A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 15


__ADS_3

Dua jam kemudian film pun berakhir. Kami pun berhambur keluar setelah semua penonton lain meninggalkan studio. Sengaja memilih keluar setelah semuanya sudah keluar, tidak ingin berdesak-desakan padahal kalau mau sabar sedikit menunggu, tidak akan ada itu drama desak-desakan setiap kali film selesai.


Sama ketika antri saat boarding naik ke pesawat. Entah mengapa banyak yang lebih suka berdesak-desakan, padahal jelas-jelas pesawat tidak akan meninggalkan penumpangnya ketika proses boarding masih berjalan.


Paling ngenes aja lihatnya ketika ada yang bawa anak kecil dan bayi dengan banyak barang bawaan juga tetapi tetap ikut dalam barisan desak-desakan itu. Miris melihatnya, tapi itu di negeri konoha, di sini tidak ada yang seperti itu.


Giliran mba Muthia dan yang lainnya menuju toilet sementara aku dan Irawan memilih menunggu mereka di salah satu sofa yang tersedia di ruang tunggu bioskop.


"Masih butuh kopi nggak bu?" Tanya Irawan mengalihkan perhatianku dari ponsel yang sedari tadi kupandangi.


Aku mendongak menatapnya, "Udah, nggak lagi deh Ir. Terlalu banyak cafein nanti jadinya susah tidur." Jawabku menolak.


Awalnya aku merasa tidak nyaman dipanggil ibu oleh para stafku dan orang-orang lainnya di kantor, namun lama kelamaan aku merasa biasa saja. Lagian aku memang harus tetap punya jarak dengan stafku agar mereka tetap bisa menjaga sikap.


"Ibu Venus asli orang mana sih?"


"Asli Indonesia!" Jawabku sekenanya.


"Maksudnya, Jawa, Bali, Padang atau Ambon, Bugis mungkin?"


"Ibu asli Padang, ayah turunan Arab dari ayahnya yang juga keturunan gitu."


"Oh.. pantas!"


Aku memicingkan mata menunggu kalimat selanjutnya. Namun Irawan hanya mengangkat kedua bahunya.


"Pantas apa?" Tanyaku penasaran.


"Cantik!"


"Kamu jujur banget sih, Ir." Ucapku menutupi rasa canggung yang tiba-tiba melanda kami. "Itu komentar yang sama dari sekian ribu orang yang pernah kutemui." Imbuhku melebarkan senyum.


Iya, ketika orang-orang tahu asal-usul keturunan orang-orang yang menyumbangkan genetiknya ke jiwa ragaku, komentar yang sama sudah pasti.


Entah bawaan Padangnya lah yang dikatakan membuat cantiknya dominan atau justru dari darah Arabnya.


"Oh.. tapi ibu memang cantik." Ucapnya mempertegas.

__ADS_1


"Terima kasih." Jawabku menimpali. Itu adalah salah satu jawaban yang sangat efektif memutus kata-kata bualan selanjutnya kalau sudah urusan mengomentari kecantikan atau ketampanan seseorang.


"Bu Ve, aku pamit duluan yah. Udah dijemput di bawah." Maya datang menghampiri kami kemudian seperti buru-buru dengan ponsel masih di dekat telinganya.


"Iya, Maya hati-hati di jalan yah." Ucapku kepadanya dan Maya pun bergegas meninggalkan kami.


"Aku sama yang lain pulang bareng yah, Ve. Kamu gak apa-apa kan pulang sendiri?" Giliran mba Muthia yang ikut pamit. Tempat tinggal kami memang tidak searah.


"It's Okey... duluan aja. Aku mah gampang!"


"Ibu bareng aku aja. Aku bawa mobil dan kita searah." Kini Rizky menawariku tumpangan.


"Ya udah.. aku ikut Rizky kalo gitu. Makasih banyak yah Er, Sita, Irawan mba Muthia buat malam ini."


"Kami yang makasih, bu. Udah ditraktir dikasi bungkusan pula." Sita mengangkat box bungkusan makanan yang tadi dipesannya.


"Iya...Sama-sama."


Kami pun akhirnya berpisah, mereka duluan ke parkiran mall sementara aku meminta Rizky menungguku sebentar yang ingin membeli buah di supermarket.


Tapi katanya dia mau ikut ke supermarket karena sekalian mau cari sesuatu.


