
Samudera memilih menenangkan diri di ruang fitness miliknya yang berada di lantai bawah tepat di dekat kolam renang. Kebetulan sekali sudah dua minggu lebih ia sama sekali tidak melakukan exercise.
Pemandangan yang tersuguh dari luar ruangan juga begitu menyegarkan pandangan mata. Hijau pepohonan dan rumput lapangan golf menyegarkan mata bagi siapa saja yang memandangnya.
Berlari di atas treadmill menjadi pilihan utama Samudera. Dengan emosi yang tidak stabil seperti saat ini, akan sangat berbahaya baginya jika melakukan aktifitas berat.
Hatinya masih diselimuti rasa panas, pun dengan gairahnya yang sempat tersulut karena ulahnya sendiri. Niat hati ingin mengerjai Venus, akan tetapi justru dirinya yang terbakar oleh permainannya sendiri.
'Venus... mengapa kamu tidak mau mengakui semuanya? Apa begitu sulit bagimu?'
Arrggghhhh....
Samudera memukul bagian treadmill di depannya. Sudah satu jam lebih berlari namun fikirannya terus tertuju pada Venus.
Membayangkan bibir Venus sudah pernah disentuh oleh pria lain membuat emosinya seketika naik ke ubun-ubun.
Membayangkan tubuh sintal dan proporsional di setiap bagian tubuh Venus dijamah oleh lelaki lain membuat matanya berkabut, ada gairah dan amarah yang melebur menjadi satu.
Sementara di kamar pengantin, Venus tidur terlelap setelah kembali usai menumpahkan air matanya. Rasa lelah mengalahkan rasa lapar yang dirasakannya. Semenjak dikurung di rumah ini, selera makan Venus seperti hilang begitu saja. Dia hanya berusaha mengisi tenaganya dengan buah-buahan yang selalu disiapkan oleh Bu Wati yang mengaku sudah mengasuh Samudera sedari kecil.
Tidur Venus begitu nyenyak, bahkan saat adzan asar pun ia sama sekali tidak terganggu tidurnya.
Ceklek..
Pintu terbuka dan menampakkan sosok Samudera yang masuk ke dalam kamar. Dengan keringat yang masih bercucuran di wajahnya, kaosnya pun sudah sepenuhnya basah oleh keringat.
Mendapati Venus yang masih tertidur sesaat membuatnya terpana melihat betis putih mulus yang menjuntai keluar dari selimut yang membungkus tubuh Venus.
Samudera mendekat lalu duduk di sisi tempat tidur. Ia meraih kaki jenjang yang telah menjadi pusat atensinya.
"Indah..."
Matanya menyapu bersih kaki itu, dari ujung jempol hingga lutut, semuanya terlihat indah tanpa cela. Bersih, lembut, sejuk sekaligus membuatnya berdebar.
Samudera sudah sering menelanjangi perempuan yang dulu sering digunakannya untuk menuntaskan hasratnya. Dari model, wanita lokal hingga wanita luar, dari yang memiliki paras rupa yang begitu cantik dan rupawan hingga yang berparas biasa-biasa saja, tidak ada satupun yang bisa membuatnya bergairah hanya dari menatap kakinya.
__ADS_1
Tetapi Venus... ia bisa membuatnya menegang tanpa perlu melakukan apapun.
'Apa memang seindah ini setiap tubuh yang tertutupi oleh pakaian kelebihan bahan itu?'
Venus menggeliat ketika merasakan ada sesuatu yang hangat menyentuh kakinya. Venus terkesiap ketika membuka matanya dan sudah mendapati Samudera yang sedang menatapnya lekat.
Mengabaikan tatapan Venus yang menyimpan ketakutan dan kegelisahan itu, Samudera bangkit menuju sebuah lemari besi yang terletak tidak jauh dari tempat tidurnya.
Tidak berselang lama, Samudera kembali mendekati Venus dengan membawa beberapa dokumen di tangannya.
"Ini..." katanya sambil menyodorkan dokumen itu ke wajah Venus.
"Ini apa?" Tanya Venus bingung.
"Lihat saja, kalau kurang kamu bisa meminta apa saja setelah aku memastikan servis kamu memuaskan atau tidak."
