyata suka ngupil.
"Manusiawi, Ve!" Ucapnya penuh pembelaan.
Memang enak yah jadi orang good looking, meskipun apa yang mereka lakukan itu salah, meskipun menjijikkan, terkadang kelakuan mereka itu terampuni dan termaklumi. Seolah-olah, orang tampan dan cantik itu tidak mungkin jahat, tidak mungkin melakukan hal-hal aneh, padahal sifat mah tergantung pribadi masing-masing, bukan karena tampang.
"Iya..iya.. udah ah, ini masih pagi. Kok kita malah sibuk ngebahas pak bos?" Ucapku mengakhiri pembahasan tentang pak Sam.
"Ya udah, kamu siap-siap yah. 1 jam lagi akan ada meeting antar kepala departemen biar kamu sekalian perkenalan dan setelah itu kita keliling kantor."
"
"
Aku dan mba Muthia memasuki ruangan meeting yang sudah diisi oleh beberapa orang. Kami memang sengaja datang lebih awal agar tidak menjadi pusat perhatian, keaannya.. sudah orang baru, telat pula.
Kami mengambil tempat duduk sesuai dengan plang nama yang sudah tertera di atas meja panjang yang membentang sepanjang 6 meter dan membentuk seperti huruf O.
Tidak lama kemudian, segerombolan orang juga memasuki ruangan meeting.
Perhatianku sedikit tersita melihat salah satu dari mereka adalah laki-laki yang menyebut namanya Bintang pagi tadi. Tidak ingin ketahuan Bintang, aku pun segera mengalihkan pandanganku pada layar laptop yang ada di hadapanku.
Sebelum rapat dimulai, pak Sam dan asistennya Robby juga ikut bergabung dan mengambil posisi duduknya. Sialnya, posisi kami saling berhadap-hadapan saat ini.
Setelah 2 orang kepala departemen lainnya memaparkan bahan meeting miliknya tibalah waktunya bagiku untuk ikut memberi pemaparan. Jujur saja, aku cukup tegang dan sedikit gugup. Apalagi semenjak tadi mata Samudera seolah terus mengawasiku. Entah aku yang kepedean atau bagaimana. Masalahnya lagi, Bintang pun sepertinya juga tidak melepaskan pandangannya dari wajahku.
__ADS_1
Saat giliranku selesai dan dilanjutkan oleh kepada departemen lain, aku pura-pura menguap. Aku ingin tahu, apa hanya perasaanku saja atau memang betul Samudera dan Bintang terus memperhatikan aku.
Gotcha...
Samudera dan Bintang pun menguap hampir bersamaan, hal itu justru membuat orang-orang di ruangan meeting menguap berjamaah. Aku jadi merasa bersalah.
Tidak lama terdengar suara ponsel berdering, terlihat Robby mengangkat telponnya setelah itu menunduk dan berbisik kepada Samudera. Mendengar itu, Samudera langsung bergegas pamit meninggalkan meeting. Entah ada kabar apa, tapi sepertinya penting.
Akhirnya meeting pun selesai. Sebagai orang baru, aku pun berinisiatif menyapa terlebih dahulu setiap kepala departemen yang hadir di sini.
Dan orang terakhir yang belum kusapa adalah Bintang.
"Sepertinya pepatah yang mengatakan bahwa dunia tidak selebar daun kelor terpatahkan hari ini. Ketemu lagi, ibu Venus." Ucap Bintang menyapaku dengan wajah ramahnya sambil menjulurkan tangan kanannya.
"Ah iya. Kita ketemu lagi, ternyata satu kantor." Jawabku membenarkan.
"Mau makan siang bareng gak?"
Aku dan Muthia saling pandang karena langsung dapat todongan ajakan makan siang bareng.
"Yah..hitung-hitung sebagai tanda perkenalan kita. Kemarin dan tadi pagi kita belum kenalan dengan baik." Imbuhnya lagi.
Mba Muthia sudah mau membuka mulut hendak menjawab namun segera kujawab.
"Maaf pak, tapi saya bawa bekal." Sedikit merasa tidak enak sebenarnya, tapi aku memang bawa bekal. Sayang makanannya dibuang hanya karena ingin menjaga perasaan orang lain.
"Oh.." Ucapnya sedikit kecewa. "Mungkin lain kali aja kalo gitu." Ucapnya mencairkan suasana.
"Iya pak, maaf yah. Kami permisi."
Aku menarik tangan mba Muthia agar segera meninggalkan ruangan meeting tersebut. Entah kenapa aku sudah tidak terlalu tertarik berbasa-basi dengan Bintang. Menurutku dia terlalu agresif. Belum apa-apa sudah ngajakin makan siang. Mungkin aku yang terlalu kepedean. Tapi lebih baik mencegah daripada mengobati.
Aku punya misi penting di sini. Tidak ada waktu untuk bermain-main, apalagi bermain perasaan. Bisa-bisa aku yang tenggelam sebelum pandai berenang.
__ADS_1