
Pukul tiga dini hari, Samudera membangunkan Venus dari mimpi indahnya. Samudera harus segera ke Bandara mengejar penerbangan pagi ke kota Makassar agar bisa mengejar penerbangan pertama ke daerah tempat salah satu perusahaan tambang nikelnya berada.
Samudera sudah selesai siap-siap saat membangunkan Venus.
"Ve... Venus.. bangun dulu!" Samudera berlutut di sisi tempat tidur Venus menepuk lembut pipinya.
"Hmmmm..." Venus masih tidak membuka matanya.
"Bangun, Ve. Aku mau pamit!"
"Eummm...?" Akhirnya Venus membuka matanya. Ia meluruskan tangannya ke atas dengan dada membusung, menarik semua kesadarannya.
"Mau kemana?" Tanya Venus sedikit kaget melihat penampilan Samudera yang sudah rapi pagi-pagi buta seperti ini.
"Aku ada urusan penting di Makassar, aku harus berangkat sekarang, kamu baik-baik yah di rumah. Enggak usah ngantor dulu."
Venus menggeleng, " tapi aku bosan di rumah terus. Aku tetap ngantor yah, please! Aku janji enggak akan macam-macam selama kamu tinggal." Mohonnya memelas.
Samudera mendesah berat, terlihat pasrah dan tidak bisa menolak.
"Thanks, Sam." Venus memeluk Samudera kegirangan.
"Ya udah, aku pergi dulu!" Samudera beranjak setelah mencium kening Venus.
Buru-buru Venus mengambil jilbab dan cardigannya ingin mengantarkan Samudera sampai mobil.
Samudera kembali memeluk dan memberi beberapa kecupan di wajah Venus saat ia hendak masuk ke dalam mobil.
"Jangan lupa rindukan aku." Perintah Samudera tanpa melepas pelukannya. Entah kenapa ia merasa sedikit berat meninggalkan Venus kali ini.
Venus tersenyum manis, "kita lihat saja nanti, apa kamu type cowok ngangenin apa enggak."
Satu sudut bibir Samudera tertarik ke atas, "jangan nangis kalau rindu sama aku karena aku tidak akan ada buat memeluk kamu di sini sampai kamu tertidur dengan nyaman di dalam pelukanku."
__ADS_1
Blush...
Venus merona malu. Karena tempat ternyaman yang pernah didapatkannya ternyata adalah dari lelaki yang dibencinya ini.
"Udah.. sana, nanti telat." Venus melepas pelukan mereka sedikit mendorong dada Samudera agar segera naik ke mobil.
Jujur, kali ini belum ditinggal saja Venus sudah merasa ada yang hilang dari sisi hatinya. Venus pun belum bisa mendefenisikan perasaannya itu. Sebulan bersama dalam ikatan pernikahan membawa pengalaman baru bagi mereka. Ada kalanya terluka tetapi luka itu selalu bisa sembuh dengan cepatnya. Perhatian dan kehangatan Samudera serupa telaga di gersangnya hati Venus.
"
"
Pagi yang santai bagi Venus, tidak ada suaminya yang harus dia bangunkan dari tidurnya, tidak ada suami yang harus disiapkan pakaiannya dan tidak ada suami yang mesti dibuatkan sarapan.
Venus tidak begitu tahu, apakah normalnya kehidupan berumah tangga itu sebagaimana yang ia lalui bersama Samudera.
Venus tidak punya pengalaman dalam keluarga yang lengkap, kedua orang tuanya meninggal saat dirinya masih kecil sementara bunda Aisyah yang merawatnya adalah seorang janda yang memutuskan tidak akan menikah lagi seumur hidupnya.
Berapa lama sih kecantikan fisik bisa bertahan? Berapa lama hati seorang lelaki bisa diikat hanya dengan keindahan fisik? Bukankah tidak ada yang abadi di dunia ini?
Kecantikan hanyalah kulit luar saja, pada akhirnya akan hilang ditelan usia. Mungkin suatu saat akan tumbuh cinta di hati Samudera kepadanya, tetapi bukankah kecantikan saja tidak akan mampu mempertahankan cinta?
Venus melenggang turun langsung menuju dapur, tampak mba Aida sedang menyajikan bubur sumsum.
