A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 23


__ADS_3

Aku terbangun dengan merasakan kepala yang begitu pusing. Aku meringis menyadari rasa sakit di kedua lenganku dan rahangku.


Apa yang terjadi?


Aku berusaha membuka kedua mataku yang terasa berat. Mataku menyesuaikan dengan cahaya yang terlihat tidak terlalu terang.


Aku berusaha bangun dan menarik tubuhku agar bisa duduk namun sulit. Kulirik tanganku, ada selang infus terpasang di sana.


Kuedarkan pandanganku, aku yakin saat ini aku sedang di rumah sakit.


Hatiku mencelos mengingat kembali kejadian yang kualami saat terakhir bertemu Samudera.


Siapa yang membawa aku ke rumah sakit?


Apa ada orang baik yang menolongku lalu membawaku ke sini?


Aku akan sangat berterima kasih kepadanya dan akan membalas semua kebaikannya.


Ceklek...


Aku menoleh ke asal suara pintu terbuka. Meski terasa sakit, kutarik selimut menutupi wajahku. Aku masih takut, aku tidak tahu itu siapa, apakah laki-laki atau perempuan. Aku sedang tidak memakai jilbab, aku tidak ingin rambutku dilihat laki-laki yang bukan suamiku kelak.


"Kak Venus sudah bangun?"


Terdengar suara perempuan menyapaku, namun aku tidak mengenali suaranya. Kuberanikan diri membuka selimut yang menutupi wajahku. Aku memicingkan mata, sepertinya aku pernah melihatnya tapi aku tudak ingat kapan dan dimana.


"Aku Febby kak, aku dokter yang ditugaskan kak Sam merawat kak Venus." Ucapnya seolah mengerti pertanyaan yang ada di kepalaku saat ini.


Ada sedikit perasaan kecewa menghampiriku. Ternyata Sam yang membawaku ke sini, itu berarti aku belum lepas darinya. Tetapi bukankah seharusnya dia membiarkan aku mati?


"Aku adik sepupu kak Sam dari pihak ibu. Kita sudah pernah bertemu sebelumnya, mungkin kak Venus sudah lupa, tapi kira-kira satu tahun yang lalu kita ketemu di Supermarket, aku jalan sama kak Sam dan kak Venus jalan sama teman laki-lakinya." Imbuhnya memperkenalkan diri dan mencoba mengingatkan aku kapan pertama kali kami bertemu.


Aku mengangguk, aku sudah ingat. Ternyata dugaanku salah saat itu. Aku fikir dia salah satu pacar Sam, ternyata dia seorang dokter.


"Bagaimana perasaan kakak?" Tanyanya mencoba menarik perhatianku.

__ADS_1


"Alhamdulillah, baik." Giliran dia yang mengangguk.


"Aku periksa kakak dulu yah," Ucapnya mendekatiku kemudian menarik turun selimut hingga ke pusarku.


Setelah melakukan pemeriksaan kesehatan kepadaku, dia kembali merapikan selimutku kemudian memilih duduk di kursi yang tersedia di sisi tempat tidur.


"Kak Venus sarapan dulu yah, sini aku bantu!" Ucapnya lembut. Dia kembali berdiri membantuku untuk duduk.


"Terima kasih." Ucapku pelan. Meskipun dia memperlakukan aku dengan baik dan lembut, namun aku tetap tidak bisa menghilangkan ketakutanku karena bagaimana pun dia adalah keluarga dekat Samudera.


Dia hendak menyuapiku namun aku tolak. "Biar saya saja, dok! Terima kasih." Ucapku mengambil kotak makan di tangannya.


Aku meringis karena lenganku benar-benar susah digerakkan. Mungkin karena terlalu lama terikat dengan posisi tangan di belakang dan aku sempat berusaha keluar dari bathtup namun gagal hingga akhirnya aku lelah sendiri dan hilang kesadaran.


Entah sudah berapa lama aku di sini. Ingin bertanya tetapi aku sungkan.


Gadis yang bernama Febby ini cukup keras kepala dan pemaksa, sama seperti kakak sepupunya itu.


"Kalau masih sakit jangan dipaksakan." Katanya mengambil kembali kotak makanan di tanganku.


Setelah beberapa suap, aku sudah merasa tidak bisa lagi menelan. "Cukup, dok! Saya sudah kenyang."


Dokter Febby kemudian menyimpan kotak makanan yang berisi bubur itu ke atas nakas lalu memberiku air minum. Kembali dia dengan sabar dan telaten membantuku minum dengan sedotan.


