A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 63


__ADS_3

Hari ini Venus memilih ke kantor dan berangkat lebih duluan daripada suaminya itu. Ia kesal dan masih malas melihat muka menjengkelkan suaminya.


Bagaimana tidak, Venus merasa tidak terima karena Samudera lebih terlihat membela ibunya dibanding dirinya. Sebenarnya, Venus juga tidak butuh dibela, ia hanya butuh dipercaya. Setidaknya, jika memang Samudera tidak ingin menyakiti ibunya, maka jaga jugalah perasaannya. Jangan hanya satu pihak yang yang dijaga perasaannya sementara yang lain diabaikan.


Selama ini Venus sudah berusaha bersabar dan diam saja dengan tingkah menjengkelkan ibu mertuanya itu. Toh, ibu mertuanya tidak juga bermain fisik dengannya, atau memarahinya dengan kata-kata kasar.


Tetapi yang Venus tidak sukai, Ibu mertuanya itu sering berbicara yang tidak benar tentang dirinya kepada Samudera.


Ibu mertuanya sendiri yang menolak disuapi Venus, tapi ngomongnya ke Samudera Venus membuang makanannya.


Ibu mertuanya yang tidak mau makan, bilangnya Venus melarang orang di rumah kasi dia makanan.


Ibu mertuanya yang maunya pakai daster lusuh, katanya Venus yang tidak mau memberinya baju bagus.


Awalnya, Venus tidak peduli dan tidak mau ambil pusing tentang fakta yang diputar balik itu. Tetapi entah kenapa lama-kelamaan Samudera seolah membenarkan ucapan ibunya itu.


Kenapa Venus merasa seperti itu? Karena Samudera mulai sering memintanya untuk menuruti saja apa yang dikatakan ibunya. Diminta lebih bersabar dan lebih memaklumi lagi. Maksudnya bagaimana coba?


Kurang sabar dan kurang memaklumi dari mananya lagi Venus kepada ibu mertuanya? Katanya orang tua memang begitu, terkadang kekanak-kanakkan.


Iya, Venus ngerti. Tetapi ibunya Samudera kan belum masuk usia renta, belum masuk ke usian rentan pikun juga. Memang mungkin karena sakitnya makanya beliau frustasi dan melampiaskannya kepada Venus, oke..Venus terima, tapi kalau Samudera sudah ikut-ikutan mengusik ketenangannya, Venus tidak terima. Lama-lama ia merasa ketenangan dan kebahagiaan semakin jauh saja.


Padahal bagi Venus, ketenangan dan kedamaian jiwanya jauh lebih penting daripada memaksa dirinya dengan keras berusaha mengerti mengapa hal demikian terjadi.


Sesampainya di kantor, Venus langsung menuju ruangannya. Iya, Venus sudah mempunyai ruangan sendiri setelah berbagai cara Venus lakukan untuk membujuk Samudera.


Bukan hanya karena ingin punya privasi saja, Venus juga tidak nyaman membawa teman-temannya masuk ke ruangan Samudera. Bagaimanapun Samudera adalah pimpinan perusahaan ini, tidak mungkin staff yang tidak berkepentingan dibolehkan berlalu lalang di ruangannya.


Ada marwah dan jarak yang harus dijaga, bukan untuk merasa lebih tinggi sementara yang lain direndahkan, tetapi memang ada hal-hal yang harus ditempatkan pada tempat yang seharusnya.


Profesionalitas itu harus terus ditumbuhkan dan dijaga, dan semua itu akan seimbang jika ada sedikit rasa segan dan sungkan kepada atasan.


Zaman sekarang, dimana moral dan agama dianggap ranah privasi yang terserah gue mau menafsirkannya bagaimana, ditafsirkan sesuai kapasitas otak, bukan sesuai kapasitas keilmuan dan referensi-referensi dari orang-orang yang ahli di dalamnya.

__ADS_1


Zaman dimana orang-orang lebih suka mengolok-olok mereka yang dianggap sudah mengambil kavling surga dibanding mereka yang membayar DP neraka di tempat-tempat perzinahan, judi dan tempat meminum minuman keras.


-----


Hal pertama yang dilakukan  Venus saat tiba di kantor adalah menyalakan komputer di meja kerjanya. Ruangan pribadinya yang bersisian dengan Samudera tidak seluas ruangan suaminya itu. Bukan masalah bagi Venus, yang terpenting dia bisa tenang bekerja di sini.


Tidak sengaja Venus menemukan sebuah amplop yang terselip di bawah keyboard. Seingatnya kemarin amplop itu belum ada di sana.