"Maksud kamu apa?" Bergetar suara Venus menatap tajam ke arah Samudera.
"Itu adalah buku tabungan, kartu atm, sertifikat rumah dan apartemen atas nama kamu. Apakah itu cukup membayar jasa kamu untuk memuaskanku saat ini?" Jawab Samudera dengan wajah datar dan suara dinginnya yang mengintimidasi.
Venus menggeleng tidak percaya. Bukankah dia sudah menjadi istri Samudera saat ini, lalu kenapa Samudera masih ingin membeli tubuhnya?
Venus menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Sejenak ia menundukkan wajahnya.
Baiklah.. menolak atau pun membela diri tidak ada gunanya bukan?
Venus bangkit dan turun dari tempat tidur, ia berdiri di depan Samudera dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
Tangannya perlahan bergerak membuka satu per satu kancing kemeja Samudera yang ia pakai dan masih melekat di tubuhnya.
Samudera meneguk kasar salivanya melihat Venus yang sudah berdiri tanpa busana di hadapannya saat ini.
Nafasnya memburu menahan amarah yang menyesakkan dada.
Padahal, ada sedikit harapan di dasar hatinya yang paling jauh, Venus akan melawan dan menolak pemberiannya sebagai pembelaan dirinya atas tuduhannya selama ini.
__ADS_1
Tetapi lihatlah sekarang... Venus membuktikan bahwa dirinya memang tidak lebih dari sekedar perempuan murahan yang rela melakukan apa saja demi materi duniawi.
Tidak ada lagi yang perlu Samudera ragukan. Segera saja ia bangkit menarik kasar bajunya sendiri hingga robek dan ia lemparkan begitu saja.
Cepat ia tarik tubuh Venus dengan kasar hingga mendarat di atas tempat tidur.
Rahangnya mengeras dengan tatapan lapar seperti ingin menghabisi Venus saat ini juga. Tangannya bergerak membuka kain penutup terakhir di tubuhnya menampakkan keperkasaannya yang siap menghancurkan hidup Venus saat itu juga.
Venus membuang pandangannya ke sisi lain. Ia tidak ingin melihat wajah laki-laki yang paling dibencinya itu. Tubuhnya bergetar. Takut!
Emosi Samudera semakin tersulut melihatnya. Tanpa pemanasan dan tanpa aba-aba, Samudera langsung bergerak memaksa melakukan penyatuan.
Dan...
Krek...
"Allaahu Akbar.. yaa Allah... sakit!!!" Pekik Venus ketika merasakan tubuhnya seperti terbelah menjadi dua.
"Sh*tttt..." umpat Samudera yang bisa mendengar suara selaput darah Venus yang baru saja ia pecahkan hanya dengan sekali hentakan.
Samudera melihat ke bagian selatan tubuhnya, jelas ada darah segar di sana. Kembali dia mengumpat kasar.
Tangan Venus yang semula mencengkeram pundak Samudera dengan kuat perlahan melemah.
Samudera lalu mengangkat pandangannya ke wajah Venus yang entah mengapa tidak berisik lagi dan tidak bergerak sama sekali. Bisa ia lihat air mata menggenangi kedua pipinya.
Tangan Samudera terulur menghapus air mata tersebut kemudian menepuk pelan pipi Venus.
Tidak ada respon.
Sekali lagi Samudera menepuk pipi Venus namun tidak ada pergerakan sama sekali.
"Hey.. kamu tidur apa pingsan?" Kejar Samudera yang mulai didera rasa panik.
Samudera mengguncang-guncang tubuh Venus yang sudah sepeti jelly tak bertulang, ia memeriksa nadi dan nafas Venus di hidungnya, setidaknya Samudera bisa sedikit bernafas lega karena Venus hanya pingsan saja saat ini.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat, Samudera memungut pakaian mereka, ia pakaikan baju kemejanya kembali ke tubuh Venus kemudian menyelimutinya. Samudera memungut kaosnya yang sudah tidak berbentuk kemudian membuangnya ke tong sampah yang ada di dalam kamarnya. Ia bergegas mengambil pakaian untuk dirinya sendiri.
Samudera berusaha menghilangkan jejak-jejak perbuatannya sebelum memanggil Febby datang memeriksa Venus.