A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 46


__ADS_3

"Ada apa kalian ribut-ribut?" Tanya Samudera heran saat menuju mobil yang sudah terparkir menunggunya di depan rumah.


"Ini tuan bosss, non Venus ngotot mau berangkat duluan ke kantor." Jawab Alex takut-takut melihat tampang Samudera yang kembali ke mode datar dan dingin.


Tatapan Samudera beralih ke Venus yang tampak melototi Alex. Venus tidak senang melihat Alex mengadukan dirinya.


"Masuk!" Perintah Samudera sambil menunjuk pintu mobilnya yang sudah terbuka dengan gerakan wajahnya.


Venus menghentakkan kaki dan meremas tas tangannya tetapi munurut juga masuk ke dalam mobil kemudian disusul Samudera yang duduk di sisinya. Venus menggeser tubuhnya lebih dekat ke pintu mobil agar sedikit ada jarak dengan Samudera.


"Pak, nanti turunkan saya di halte terdekat yah!" Pinta Venus kepada supir yang mengemudikan mobil sesaat setelah meninggalkan rumah.


"Langsung ke kantor aja, pak!" Timpal Samudera.


"Sam, aku tidak mau ada yang lihat kita berangkat sama-sama seperti ini. Apa kata orang-orang di kantor nanti?" Ucap Venus kesal.


"Bilang saja kalau kita sudah menikah, simple kan?" Jawab Samudera enteng tanpa mengalihlan pandangannya dari macbook yang ada di atas pangkuannya.


Venus mengubah posisi duduknya sedikit miring menghadap Samudera. "Simple katamu? Gak sesimple itu, Sam! Aku belum lagi nyiapin jawaban karena sudah menghilang tiba-tiba selama tiga minggu dan sekarang mau bikin alasan apa lagi datang-datang langsung ngaku sudah jadi istri kamu." Kekesalan Venus serasa sudah diubun-ubun sementara Samudera santai saja tanpa beban.


"Kenyataannya kan memang kamu tidak masuk kantor karena urusan pernikahan kita.."


"Tapi kata orang-orang nanti, Sam?"


"Kenapa kamu harus peduli apa kata orang-orang sih? Ini hidup hidup kita, kita yang jalani, ngapain mikirin apa kata orang lain?" Samudera menyardarkan kepalanya ke belakang kemudian memejamkan matanya, malas berdebat dengan Venus.


"Hidup tidak sesederhana itu, Sam." Venus ikut menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, kedua tangannya dilipat di dada. "Kita ini makhluk sosial, kita tidak tinggal di hutan sehingga bisa merasa bebas begitu saja, kita memang tidak bisa mengontrol pendapat orang lain kepada kita tetapi kita bisa mengontrol sikap dan tingkah laku kita sehingga tidak menimbulkan fitnah." Venus berusaha menjelaskan maksud dan alasannya agar Samudera mau mengerti.


"Kita sudah menikah, fitnah apa lagi yang kamu takutkan?" Tanya Samudera tidak mengerti dengan jalan fikiran Venus.

__ADS_1


"Aku ini siapa, Sam? Aku ini hanya perempuan yang datang dari antah berantah kemudian tiba-tiba menjadi istri kamu. Orang-orang pasti berfikir kalau aku sudah menggoda kamu dan mungkin sudah hamil duluan makanya kamu nikahi aku. Kamu enggak tau sih kejamnya mulut orang-orang di luaran sana." Venus tampak frustasi memikirkan semuanya.


Samudera menghela nafas panjang, "itu hanya perasaan kamu saja. Kamu tenang saja, tidak akan ada yang berani menyakiti kamu. Hanya aku yang boleh menyakiti kamu, ingat itu baik-baik di otak kecilmu itu." Ucap Samudera sambil menyentil kepala depan Venus.


Tidak ada lagi yang bisa dikatakan Venus untuk membantah. Terserah Samudera saja, maha benar Samudera dengan segala keegoisannya.


Samudera keluar dari mobil disusul oleh Venus setelah Robby membukakan pintu untuk mereka berdua.


Keduanya berjalan bergandengan tangan masuk ke gedung perusahaan. Venus sangat tidak nyaman, beberapa kali mencoba menarik tangannya namun Samudera tidak mau melepasnya.