Sedikit ragu, namun Venus penasaran untuk membukanya. Tidak ada tulisan di sana, hanya amplop polos namun jelas ada isinya.


Venus merobek bagian atasnya, mengambil kertas yang ada di dalamnya.


Kening Venus berkerut demi membaca tulisan yang ada di dalamnya.


TEMUI AKU BESOK PAGI TEPAT PUKUL 09.00 DI BASEMENT KANTOR!!! INI ADA HUBUNGAN DENGAN KECELAKAAN ORANG TUAMU.


-B-


"Inisial B, siapa yah?" Venus masih berusaha menduga-duga.


Seketika mata Venus melebar, otaknya mengingat satu nama dan kemungkinan besar Venus tidak salah menduga.


"Bintang!"


Venus berjalan mondar mandir memikirkan langkah berikutnya. Bagaimanapun ia tidak begitu mengenal Bintang, agak susah percaya begitu saja kepadanya. Tetapi memikirkan opsi inisial B lainnya, rasanya hanya satu orang saja, Bintang.


Tetapi jika mengabaikannya, jangan sampai Venus akan menyesalinya. Mungkin inilah jalan yang ditunjukkan kepadanya untuk mengurai benang merah peristiwa kecelakaan orang tuanya melalui Bintang.


"Siapa Bintang? Kenapa dia tau asal-usulku?"


Beribu bertanyaan memenuhi kepala Venus. Ia sangat penasaran.


Di tengah pikirannya yang sedang kalut, Samudera menerobos masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


Venus terkejut, secepat kilat ia meremas kertas tadi yang masih dipegangnya kemudian ia jatuhkan ke dalam laci yang kebetulan sedikit terbuka, dengan gerakan pelan pinggangnya mendorong pelan laci tersebut agar tertutup kembali. Beruntung Samudera tidak begitu memperhatikan gerakannya.


"Kenapa tidak menunggu aku? Kamu marah?" Tanya Samudera langsung ke intinya. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras.


Venus menelan salivanya, satu tangannya bergerak memainkan ujung jilbabnya karena gugup dan takut. Ia tahu suaminya sedang marah kepadanya.


"Aku.. aku hanya lelah, kalau mau membahas masalah ibu lagi, tolong jangan sekarang!" Jawab Venus lemah, matanya menunduk memandangi ujung sepatunya, ia tidak berani memandang wajah Samudera.


Samudera mengikis jarak diantara mereka, kedua tangannya ia letakkan di atas pundak Venus.


"Aku hanya ingin kamu bisa memahami keadaan ibu saat ini dan bagaimana posisiku. Jangan mempersulit keadaan dengan bertindak kekanak-kanakan seperti ini."


Kepala Venus terangkat menatap dalam ke netra suaminya. Matanya menghangat. Tidak ingin memperpanjang perdebatan mereka yang tidak ada ujungnya yang pada akhirnya tetap saja yang benar adalah Samudera.


"Maafkan aku!" Ucap Venus lirih, ia tidak tahu mengapa harus meminta maaf, tetapi hanya itu yang diperintahkan oleh otaknya kepada lidahnya.


Samudera mengusap pipi kiri Venus yang dialiri satu tetes air mata di sana.


"Jadilah istri penurut, jangan jadi pembangkang. Aku tidak suka itu. Semarah apapun dirimu kepadaku, jangan pergi tanpa pamit kepadaku. Ada anakku di dalam sini," tangan Samudera mengelus lembut perut Venus.


"Aku tidak ingin sesuatu terjadi kepadanya, jaga dia dengan baik meski itu dengan nyawamu." Tegas Samudera kemudian beranjak pergi meninggalkan Venus.


Blam..


Suara pintu tertutup dengan keras.


Tubuh Venus meluruh ke lantai, ia menangis pilu menekan dadanya. Mengapa begitu sakit?


Inilah yang ditakutkan Venus selama ini, di saat dirinya mulai lancang memasukkan Samudera ke dalam hatinya, ternyata di saat itu ia tahu bahwa hatinya terlalu kecil untuk dimasuki oleh seorang Samudera yang terlalu besar bagi orang sepertinya.


Venus mengusap perutnya, "kamu beruntung sayang, daddy-mu sangat menyayangimu. Tumbuhlah sehat dan bantu mommy untuk menjadi perempuan kuat karena hadirmu adalah tambahan penguat mommy."


Venus mengusap pipi dan hidungnya, ia tidak ingin menangis lagi. Ia harus bahagia.

__ADS_1


__ADS_2