A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 9 Memalukan


__ADS_3

Venus bolak balik di dalam toilet yang ukurannya lumayan lapang itu. Ia benar-benar merutuki kebodohannya yang tidak bisa mengendalikan emosinya di hadapan Samudera.


Dan yang paling dia sesali, mengapa air matanya tidak bisa ia hentikan, malah menangis sesegukan. Memalukan sekali.


Sebenarnya, bukan hanya kata-kata kasar Samudera saja yang membuatnya menangis. Tapi entah kenapa ada dorongan di dalam hatinya untuk meminta maaf atas semua kata-kata kasarnya yang dulu pernah ia ucapkan kepada Sam.


Andai ia tidak mengingat alasan utama dirinya berada di sini, sudah sejak awal bertemu mungkin ia akan bersujud-sujud meminta maaf. Namun ini bukan waktu yang tepat.


Venus tidak peduli jika suatu saat Samudera menyadari identitas dirinya asalkan orang yang telah mensabotase mobil kedua orang tuanya kala itu sudah ia temukan.


Keadaan menjadi semakin pelik karena ayah Sam sudah meninggal, sementara beliaulah saksi kunci dari peristiwa tersebut. Dari informasi yang didapatkan dari sumber terpercaya, bukan ayah Sam pelakunya, namun meskipun demikian, pelakunya kemungkinan besar terhubung langsung dengan ayah Sam mengingat status kepemilikan perusahaan sudah berpindah tangan ke ayah Sam sebelum kecelakaan tragis tersebut terjadi.


Tidak ada satupun bukti yang mengacu kepada ayam Sam. Hal ini semakin menyulitkan Venus untuk memulai aksinya karena semuanya masih samar-samar.


Setelah Venus merasa tenang dan sudah bisa menguasai emosinya kembali. Pelan-pelan Venus membuka pintu kamar mandi, ia berjalan mengendap-endap dan mengedarkan pandangannya penuh waspada. Sejenak ia mengagumi kemewahan kamar pribadi Sam tersebut, lalu ia bergegas keluar dari sana.


Rupanya di ruangan kerja Sam pun kosong, Venus menghela nafas lega. Kembali Venus bergegas meninggalkan ruangan tersebut dan kembali ke ruangannya.


"Kamu dari mana aja sih? Pak Sam aja udah dari tadi ikut meeting. Kamu? Eh.. ini kok kayak habis ketemu setan?" Muthia bisa melihat wajah Venus yang sedikit pucat dan tampak bengkak di bagian kantung matanya.


Venus menggeleng lemah...


"Aku dari toilet, sakit perut!" Kilah Venus tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang menghabiskan waktunya hampir 1 jam di toilet yang ada di ruangan Sam.


"Kamu yakin baik-baik aja? Mau dibelikan obat?" Tanya Muthia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Venus cepat melambaikan tangannya, tidak ingin merepotkan. Lagian alasan sakit perut itu hanya alibinya saja.


"Enggak mba, nanti juga sembuh sendiri. Makasih yah."


Jika tidak mengingat kalau baru saja dia mempermalukan dirinya di hadapan Samudera dengan pamer air mata, mungkin Venus akan kembali memamerkan keahliannya mengumbar air mata saking terharunya mendapatkan perhatian dari Muthia.


"Jangan sungkan, kalau ada apa-apa bilang aja. Di sini kita semua keluarga."


"Huhuhu..jadi pengen nangis! Terharu deh.." Venus sudah mengerjap-ngerjapkan matanya agar rasa panas yang menjalari retima matanya tidak berakhir dengan menjatuhkan air di sana.

__ADS_1


"Santai aja kali, Ve!" Ucap Muthia yang jadi heran sendiri melihat perubahan raut wajah Venus yang menurutnya berlebihan.


Mungkin karena Muthia sudah terbiasa diberi beban menghadapi urusan pribadi atasan yang sebelumnya membuatnya tanpa sadar memiliki rasa empati yang cukup tinggi. Sehingga perhatian-perhatian kecil yang diberikan ke Venus itu baginya sudah biasa dan memang sudah wajar dia lakukan.


"Oh yah mba Muth, hari ini aku belum punya agenda apa-apa kan? Aku pengen pulang cepat kalau memungkinkan."


"Iya, tiga hari ini kamu punya waktu untuk bersosialisasi dengan orang-orang kantor dan pengenalan di gedung ini. Tapi kalau memang tidak enak badan, biar sekalian besok aja office tournya." Jawab Muthia memberi solusi.


"Iya, benar juga." Venus sudah kehilangan mood setelah pertemuannya dengan Samudera tadi. Takutnya kalau dilanjutkan, dia malah tidak fokus dan meninggalkan kesan yang buruk.


"


"


Venus memilih meninggalkan kantor setelah mendirikan sholat asar,  rencananya dia ingin jalan-jalan atau sekedar cuci mata di taman yang dekat dengan apartemennya. Sebenarnya dia sudah mengajak Muthia, namun Muthia beralasan ada janji dengan teman lamanya di salah satu mall.


Pilihan Venus memang hanya Muthia, dia belum sempat berkenalan dengan banyak orang. Dengan staf di departemennya pun baru sekedar perkenalan saja. Venus tidak ingin terlalu cepat akrab dan berbaur dengan stafnya, bukan bermaksud sombong. Namun memang harus ada jarak yang dibangun agar urusan pekerjaan nanti tidak terhambat. Apalagi kebanyakan stafnya lebih senior dibandingkan dengan dirinya.


Setelah puas menghirup aroma rumput dan dedaunan di taman tadi, akhirnya Venus pun memutuskan pulang ke apartemen dengan berjalan kaki.


Bruuukkkk...


Ugghhhh


"Astaghfirullah..yaa Allah.." sontak suara dentuman itu mengagetkan Venus.


Venus mengalihkan pandanganbya ke asal suara dan di sana ia melihat sesosok laki-laki sedang mengeluh merintih kesakitan tertunduk mengelus-elus kedua lututnya.


"Mas tidak apa-apa?" Venus mendekati si korban yang tampak masih kesakitan dengan wajah meringis.


Si korban hanya menggeleng pelan menatap lurus ke wajah Venus membuat Venus merasa sedikit tidak nyaman ditatap seperti itu.


Venus gegas membantu memindahkan sepedanya kemudian kembali mengalihkan perhatiannya.


"Masnya bisa berdiri atau mau saya bantu?" Tanya Venus berempati.

__ADS_1


"Gak apa-apa mba, ini bisa kok!" Jawab laki-laki itu berusaha berdiri namun gesturnya menampakkan sedang menahan kesakitan.


"Yakin? Mau dipanggilkan taksi? Sepedanya?" Tanya Venus lagi mengalihkan pandangannya kepada sepeda yang tadi dikendarai laki-laki itu yang pelek depannya sudah hampir menyerupai angka delapan.


"Gak usah mba, terima kasih. Saya tinggal di apartemen itu kok." Jawabnya menunjuk ke gedung apartemen di depannya.


"Oh.. oke! Kalau begitu saya duluan."


Venus memilih segera pergi karena merasa laki-laki itu tidak membutuhkan bantuannya.


Sebelum menaiki lift, Venus mampir sebentar ke minimarket yang ada di lobby, dia membutuhkan perlengkapan wanita kalau-kalau datang bulan.


Venus mempercepat langkahnya menuju lift karena tidak ingin terlalu lama menunggu jika liftnya sudah terlanjur naik. Saat pintu lift tinggal sejengkal lagi menutup, Venus berhasil meraih dan menahannya.


"Eh..ketemu lagi!" Sapa Venus kepada laki-laki yang tadi terjatuh dari sepeda.


"Iya mba.. tinggal di sini juga yah?"


"Iya." Jawab Venus sambil menekan angka lantai tujuannya.


Venus merasa tidak perlu lagi beramah-ramah kepada laki-laki tersebut mengingat sikapnya yang tadi tidak ramah saat Venus mencoba menawarkan bantuan.


"Baru yah mba?" Tanya laki-laki itu lagi.


"Iya!" Jawab Venus singkat namun sedikit memberi senyum dan anggukan.


Ting..


"Saya duluan mba, mari." Pamit laki-laki itu ketika lift yang mereka tumpangi sudah sampai di lantai tujuannya.


Kembali dijawab Venus dengan senyum dan anggukan.


Venus sudah terlalu lelah setelah berjalan dari taman tadi, ditambah lagi moodnya yang belum membaik juga setiap kali mengingat pertemuan pertamanya setelah sekian tahun dengan Samudera.


Hal yang paling dia butuhkan saat ini hanyalah berbaring dan tidur.

__ADS_1


__ADS_2