
Hari yang melelahkan bagi Venus dan Samudera, sebenarnya bukan lelah bagaimana juga. Venus sendiri hanya menghabiskan waktunya di kamar pribadi Samudera setelah mereka kembali mengulang kegiatan yang membuat akhirnya Venus terbang ke puncak kenikmatan hidup, sementara bagi Samudera, itu adalah pembuktian dirinya sebagai laki-laki yang bisa memuaskan pasangannya.
Dalam urusan ini, Samudera tidak ingin egois, Samudera ingin bukan hanya dirinya yang senang, tetapi istrinya juga harus mendapatkan kepuasannya.
Karena jobdesknya belum jelas sebagai Sekertaris ke-2 Samudera, Venus meminta izin agar bisa pulang cepat ke rumah. Sekalian Venus meminta izin dibolehkan singgah ke mall untuk belanja kebutuhannya.
Uangnya sangat banyak, bisa Venus lihat isi saldo pemberian Samudera dari mobile bankingnya.
Ponsel yang dia gunakan saat ini juga ponsel mahal, tentu itu semua adalah pemberian Samudera. Sayangnya, nomor kontak yang tersimpan di dalamnya hanya nomor Samudera, Robby dan duo Alex dan Max.
Dan rupanya, mendapatkan izin dari Samudera bukan perkara yang mudah baginya.
"Sam.. boleh yah ke mall? Aku ajak mba Muthia sekalian. Aku janji ngak akan kemana-mana dan langsung pulang ke rumah kalau hangout bareng mba Muthia sudah selesai.
"Enggak!" Samudera masih kekeh pada pendiriannya.
"Ayolah, Sam. Kan ada Alex dan Max yang jagain juga. Please...please.. yah..yah.." Mohon Venus dengan suara manja dan mengedipkan sebelah matanya menggoda Samudera.
Samudera tidak menggubris dan memilih fokus mempelajari dokumen yang sedang dibacanya.
Merasa diabaikan, Venus berdiri dari sofa kemudian mendekati suaminya, ia duduk di atas pangkuan Samudera dengan memiringkan tubuhnya sehingga lebih leluasa memandang wajah suami es kutubnya itu.
Tangan Venus memainkan dasi Samudera. "Sayang..."
Tolong... aslinya Venus rasanya mau memuntahkan seluruh isi perutnya karena merasa geli melihat kelakuannya sendiri.
Samudera tertarik mendengar panggilan barunya dari Venus.
'Apa katanya? Sayang?'
Samudera ingin tersenyum tetapi ditahannya, dia tidak ingin menunjukkan kalau ia sangat senang dipanggil sayang oleh Venus. Ingat, Samudera tidak boleh cepat luluh, bukan hanya Venus yang bisa jual mahal, dirinya juga bisa.
"Sayang..." kembali Venus mengulangi panggilan manjanya karena belum direspon oleh Samudera, "boleh yah, please! Aku kangen banget sama mba Muthia. Aku juga bosan banget, udah hampir sebulan di rumah terus. Boleh yah sayang, please...!"
__ADS_1
Cup...
Tidak tanggung-tanggung, satu kecupan Venus hadiahkan ke pipi kanan Samudera demi melancarkan aksinya. Sudah kepalang tanggung menjatuhkan harga dirinya, membuang semua rasa malunya di hadapan Samudera dan rela menjadi seorang istri penggoda. Yang digoda suami juga, kenapa harus gengsi?
Benar saja, lama-lama Samudera meleleh juga. Dikasi umpan receh saja, dadanya sudah kembang kempis dibuatnya.
"Oke..oke, tapi janji, kamu sampe rumah sebelum isya." Pada akhirnya Samudera hanya bisa memberi izin, rasanya tidak tega melihat muka memelas Venus yang terlihat menggemaskan.
"MaasyaAllah... baiknya suamiku. Makasih yah sayang!" Sekali lagi Venus menghadiahi satu kecupan manis di pipi kiri Samudera.
Samudera senang dengan perlakuan manis Venus itu, dia juga suka manjanya. Ia senang saat Venus membutuhkannya. Ada yang selalu terasa hangat di dadanya ketika Venus bersikap manja kepadanya.
"Jadi jam berapa berangkatnya?" Tanya Samudera setelah beberapa saat terdiam.
Venus melirik jam di pergelangan tangannya. "Sekalian habis sholat asar aja, tanggung, bentar lagi masuk waktu sholat asar. Mmmmm... ya udah, aku siap-siap dulu."
