
Ting..
Sebuah pesan masuk ke dalam poselku saat aku sedang menikmati sarapan pagiku. Aku sangat menyukai menu western untuk sarapan, lebih ringan dibanding nasi dan lebih mudah menyiapkannya.
"Aku mau kopiku sudah siap sebelum jam 7 pagi."
Aku mengangkat kedua alisku menatap layar ponselku. Pesan dari nomor yang tidak kukenal tapi sudah berhasil membuatku kesal pagi-pagi.
"Siapa? Anda salah nomor!" Balasku cepat setelah membaca pesan yang masuk melalui aplikasi hijau di ponselku.
Ting...
"Berani kamu melupakan hukuman kamu yah? Sebagai hukuman tambahan, bawakan aku sarapan sandwich double cheese and meat."
Oh.. aku sekarang mulai faham. Siapa lagi kalau bukan kerjaan si ubur-ubur itu, makhluk hidup yang bisa bertahan hidup hingga ratusan tahun tanpa otak.
Haa... Bukankah itu adalah kabar baik bagi manusia-manusia yang tidak punya otak? Tetaplah hidup meskipun tidak berguna.
Aku tidak lagi membalas pesan si ubur-ubur. Kebetulan sekali aku memang membuat beberapa sandwich untuk sarapan pagi ini, selain untuk sarapan, ada juga untuk bekal dan sekalian jatah buat mba Muthia.
Tunggu dulu.. apa dia tahu kalau aku sedang sarapan sandwich saat ini? Kalau tahu, darimana dia tahu? Apa dia memasang kamera tersembunyi di sini? Wah.. ini tidak bisa dibiarkan.
Segera kutekan tombol panggil di ponselku ke nomor Samudera.
"Hallo, apa permintaanku belum jelas?" Tanyanya lansung dengan nada ketus.
"Kenapa bapak minta dibuatkan sandwich pagi ini? Bapak memata-matai saya? Dimana kamera tersembunyinya bapak simpan?" Cecarku tidak peduli dengan pertanyaannya tadi. Aku akan benar-benar membuat perhitungan dengannya jika tuduhanku ini benar.
"Maksud kamu?"
"Darimana bapak tau kalau saya sedang sarapan sandwich pagi ini?"
Masih pura-pura tidak mengerti, memang dasar ubur-ubur tidak ada akhlak.
__ADS_1
"Mana saya tau? Memangnya saya cenayang yang bisa melihat apa yang kamu makan pagi ini dan warna apa segitiga pengaman dan kacamata bulat kamu. Oh, aku tebak, warna pasti hitam bukan?"
"Yaaakkk.. Kenapa bapak bisa tau?" Tanyaku tidak terima karena aku memang memakai dalaman warna hitam saat ini. Masalahnya semua dalaman milikku berwarna hitam. Aku tidak suka memiliki dalaman berwarna warni. Sudah cukup hidupku yang berwarna-warni, dalamanku jangan. Aku tidak mau dipusingkan dengan urusan memadu padankan warna dalaman. Seolah tidak ada hal besar saja yang pantas difikirkan.
"Oh.. jadi benar kamu pakai dalaman warna hitam. Wow..tebakanku benar, apa kamu mau tau tebakanku berapa ukuran kacamata bulat kamu yang kecil itu?" Tanyanya semakin ngelantur namun mampu membuat wajahku memerah karena malu.
Segera saja kutekan tombol merah memutus sambungan telpon dengannya. Dasar mesum!
Bagaimana bisa tebakannya bisa benar semua?
Aku meremas kepalaku karena masih merasa malu karena ketahuan oleh Samudera. Kenapa juga aku begitu bodoh terjebak dengan permainan katanya tadi? Ketahuan kan?
"Dasar ubur-ubur mesum!" Umpatku padanya.
Tidak banyak waktu yang tersisa untuk segera berangkat ke kantor. Meskipun jaraknya dekat tapi karena tugas negara memanggil, jadi pilihannya harus berangkat lebih awal.
Setelah beberapa hari ini tidak lagi bertemu dengan mas Bintang, baik di kantor maupun di sekitaran apartemen, akhirnya pagi ini kami kembali bertemu di dalam lift.