"


Saat memilih buah, kembali mata Venus bersibobok dengan Samudera yang ternyata sedang menemani gadis yang sama dilihatnya di depan toilet tadi.


"Eh.. pak Sam. Selamat malam, pak!" Bukan Venus yang menyapa melainkan Rizky. Mau tidak mau Venus pun mengangguk sekali sebagai bahasa sopan santunnya.


"Malam." Jawab Samudera datar.


Samudera menatap sinis ke arah Venus. Jelas itu tatapan merendahkan.


Hanya dalam satu malam, dua pria berbeda jalan dengan satu wanita yang sama. Bagaimana Samudera tidak berfikiran buruk kalau Venus perempuan gampangan.


"Siapa?" Tanya gadis yang bersama Samudera.


"Orang kantor."

__ADS_1


"Selamat malam, mba. Saya Rizky dan ini ibu Venus karyawan pak Samudera." Kembali Rizky membuka suara memperkenalkan diri mereka kepada gadis itu.


Sementara Venus masih memilih diam tidak menanggapi.


"Oh.. iya. Silahkan dilanjut belanjanya, kami duluan!" Ucap gadis tadi kemudian menarik tangan Samudera ke bagian lain.


Saat di kasir, Venus dan Rizky membayar belanjaannya masing-masing. Rizky sebenarnya bersikeras ingin membayarkan untuk Venus namun Venus menolak tak kalah kerasnya.


Semua itu terekam di manik mata Samudera yang berdiri tidak jauh dari meja kasir karena menunggu gadis yang bersamanya sedang bertransaksi di kasir yang berbeda.


Venus dan Rizky seolah kompak pura-pura tidak melihat Samudera di sana. Mereka sungkan menyapa karena Samudera bukanlah orang yang ramah kepada karyawannya.


Namun, bagaimanapun mereka harus bersikap sopan kepada atasannya itu.


Venus mengikuti langkah Rizky ke tempat parkir, kedua tangan Rizky menenteng 2 kantong belanjaan milik Venus. Saat Rizky memasukkan kantong belanja tadi ke bagasi mobilnya, kembali mereka harus menyapa Samudera yang ternyata mobilnya terparkir di sisi kiri mobil Rizky.


Tapi kali ini Samudera hanya sendiri. Samudera mendekati mobilnya dan memperhatikan dua orang karyawannya itu yang sudah hendak masuk ke dalam mobil.


"Tunggu!!!" Ujar Samudera menahan gerakan Venus dan Rizky.


Samudera mendekati Venus.


"Saya ada perlu sama kamu." Ucapnya kepada Venus. "Kamu duluan saja, biar ibu Venus sama saya." Ucapnya lagi kepada Rizky yang terdengar tidak ingin dibantah.


"Tapi pak, apa tidak bisa di kantor saja?" Akhirnya Venus membuka suara bertanya yang lebih tepatnya itu adalah ungkapan protes.


Samudera menggeleng. Ia menarik satu lengan Venus yang posisi Venus saat ini satu kakinya dan satu bokongnya sudah di atas mobil. Setelah itu Samudera menutup pintu mobil.


Tanpa menunggu persetujuan Venus, Samudera sedikit mendorong tubuh Venus berjalan mengitari mobil kemudian masuk ke kursi penumpang di sebelah kemudi.


Rizky hanya bisa pasrah, mau protes juga tapi bos besar. Lagian tidak mungkin Samudera berbuat jahat kepada Venus. Rizky tahu betul track record Samudera di kantor yang tidak pernah genit kepada perempuan di kantor. Padahal kalau Samudera mau, mungkin 80% gadis di kantornya bisa dia ambil madunya. Tidak mungkin Samudera berniat melecehkan Venus.


"Tapi belanjaan saya pak?" Protes Venus.


"Nanti dibawa orang-orangku ke apartemen kamu." Jawab Samudera kemudian menutup pintu di sisi Venus. Ia pun bergegas menuju kursi kemudinya.


Samudera melajukan mobilnya tanpa peduli dengan tatapan Rizky yang masih bengong melihat aksinya membawa Venus pergi.

__ADS_1


"Bapak ada urusan apa sih sama saya malam-malam begini?" Tanya Venus mengangkat lengan kirinya untuk melihat jam.


"Ini sudah lewat jam 10 loh pak." Kembali Venus mengajukan protesnya.


__ADS_2