"Waahhhh... ini pasti enak nih mbak?" Senyum cerah terpancar di wajah ayu Venus. Senyumnya bagai serunai sinar matahari pagi. Cerah dan ceria.
"Kalau bu Wati yang bikin, dua jempol dah, non. Top markotop!" Mba Aida memamerkan gigi-gigi putihnya sembari mengangkat kedua jempolnya.
Venus menarik kursi lalu duduk mengambil satu porsi bubur sumsum untuknya.
"Ini makanan kesukaan ibu Jeny, biasanya kalau lagi di Jakarta, beliau suka meminta bu Wati membuatkannya kemudian dikirim ke rumahnya." Informasi yang baru diketahui Venus itu membuat dirinya menganggukkan kepala. Rupanya bubur sumsum ini dibuat khusus untuk ibu mertuanya itu.
"Kamu ini enggak sopan banget yah, orang tua belum makan sudah mau pergi aja." Bu Jeny menegur Venus yang hendak meninggalkan ruang makan ketika dirinya baru datang.
__ADS_1
"Maaf, bu!" Venus sedikit membungkukkan tubuhnya meminta maaf. "Ini saya mau ke kantor, bu. Takutnya telat."
Ibu Jeny berdecak geleng-geleng kepala. "Heran aku, bisa-bisa Samudera menikahi perempuan seperti kamu ini. Sudahlah keluarganya tidak jelas, tidak sopan pula."
Venus membuang kasar nafasnya ke udara. Apa ia harus membangkitkan kedua orang tuanya dari kubur agar keluarganya tidak dikatai tidak jelas?
Venus akhirnya kembali duduk di kursinya, ia jadi penasaran, apalah maunya ibu Samudera ini.
Tidak ada percakapan diantara mereka, perempuan yang melahirkan Samudera itu tampak begitu menikmati sarapannya.
Venus mulai merasa jengah namun memilih diam di tempatnya.
Seorang perempuan muda datang menghampiri mereka dengan map merah di tangannya. Perempuan tersebut menunduk patuh menyerahkan map tersebut kemudian mengundurkan diri meninggalkan kami.
"Ini cek untuk kamu! Tinggalkan Samudera!"
Sebuah cek dilemparkan ke hadapan Venus membuat Venus tersenyum kecut ketika melihat angka yang tertera di atasnya.
"Apa yang Samudera sudah beri masih jauh lebih banyak dari ini jika ibu belum tau! Jangankan uang, bahkan nyawanya pun bisa aku minta." Venus bereaksi tidak kalah angkuh dibanding perempuan tua itu.
Ibu Jeny terkesiap mendengar penuturan menantunya itu. Apa sudah sedalam itu pengaruhnya kepada Samudera?
"Kamu terlalu sombong, Samudera tidak pernah serius menjalin hubungan dengan perempuan manapun. Kapanpun kamu bisa dicampakkan!" Tegasnya berapi-api.
"Dan saya menunggu kapan waktu itu tiba. Saya pun sangat ingin lepas dari anak ibu, jadi tolonglah saya, tolonglah memintanya melepaskan saya!"
"Apakah kamu mencintai putraku?" Tanyanya lagi dengan sorot tak terbaca.
"Menurut ibu, apakah saya akan mencintai laki-laki yang tidak membutuhkan cinta di dalam hidupnya? Cintakah saya atau tidak, bukan masalah besar bagi Samudera karena yang penting baginya adalah memberi makan egonya dengan terus menahan saya di sisinya." Suara Venus bergetar menumpahkan semua perasaannya, bukan karena merasa lega, tetapi karena menyadari posisinya yang bukanlah siapa-siapa bagi Samudera. Tiba-tiba matanya menghangat, ada yang mendesak ingin tumpah di sana. Dadanya terasa berat dan sakit mencekik lehernya. Mengapa jadi sesakit ini?
Perempuan paruh baya itu menatap lekat wajah gadis itu. Ia bisa merasakan luka yang terpancar dari netranya yang sendu.
Namun satu hal yang tidak bisa ia tepiskan, wajah itu telah berhasil mengganggu ketenangannya, seperti ada yang tidak beres di sini.
__ADS_1