Tidak ada percakapan selama di dalam lift karena memang hanya butuh beberapa detik saja untuk sampai di basement. Apalagi tidak ada lagi yang menumpang lift sepanjang turun ke bawah.
Aku sendiri sudah terbiasa dengan kehadiran mas Bintang. Tidak mungkin juga terus menghindar atau bersikap cuek kepadanya karena kenyatannya kami pasti akan sering ketemu. Makanya aku sudah terbiasa memanggilnya mas dan diapun tidak lagi menggunakan embel-embel ibu di namaku saat di luar kantor.
"Mau bareng?" Tanya mas Bintang setelah kami meninggalkan lift.
"Makasih, mas. Aku bawa mobil sendiri." Jawabku menolak.
Mas Bintang melambai-lambaikan kedua tangannya dengan cepat. "Bukan, maksud aku.. aku boleh gak bareng kamu ke kantor? Belum sempat ambil sepeda di bengkel sementara motorku bannya kempes.
"Ooo... gitu... ayok!" Sebenarnya aku tidak nyaman sama mas Bintang, tapi kalau ditodong seperti ini rasanya tidak etis menolak. Aku tidak punya alasan kuat untuk menolak.
"Siniin kuncinya biar aku yang nyetir."
Aku pun melemparkan kunci mobilku kepadanya kemudian berjalan ke arah sisi pintu penumpang.
__ADS_1
"Pagi banget berangkatnya? Dikejar deadline yah?" Tanya mas Bintang setelah mobil mulai dilajukan.
"Ah, nggak juga mas. Suka aja berangkat lebih pagi, jalanan masih sedikit lengang, udaranya juga masih sedikit aman dari polusi."
"Iya benar juga."
"Sejak kapan mas Bintang sepedaan ke kantor? Keren loh.. hemat bahan bakar, dapat sehatnya juga dan yang terpenting tidak menjadi bagian dari penyumbang tertinggi dari polusi udara di kota ini." Tanyaku kemudian setelah beberapa saat membalas pesan yang masuk ke aplikasi hijau di ponselku.
"Udah lumayan juga, hampir tiga tahun kalau gak salah. Kenapa? Tertarik sepedaan juga." Tanyanya antusias.
"Lumayan tertarik sih, mas. Tapi mikirin lagi gimana mandinya di kantor, belum ganti pakaiannya. Ribet sih kalau untuk perempuan." Jawabku memikirkan semua kerepotan yang akan kuhadapi jika memilih bersepeda ke tempat kerja.
"Iya juga sih, ribet memang. Apalagi kalau rambutnya nanti basah karena keringat, gerah juga yah buat kalian yang memakai hijab." Ucapnya membenarkan.
"Belum lagi mikirin pakaian yang kusut kalau disimpan di dalam tas punggung, beda sama laki-laki, lebih simple, pakaiannya juga gak ribet." Ucapku menambahkan apa yang kira-kira terjadi berikutnya jika tetap memilih bersepeda.
Akhirnya kami pun sampai di kantor, tampak parkiran masih sedikit sepi. Bagaimana tidak, ini masih lebih 30 menit sebelum masuk jam kerja.
Mas Bintang menyerahkan kunci mobilku kembali setelah kami sama-sama sudah turun dari mobil.
"Bawaan kamu banyak juga." Tunjuknya pada totebag yang menggantung di lengan kiriku.
"Oh, ini aku bawa bekal." Ucapku yang membuat keningnya berkerut menatapku.
"Buat sekalian lembur yah?"
"Enggak juga, ini sekalian buat mba Muthia."
"Oh, kirain buat aku." Ucapnya membuat aku merasa tidak enak sendiri. Mungkin kesannya aku pelit. Tapi aku benar-benar tidak berniat membagi masakan buatanku untuk orang yang tidak cukup dekat denganku.
Mas Bintang pun pamit duluan keluar dari lift karena dia bekerja di lantai 2 sementara aku di lantai 3. Dan tujuanku saat ini adalah lantai 4 tempat dimana ubur-ubur berada.
Semoga saja dia belum datang jadi aku tidak perlu bertemu sepagi ini dengannya.
__ADS_1