
"Eh.. pak! Ini kok kita sepertinya udah lama banget di jalan, bandaranya masih jauh yah???"
Venus mulai merasa tidak tenang, jalanan yang dilaluinya sangat asing. Tangannya mulai mencari ponselnya yang sedari tadi ia simpan dalam keaadaan tidak aktif di dalam tas tangannya.
"Oh iya mbak, ini sudah dekat kok!" Jawab sang drivernya santai. "Memangnya jam berapa terbangnya mba?"
Tangan Venus sedikit gemetaran menekan tombol power di ponselnya. Ponsel yang ia beli sendiri karena merasa tidak layak menerima ponsel termahal pemberian Samudera kepadanya.
"Oh.. itu jam 10 pagi pak," matanya melirik jam yang tertera di layar ponselnya. Keningnya berkerut karena waktu malah sudah menunjukkan lewat jam sembilan.
"Ini sudah telat pak, bisa diburu enggak pak?"
Meski suara Venus masih tenang, tetapi hatinya sudah menangis memanggil nama Samudera. Dirinya sadar kalau sekarang dia berada di dalam masalah.
"Iya, mbak bisa." Tatapan mereka saling bertemu di kaca spion. Venus semakin yakin setelah menatap sorot mata itu.
"Pak, boleh singgah di Circle-K terdekat enggak? Saya mau beli kopi dulu." Venus berusaha mencari akal agar bisa turun dari mobil tanpa harus melompat atau mencekik leher sang driver dari belakang.
Tidak ada jawaban, mobil hanya terus melaju dengan kecepatan yang mulai meninggi dan memasuki jalanan yang seperti berbukit.
"Pak, tolong turunkan saya!" Gemetar suara Venus menggelegar mengeluarkan perintah.
Kepanikan melingkupi Venus saat ini, hatinya terus memanjatkan doa keselamatan dan perlindungan. Penyesalan menghinggapi kesadarannya. Rasanya ingin menangis saja dan berteriak menyebut nama Samudera.
Jika boleh berharap keajaiban, Venus benar-benar berharap ada keajaiban dimana Samudera tiba-tiba muncul sebagai pahlawan untuk menolongnya.
Beribu maaf diucapkan Venus di dalam hatinya, seharusnya ia pergi dengan cara baik-baik. Bukannya kabur seperti ini, akibatnya posisinya sekarang tidak aman.
"Sam... hiks..hiks.." Pekik Venus tercekat di lehernya.
__ADS_1
"Pak, berhenti atau saya melompat turun!" Ancam Venus setelah mengumpulkan keberaniannya.
"Maaf mbak!"
Tiba-tiba sebuah tangan membekap mulut Venus dengan sapu tangan dari belakang yang membuat Venus seketika menegang hingga tidak berapa lama kesadarannya menghilang. Gelap!
---
---
Saat ini, Muthia bak seorang pesakitan yang diperlakukan tidak adil tanpa tahu apa kesalahannya.
Dirinya dikurung di ruangan kerja Robby di kantor setelah dianggap tidak kooperatif. Pagi tadi, ketika baru sampai lobby kantor, dirinya langsung diseret secara paksa ke ruangan Robby oleh pihak keamanan kantor.
Muthia berjingkak dan langsung mengarahkan pandangannya ke pintu ketika terdengar suara kunci pintu terbuka dari luar.
"Pak Robby... saya--"
Ia bisa melihat ketegangan dan ketakutan yang melebur menjadi satu di wajah Muthia.
Robby menunduk, tangannya ikut memegang kedua sisi kursi yang diduduki Muthia dan menumpukan sebagian bobot tubuhnya di sana.
"Apa kamu yakin tidak tahu kemana perginya nona Venus?" Tanyanya dingin dengan sorot mata yang tajam.
Muthia menahan napasnya, wajah Robby terlalu dekat di matanya. Ia menarik tubuhnya ke belakang namun terhalang sandaran kursi, wajahnya ia palingkan ke kiri, enggan menatap mata tajam bak elang itu.
"Bernafas bodoh!" Tegur Robby yang gemas melihat wajah tegang Muthia.
"Haaaa..." Muthia menghembuskan nafasnya dengan dada naik turun, wajahnya terasa panas seketika karena malu.
