A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 8 Emosi


__ADS_3

"Siapa yang izinkan kamu meninggalkan ruangan ini?" Samudera menggeram kasar melihat Venus seolah mengabaikan bahkan seperti menantang dirinya.


Tidak ada satupun yang pernah berani mengabaikan dirinya. Tidak ada yang pernah meninggalkannya selagi ia belum mengakhiri.


Namun Venus sudah kadung emosi, ketika prinsip hidup yang dia pegang teguh diusik dan diremehkan, rasa-rasanya Venus tidak bisa memberinya toleransi. Lupakan misinya bekerja di sini. Prinsipnya lebih penting di atas segalanya dibanding misinya itu.


"Saya tidak tau apa agama anda atau apa ras dan suku anda, tapi gelaran manusia gurun sungguh sangat rasis di telinga saya. Mulai hari ini, detik ini juga saya mengundurkan diri." Ucap tegas Venus dengab suara bergetar.


Seketika gelak tawa Samudera memenuhi segala ruang. Kemudian diikuti tepuk tangan yang nyaring hingga perlahan-lahan suara tepukannya menghilang.


"Ternyata emosi anda jauh lebih besar dibanding otak anda." Sarkas Samudera meremehkan. Ia menarik sedikit sudut bibirnya melihat reaksi Venus yang menurutny sangat reaktif menanggapi sentilannya.


"Terserah.." Venus sudah sangat malas meladeni Samudera. Ternyata dia memang sangat angkuh dan minus akhlak.


"Apa anda tidak membaca kontraknya baik-baik?" Kembali Samudera meremehkan ketidaktelitian Venus. Tepatnya menertawakan dalam hati karena Samudera telah mengganti isi kontraknya tanpa sepengetahuan Venus. Itu hal mudah baginya.


"Apa maksud anda?" Venus tidak mengerti maksud Samudera, dia ingat betul isi surat kontrak yang telah ditandatanganinya.


"Baca!" Samudera melemparkan sebuah amplop coklat besar ke arah Venus.


Venus sigap menangkapnya dan langsung membuka amplop tersebut. Setelah 1 menit lebih membacanya, kedua alis Venus berkerut. Ia merasa tidak pernah menandatangi kontrak kerja yang berisi banyak point yang sangat merugikan dirinya.


"Apa-apaan ini?" Kini justru Venus yang melempar balik lembaran kontrak kerja tersebut.


"Saya tidak pernah merasa menandatanganinya, ini salah, pasti ada kesalahpahaman di sini." Venus merasa kebingungan, saat menandatangi kontrak di hadapan pak Hasan, semua point rasa-rasanya normal-normal saja dan cenderung semua menguntungkan dirinya. Kenapa sekarang berbeda. Apa ada hal yang dilewatkannya?


"Apa anda sudah amnesia sehingga tidak mengenali tanda tangan anda sendiri?"


Venus mengepalkan kedua tangannya, sungguh ia ingin membalas kata-kata Sam tadi tapi demi kebaikannya sendiri dia harus meredam semuanya. Venus berfikir keras, jelas di surat kontrak itu ada tanda tangannya.

__ADS_1


"Jadi apa mau anda?"


"Mau saya? Bukankah anda tadi mengatakan ingin mengundurkan diri?" Tanya Sam dengan seringai devil di wajahnya. Ia merasa menang karena Venus tamlak pasrah tidak bisa mengelak.


Venus menghela nafas kasar, mana mungkin dia mengundurkan diri jika konsekuensinya harus membayar 2 Milyar rupiah. Uang darimana?


Melihat kebingungan dan wajah pasrah Venus, Samudera kembali membuka suara.


"Kenapa? Tidak punya uang sebanyak itu? Tapi saya punya penawaran jika anda memang ingin segera mengundurkan diri." Samudera bisa membaca keraguan Venus.


Venus melemparkan tatapan ragu kepada Samudera, dia curiga dengan pilihan yang akan dilontarkan Sam kepadanya.


"Jadilah penghangat ranjangku dan dendanya saya nyatakan-


Plak


Samudera memegang pipinya yang tiba-tiba terasa panas dan perih.