Venus turun dari pangkuan suaminya kemudian masuk ke dalam kamar yang ada di dalam ruangan kerja Samudera itu.
Tetapi belum sempat berjalan, tangannya sudah ditahan Samudera.
Venus mengernyitkan kedua keningnya, "yang dulu kamu kasi itu isinya masih banyak banget, pake itu aja." Tolak Venus karena isi saldo kartu debit yang ia pegang memang masih banyak.
"Yang itu beda, kalau yang ini untuk kebutuhan sehari-hari di rumah, kalau yang dulu itu adalah khusus untuk nafkah kamu."
"Oh..." tidak ingin memperdebatkan hal yang sudah pasti ujung-ujungnya kemauan Samudera yang menang, Venus mengambil kartu tersebut kemudian berjalan pelan ke kamar.
Jujur saja, Venus sangat kecewa, jika sebelumnya Venus sempat berharap bahwa pelan-pelan Samudera tidak akan lagi menganggapnya sebagai istri sekedar pemuas nafsunya semata, melihat perhatian-perhatian dan sikap lembutnya selama ini, tapi kalau sekarang, harapan Venus sudah pupus.
Samudera masih sama seperti sejak awal menikahinya. Yang katanya pemberiannya khusus untuk nafkah, sejatinya itu adalah bayaran atas tubuhnya.
Venus tersenyum kecut memandangi pantulan wajahnya di cermin.
'Malang sekali nasibmu, Ve!' Ucapnya mengasihani dirinya sendiri.
__ADS_1
Tidak ingin membebani fikirannya dengan harapannya yang tidak mungkin ia raih, Venus mempercepat kegiatannya di dalam kamar mandi kemudian mendirikan sholat asar.
Saat keluar dari kamar, ternyata mba Muthia sudah duduk manis di sofa menunggunya. Sebenarnya mba Muthia menolak menunggu di ruangan Samudera, tetapi Venus memaksa.
Itu adalah sebuah langkah perjuangan Venus untuk merebut kepercayaan Samudera sehingga membebaskannya beraktifitas diluar pengawasan Samudera.
"Sam, aku pamit yah." Venus mendekati Samudera kemudian mengambil tangan suaminya, diangkatnya hingga menyentuh keningnya tidak lupa mengecupnya ringan.
Samudera lalu berdiri hendak membalas perlakuan manis istrinya itu. Meskipun pernikahan mereka sudah berumur tiga minggu lebih, tetapi ini baru pertama kalinya Venus memperlakukannya sedemikian manisnya layaknya seorang istri.
Samudera memberi kecupan lembut di kening Venus.
'Manisnyaaa." Venus senang.
"Hati-hati, ingat pulangnya sebelum isya." Kembali Samudera mengingatkan.
Venus tersenyum lalu mengangguk, "iya, tenang aja. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." Balas Samudera.
"Ayok mbak." Venus langsung menggandeng lengan mba Muthia sementara mba Muthia menyempatkan diri menoleh ke Samudera dan mengangguk sebagai tanda sopan santunnya kepada pimpinan perusahaan ini.
Sesaat mba Muthia melebarkan matanya karena netranya sempat menangkap gerakan bibir Samudera yang tertarik melebar sedikit tersenyum kepadanya.
Giliran mba Muthia yang mempercepat langkahnya sedikit menyeret Venus agar cepat-cepat berjalan.
"Gila, Ve! Itu suami kamu bisa juga romantis gitu, senyum pula. Kirain itu muka kayak tripleks mulu, datar!" Racau Mba Muthia saat mereka sudah berada di dalam lift.
Venus terkekeh melihat ekspresi wajah mba Muthia yang serupa orang yang baru habis ketemu hantu.
"Laki kamu bucin yah, Ve!" Ucap mba Muthia kemudian membuat Venus mengerutkan keningnya.
"Masak sih mbak? Kayaknya biasa aja deh..." elak Venus tidak setuju dengan penilaian mbak Muthia.
__ADS_1
Mba Muthia geleng-geleng kepala, "Ve...Ve.. kamu ini masih aja yah telmi kalo urusan lihat cowok. Udah jelas-jelas tuh pak Sam bucin berat sama kamu. Sumpah deh.."
Venus kembali terkekeh, dalam hati kasihan sama mba Muthia yang tidak tahu bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya.