
"Makan siang sudah.. minum obat sudah, ibadah sudah, sekarang waktunya istirahat." Ucap Febby menyebut satu-satu aktivitas yang baru saja aku lakukan.
"Thanks yah, Feb." Ucapku tulus.
"Nanti terima kasihnya sama kak Sam." Ucapnya sambil menaik turunkan kedua alisnya. Sudut bibirnya tertarik simetris melebarkan senyum nakal.
Aku mendengus melihat kelakuan Febby yang seolah tidak ada capeknya menggodaku. Aku sudah kehabisan kata meluruskan kesalahpahamannya, tapi dia kekeh dengan pendapatnya. Terserah...
"Kamu istirahat juga gih, gak capek apa seharian mengurus aku?"
"Koreksi, ini sudah hari kedua yah terhitung sejak kemarin pagi di kantor."
Berarti aku sudah dua hari menghilang dari peredaran karena terkurung di sini.
"Makanya, kamu juga istirahat. Aku nggak mau disalahkan Sam kalau sampai kamu jatuh sakit karena aku."
Bukan hanya tidak ingin Febby ikut sakit karena aku, aku juga merasa tidak nyaman karena jelas dia ada disini atas paksaan Sam. Aku tidak mau melibatkan orang lain.
"Iya..iya.. kakak ipar cerewet banget sih." Keluhnya tetapi ia juga menurut dengan segera membaringkan tubuhnya di tempat tidur khusus untuk keluarga pasien.
"Kakak Ipar.. ipar apaan?" Gumamku kesal tapi dengan suara sangat pelan.
Diumurku yang sebentar lagi meninggalkan angka 27 tahun ini, aku akui perasaan untuk segera memiliki pasangan hidup itu memang ada. Bagi sebagian orang, 27 tahun dan belum menikah mungkin sudah digelari perawan tua.
Tetapi menikah itu tidak selalu karena faktor umur yang sudah dianggap matang. Berapa banyak orang yang menikah muda tetapi langgeng dan berapa banyak yang menikah disaat umur matang tetapi berpisah?
Aku ingin menikah hanya sekali seumur hidup dan aku tidak butuh orang lain lagi setelah menemukan pria yang bersedia menjadikan aku tulang rusuknya yang akan selalu memastikan diriku berada di sisinya, tidak akan pernah meninggalkanku karena alasan apapun dan bersedia menua bersamaku. Sesederhana itu impianku tentang pernikahan.
Akan tetapi aku tidak ingin terbebani dengan kapan waktu itu akan datang. Ada banyak hal dalam hidup ini yang bisa dilakukan selain berusaha menemukan orang yang mengingikan hidup denganku atau bersedih karena belum dipertemukan dengannya. Justru terkadang aku merasa bahwa dengan tanpa mengharapkan seseorang jatuh cinta kepadaku membuat hidupku terbebas dari perasaan kosong dan terluka. Sendiri membuatku lebih bebas memilih dengan siapa aku akan ngopi di cafe saat weekend, aku tidak harus berdebat dengan seseorang apakah saat pulang bekerja kita akan ke toko buku atau nonton.
Tetapi untuk Samudera, perbedaan di antara kami terlalu jauh. Terutama beda keyakinan, aku tidak ingin meninggalkan Tuhanku demi sebuah kata cinta dan aku pun tidak ingin membuat orang lain meninggalkan Tuhannya hanya karena menginginkan diriku.
Di dunia ini, ada milyaran manusia berjenis laki-laki. Diantara milyaran itu, ada ratusan juta yang masing single, mapan dan tampan. Jadi, jika tidak berjodoh dengan seseorang yang disukai, apa susahnya berpindah ke yang lain?
__ADS_1
Rasa ketertarikan kepada seseorang itu memang tidak bisa diduga, tetapi setiap orang punya pilihan menentukan kepada siapa hatinya akan berlabuh.
Karena bagiku, cinta itu memang tidak mengenal perbedaan ras, suku, bangsa, warna kulit, bahasa dan apapun itu kecuali agama.
Kalau kita bisa menerima agama sebagai rambu-rambu yang mengikat dan mengatur sendi-sendi kehidupan kita, maka urusan jodoh pun seharusnya mengikuti kaidah yang sudah ditetapkan oleh prinsip agama yang diyakini.