"Sekarang minum obat yah, kak. Kalau kakak minum obatnya secara rutin, mungkin besok sudah sembuh kok." Dokter Febby mengambil beberapa butir obat yang terdiri dari beberapa jenis kemudian membantuku memasukkannya ke dalam mulut. "Minumnya satu-satu aja." Imbuhnya.


"Terima kasih." Hanya ucapan itu yang bisa keluar dari mulutku.


"Dari tadi kak Venus terus berterima kasih. Itu sudah tugas aku dari kak Sam. Jadi apapun keluhan kakak atau ada yang ingin kakak lakukan, jangan sungkan bilang sama aku."


"Aku tidak tau apa masalah diantara kalian, aku tidak membenarkan kekerasan yang dilakukan kak Sam kepada kakak, tapi kalau kak Venus tidak ingin berada dalam masalah besar, kak Venus jangan membantah apalagi menentang kak Sam. Kak Sam orangnya baik kok, dia penyayang juga. Dia tidak mungkin melakukan ini kalau kesalahan kak Venus masih bisa dia toleransi."


Air mataku sudah basah di pipiku. Bukan itu, dokter Febby tidak tahu apa yang terjadi dia antara kami. Ingin rasanya aku menghilang saja dari sini.


"Kak Sam tidak akan penah melepaskan sesuatu yang sudah dia klaim sebagai miliknya pergi meninggalkannya. Sia-sia saja usaha kak Venus kalau ingin pergi dari sini."

__ADS_1


Dokter Febby semakin salah faham. Aku bukan siapa-siapa bagi Samudera, begitu pun sebaliknya.


"Apa Sam tidak mengatakan sesuatu kepada kamu?" Tanyaku tidak lagi bersikap formal. Termasuk menyebut nama Sam dengan embel-embel bapak.


"Maksudnya kakak?"


"Kami bukan pasangan kekasih, aku hanya karyawannya." Ucapku mencoba meluruskan fikiran Febby.


"Kak Venus jangan mengelak, mana mungkin kak Sam sekhawatir itu bahkan memberikan semua fasilitas terbaik berikut penjagaan ketat oleh bodyguardnya di luar kalau kak Venus bukan perempuan yang dicintainya?"


Aku menggeleng, itu dia lakukan bukan karena mencintaiku, itu karena dia tidak ingin aku kabur.


"Kalau akau mengatakan kalau aku mencuri darinya apa kamu percaya?"


Febby tampak bingung dengan pertanyaanku.


"Memangnya apa yang kakak curi, uangnya banyak, assetnya banyak, dia tidak akan jatuh miskin kalau kakak mencuri darinya. Lagian dia tidak akan marah kalau yang mencuri darinya adalah wanita yang dia sayangi."


Lagi-lagi aku menggeleng. Menurutku Febby sudah jauh sekali ngelanturnya.


"Dari mana kamu menarik kesimpulan kalau aku adalah wanita yang dia cintai?"


"Kakak ingat kan saat kita ketemu di supermarket itu?


Aku mengangguk.


"Pandangan matanya tidak pernah lepas dari kakak. Dia tidak suka melihat kakak jalan dengan laki-laki lain. Saking marahnya, dia tega meninggalkan aku di sana demi mengejar kak Venus dan memastikan kak Venus kembali dengan selamat. Seumur-umur, baru kali itu kak Sam membiarkan aku sendiri padahal selama ini dia sangat overprotektif kepadaku. Kalau kak Sam gak cinta sama kak Venus, ngapain dia melakukan itu?"


"Kamu salah.. Sam tidak pernah mencintai aku, yang ada dia terus menghukum aku, mengumpat aku bahkan menuduh aku perempuan murahan. Kalau memang dia suka sama aku, seharusnya dia tidak melakukan itu?"


"Kak Venus yang salah, justru itulah cara dia menunjukkan perasaannya. Lelaki sombong dan angkuh seperti kak Sam tidak akan mudah mengakui perasaannya. Makanya dia mencari cara agar bisa terus punya alasan berinteraksi sama kakak."


Aku memutar bola mataku. Febby benar-benar semakin jauh berfikirnya. Aku sudah malas menanggapinya. Terserah apa yang ada di kepala Febby.


Yang kufikirkan saat ini adalah bagaimana bisa segera kabur dari sini. Mungkin aku bisa memanfaatkan Febby.

__ADS_1


__ADS_2