__ADS_1
"Sa-saya benar-benar tidak tau, pak. Venus tidak seterbuka itu kepada saya, bapak salah faham. Memang kami cukup dekat, di Jakarta dia memang tidak punya teman yang cukup dekat selain saya tetapi Venus orangnya sangat tertutup, pak." Ucap Muthia setelah menemukan keberaniannya kembali. Ia sendiri bingung kenapa dirinya diinterogasi dengan cara seperti ini.
"Kamu yakin dia tidak punya kenalan selain orang kantor atau yang lain mungkin?" Tanya Robby lagi, sedikit menarik tubuhnya agar berdiri tegak dan menjulang di hadapan Muthia.
"Yakin, pak. Venus enggak punya teman selain anak-anak di bagian perencanaan. Apalagi setelah menikah dengan pak Sam, dia sama sekali sudah tidak tertarik mengenal orang lain." Jawab Muthia penuh penekanan. Muthia heran, mengapa harus dirinya yang menjadi tersangka utama atas hilangnya Venus, padahal setelah Venus melahirkan Alea, dirinya sudah sangat jarang berkomunikasi dengannya karena Venus tidak pernah lagi datang ke kantor. Ketemu pun baru tiga kali, itu pun Muthia yang mendatangi di rumah Samudera.
Robby mengelus rambut tipis yang memenuhi rahang kokohnya, berusaha mencerna perkataan Muthia.
"Kapan terakhir kalian komunikasi?" Tanyanya penuh selidik.
Muthia yang ditanya tampak berfikir berusaha mengingat, "kalau tidak salah tiga atau empat hari yang lalu kami bertukar pesan, pak. Tapi tidak ada yang penting yang kami bicarakan, terakhir dia tanya apa pak Sam masih di kantor atau tidak, trus saya bilang iya, udah.. itu aja."
"Ponsel kamu mana?" Tangan Robby terulur meminta ponsel Muthia.
Muthia menarik dirinya agar sedikit miring merapat ke kursi, ia menyembunyikan ponselnya yang ada di saku belakang celananya. Bagi Muthia, ponsel itu adalah barang yang sangat privasi, semacam aurat bagi perempuan jadi tidak boleh sembarang lelaki yang menyentuhnya apalagi membukanya.
"Siniin atau saya ambil sendiri!" Tegas Robby mulai tidak sabar.
"Memangnya bapak mau apain ponsel saya? Ini privasi loh, pak." Tolak Muthia masih enggan memberikan ponselnya. Mampuslah dirinya jika sampai Robby membaca isi chat-nya bersama Venus selama ini, secara salah satu tema utama di dalam histori chat mereka adalah laki-laki kaku satu ini.
"Kenapa? Kamu takut?" Mata Robby memicing. "Saya tidak peduli koleksi-koleksi gambar atau video mesum yang ada di dalam ponsel kamu itu, saya hanya mau tau apa saja yang kalian bicarakan selama ini."
"Woohooo..." Muthia tertakjub-takjub membulatkan bibirnya. Ia benar-benar tidak menyangka sedangkal itu isi kepala laki-laki kaku yang selama ini dikenalnya sebagai bayangan dari pimpinan perusahaan tempatnya bekerja.
"Maaf yah.. bapak Robby yang terhormat! Saya bukan perawan tua yang senang menyalurkan hasrat dengan hal-hal menjijikkan seperti yang anda tuduhkan." Imbuhnya semakin frontal kemudian memicingkan mata menatap lamat-lamat wajah dingin yang ada di hadapannya.
"Jangan-jangan ponsel bapak yang isinya koleksi b*kep semua, laki-laki mah kebanyakan begitu, apalagi--" Muthia sengaja menggantung kalimatnya.
"Apa?" Meski hatinya panas dituduh yang tidak-tidak oleh Muthia tapi ia juga penasaran dengan apa yang selanjutnya ingin dikatakan Muthia tentangnya. Baru kali ini ada yang berani mengatainya di depan mukanya. Kembali tubuhnya menunduk semakin rapat mengungkung Muthia.
__ADS_1
Muthia tersenyum miring, serupa senyum meremehkan. "Apalagi bapak kan bujang lapuk kesepian yang tidak punya teman wanita, lagian mana ada perempuan normal yang mau dekat-dekat sama bapak, yang ada kabur semua!" Ucapnya dengan nada ringan tepat di telinga Robby.