Semua pegawai yang menyadari kedatangan mereka menyambut dengan sedikit membungkuk dan senyuman manis.


Venus terus menundukkan wajahnya dan hanya memperhatikan sekitar dengan ekor matanya. Ia bersyukur di dalam hati, ternyata apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Tidak ada bisik-bisik ghibahan receh dan juga tidak ada tatapan merendahkan dari orang-orang kantor yang ditemuinya.


"Angkat wajah kamu, kamu itu istri pemilik dan pemimpin tertinggi di perusahaan ini, jangan bikin aku malu." Tegas Samudera di telinga Venus ketika langkah mereka sudah dekat pintu lift.


'Istri apaan? Istri rasa pelac*r gitu maksudnya?' Batin Venus ngedumel sendiri.


"Kamu ikut ke ruanganku."


"Ruangan aku di lantai tiga, bukan di ruangan kamu." Tolak Venus.


"Maaf bu, sudah ada kepala perencanaan baru yang menggantikan posisi ibu." Giliran Robby yang angkat bicara, ia merasa bertanggung jawab menyampaikan berita tersebut karena semuanya dia yang mengatur.


Ting..


Lift sempat berhenti namun Robby segera bertindak dan lift pun kembali berjalan naik.


Ting..

__ADS_1


"Enggak bisa gitu dong, Sam." Venus berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Samudera yang panjang-panjang sehingga membuatnya berlari kecil mengejarnya.


Samudera tidak peduli dengan penolakan Venus dan terus melangkah menuju ruangannya. Robby sudah lebih duluan membuka pintu untuk Samudera sementara Venus masih mengekori Samudera seperti anak ayam yang mengekori induknya.


"Sam..." panggil Venus geram namun Samudera tetap cuek bebek.


Samudera duduk di kursi berputarnya kemudian melonggarkan sedikit dasinya. Berbeda dengan Venus yang menghempaskan tas tangannya di atas meja kerja Samudera kemudian berdiri di dekat Samudera sambil melipat kedua tangannya di dada. Terlihat jelas bahwa Venus sedang menahan emosinya saat ini.


Robby sendiri langsung undur diri setelah pasangan suami istri yang seperti tom and jerry itu sudah masuk ke dalam ruangan.


"Kamu enggak bisa seenaknya gitu sama aku. Aku di sini bekerja sesuai dengan kontrak. Kamu enggak bisa mengubahnya begitu saja tanpa sepengetahuan aku." Protes keras dilayangkan Venus atas ketidakadilan yang didapatkannya. Ia merasa Samudera sebagai seorang pemimpin sudah bertindak melampaui batas.


"Berisik!"


"Sam... uummmpppt!" Samudera sudah sangat kesal melihat Venus yang terus meracau sejak tadi. Ia pun menarik lengan Venus hingga tertarik dan terjatuh di pangkuannya.


Tidak memberi Venus waktu untuk melayangkan protesnya lagi, Samudera langsung membungkam mulut Venus yang sudah sedari tadi menggodanya.


Samudera baru melepas ciumannya setelah tubuh Venus melemah tidak lagi melawan.


"Udah yah protesnya. Kepalaku pusing dengar kamu ngomel-ngomel terus seperti istri yang tidak pernah dapat jatah nafkah lahir dan batin dari suaminya." Bibir Venus mengerucut mendengar keluhan suaminya itu.


Cup...


Samudera lagi-lagi meraup bibir Venus karena terlalu gemas melihat Venus yang mengerucutkan bibirnya.


"Sam isshhh, ini di kantor, malu kalau ada yang lihat." Protes Venus yang berusaha meredam gejolak yang sempat tercipta di antara mereka setelah ciuman tadi.


Samudera mengedarkan pandangannya kemudian mengedikkan bahunya sebagai jawaban bahwa tidak ada yang perlu membuatnya malu karena di sini hanya mereka berdua.

__ADS_1


Namun, seketika wajah Samudera menegang ketika matanya menangkap satu sosok yang berdiri di depan pintu dengan tatapan mematikan ke arahnya.


__ADS_2