Ceklek...
Suara pintu terbuka mengalihkan fikiranku yang sedari tadi menerawang memikirkan banyak hal.
Posisiku saat ini sedang membelakangi pintu, aku sungguh tidak berani membalik badan.
Tidak ada suara, hanya langkah sepatu beradu dengan lantai yang terdengar semakin mendekat dan berhenti terdengar ketika tempat tidurku terasa bergerak turun karena menerima beban.
Tanpa sadar kedua tanganku menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhku hingga sebatas leher. Mataku terpejam kuat, aku sungguh takut membuka mata saat ini.
Jangan tanyakan bagaimana kinerja jantungku saat ini, aku berharap suaranya tidak terdengar keluar karena saat ini aku merasa telingaku tidak di kepala lagi tetapi di dada.
"Febby.. Febby... bangun!"
Seperti dugaanku, itu adalah Samudera. Jantungku rasanya ingin lepas dari tempatnya. Entah apa lagi yang akan dilakukan Samudera kepadaku setelah ini.
"Eemmm..." terdengar suara Febby mendengus malas.
"Bangun, pulanglah!" Ucapnya kepada Febby tetapi mampu membuatku berkeringat dingin.
"Ugghh... kak Sam ganggu aja, orang baru aja tidur malah dibangunin. Tanggung banget tidurnya." Gerutu Febby yang tidak terima dibangunkan paksa oleh Samudera.
"Udah.. pulang sana!"
"Iya..iya.." terdengar seperti suara grasa grusu kemudian beberapa saat kemudian pintu terbuka lalu ditutup.
Hening...
__ADS_1
Aku menunggu suara sepatu Samudera, atau suara apapun itu namun setelah sekian lama sama sekali tidak terdengar bunyi apapun selain desau angin pendingin ruangan ini.
Aku penasaran, apa Samudera tadi ikut keluar bersama Febby?
Kuberanikan diri membuka mataku kemudian sedikit mengangkat kepala untuk mengintip ke arah pintu.
Kacau...
Mataku malah langsung bertemu dengan mata Samudera yang menatapku dengan dingin. Entah sejak kapan dia berdiri di situ.
Aku langsung menjatuhkan kepalaku ke atas bantal kemudian menarik selimut menutupi seluruh tubuhku. Aku seperti de javu, seperti maling yang tertangkap basah.
"Berhentilah berpura-pura masih tidur, atau aku akan menyirammu de-"
"Iya..iya.. saya bangun." Aku segera menarik tubuhku agar segera bangun sebelum Samudera menyelesaikan ancamannya.
Aku menunduk dengan tangan menggenggam erat selimut karena tidak berani menatapnya.
Samudera duduk di sisi ranjang, dia duduk cukup dekat denganku sehingga rasanya aku kesulitan bernafas karena aura menakutkannya terasa begitu nyata.
"Kenapa tunduk? Dimana Venus yang begitu berani selama ini? Apa kamu sudah menyadari kesalahanmu?" Tanyanya dingin.
Aku menggeleng lalu mengangguk. Aku sadar dengan apa yang aku lakukan, tetapi aku tidak merasa bersalah. Aku hanya ingin mencari kebenaran dan aku membutuhkan sesuatu dari Samudera untuk memudahkan urusanku.
Aku tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya karena aku tidak ingin Samudera tahu identitasku, aku juga takut kalau sampai dia mengetahui kalau orang yang telah membuatnya amnesia selama ini adalah aku pelakunya.
Mencuri datanya saja sudah membuatnya murka hingga hampir memgambil nyawaku, bagaimana kalau dia tahu kenyataan yang satu itu?
Samudera menarik kerah bajuku sehingga wajah kami hanya berjarak sejengkal. Aku bisa merasakan nafasnya menyapu wajahku. Aku memilih membuang wajahku ke sisi lain. Air mataku sudah kembali keluar membasahi kedua pipiku.
"Masih memilih diam? Apa belum cukup hukuman yang kemarin? Apa kamu yakin punya banyak nyawa sehingga masih memilih melindungi orang itu?" Tanyanya penuh penekanan, Sam menggertakkan giginya menahan amarah yang kembali memuncak.
"Tidak ada orang lain." Lirihku berharap Sam percaya.
__ADS_1