Samudera melambaikan tangannya kepada Robby agar tidak ikut campur dan meninggalkan mereka berdua sekarang juga.


Samudera mengelus bagian pipinya yang tadi terkena tamparan Venus. Itu bukan apa-apa bagi Samudera, rasa tamparannya hanya seperti lalat yang hinggap di kulit sucinya.


"Saya bukan perempuan murahan tuan Samudera Biru yang terhormat. Anda sudah dua kali merendahkan harkat dan martabat saya sebagai seorang perempuan dan juga sebagai seorang perempuan muslimah. Saya sudah meminta maaf karena sudah membuang waktu anda yang sangat berharga itu tapi anda malah menghina pakaian saya dan sekarang anda ingin saya menjual diri kepada anda. Mengapa anda tidak memberi saya hukuman lain jika saya memang bersalah? Mengapa anda lebih memilih menginjak-injak harga diri saya?" Tidak terasa air mata Venus sudah mengaliri pipinya.


Samudera yang awalnya hanya ingin bermain-main dengan menggertak Venus malah tidak menyangka kalau akan seperti ini. Samudera fikir semua perempuan di dunia ini sama saja, melihat pria tampan dan mapan seperti dirinya akan sangat mudah baginya membawa Venus ke atas ranjang panasnya. Tetapi rupanya Venus menolak keras dan malah membuat drama yang melibatkan air mata.


"Jangan cengeng!" Hardik Samudera.


"Sebagai hukuman kamu, mulai besok kamu yang bertanggung jawab membuatkan kopiĀ  untuk saya setiap pagi dan setelah jam istirahat. Sekarang kamu kembali ke ruanganmu, saya sudah tidak berselera membahas urusan pekerjaan dengan kamu saat ini."

__ADS_1


Venus hanya merutuki dirinya yang terlihat lemah dan cengeng di hadapan Samudera.


"Ingat... Jangan sisakan air mata dan ingus kamu saat keluar dari ruangan ini!" Venus menerima kotak tissue yang disodorkan Samudera kepadanya.


Sialnya, air mata dan ingus Venus malah tambah membanjiri wajahnya, seperti tak bisa dibendung.


"Maaf... pipi bapak, sa..saya minta maaf!"


Demi apapun di dunia ini, Samudera harus menahan gejolak di tubuhnya demi mendengar suara Venus yang terdengar sangat manja ditelinganya.


Suara itu menggodanya, suara yang seperti meminta untuk dilindungi, disayangi.


Samudera sudah merasa hampir gila. Ia tidak pernah sebegitu peduli dengan air mata perempuan. Bukankah salah satu kegemarannya adalah mematahkan hati perempuan? Mengapa ia harus peduli pada air mata Venus?


Masalahnya, bukannya berhenti, sekarang air mata Venus berubah menjadi tangis sesegukan.


Tak sabar menyaksikan sesegukan Venus, Samudera berdiri dari tempat duduknya, berjalan mengitari meja kemudian menarik paksa tangan Venus menuju sebuah ruangan yang membuat bulu kuduk Venus meremang. Semua fikiran buruk bermunculan di kepalanya.


"Bapak mau apakan saya?" Venus berusaha melepas cengkeraman tangan Samudera di tangannya.


"Masuk!" Samudera mendorong tubuh Venus ke dalam toilet yang ada di dalam kamar pribadi Samudera.


"Nangis saja sepuasnya di situ kalau masih mau, tapi jangan di ruangan saya. Kalau ada yang lihat nanti mereka fikir saya apa-apain kamu. Saya tidak mau orang-orang berfikir yang tidak-tidak tentang saya!"


Brak...


Samudera pun menutup dengan keras pintu kamar mandi itu. Dia sudah tidak tahan melihat Venus yang terus-terusan menangis seperti anak kecil yang kehilangan boneka kesayangannya.


"Jangan pernah keluar dari situ sampai jejak-jejak air mata kamu menghilang dari wajah jelekmu itu!"

__ADS_1


Samudera masih menyempatkan diri meneriaki Venus dari luar kamar mandi karena masih tidak habis fikir melihat kelakuan Venus tadi. Ia pun akhirnya meninggalkan ruangan kerjanya untuk menghadiri meeting di conference room.


__ADS_2