A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 67


__ADS_3

Venus mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur setelah bayinya sudah sedikit tenang. Naluri keibuannya keluar begitu saja, ia menarik bayinya menempel ke dadanya.


Meskipun ini adalah pengalaman pertama bagi Venus setelah dua minggu statusnya berubah menjadi seorang ibu dan baru saja menjalani perawatan pasca melahirkan, tetapi asinya sudah lancar berkat bantuan para perawat dan dokter di rumah sakit.


Bayi itu pun langsung melahap dengan rakus sumber kehidupan sejati yang didapatkannya, ia seolah tahu dan mengenali pemilik sumber kehidupannya itu.


Venus menciumi bayinya yang terus menghisap ASInya dengan tenang. Perlahan mata bayinya itu tertutup. Ia tertidur tetapi mulutnya sesekali masih terasa menghisap makanannya dan enggan melepasnya.


Dirasa bayinya sudah tertidur pulas, Venus membaringkan bayinya di atas tempat tidur. Bibir Venus mengeluarkan suara kecil seperti angin, tangannya menepuk-nepuk paha bayinya dan akhirnya proses itu selesai juga menghadirkan kelegaan di hati Venus juga Samudera.


Venus mengalihkan tatapannya kepada Samudera penuh tanya.


"Alea sudah tidur, pergilah sekarang juga dan jangan pernah menginjakkan kakimu di rumah ini lagi?" Tegas Samudera dengan suara dingin. Dirinya masih marah, meski sudah melihat rekaman CCTV, tetapi tetap saja tidak suka dengan tindakan Venus yang diam-diam menemui laki-laki lain. Harga dirinya menolak memaafkan begitu saja.


Bagai disambar petir di siang bolong, Venus terkejut dengan apa yang dikatakan Samudera kepadanya.


"Maksud kamu apa?" Venus seperti orang kebingungan, ia masih belum mengerti maksud ucapan Samudera tadi.


"Kamu ingin bebas bukan? Sejak dulu kamu ingin pergi dari kehidupan aku bukan? Sekarang aku baru sadar kalau ternyata alasan kamu selalu ingin pergi karena kamu punya lelaki pujaan lain di luar sana. Pergilah, mulai sekarang aku membebaskanmu!"


Ingin rasanya Samudera menampar mulutnya sendiri ketika mengatakan itu, tetapi dia juga ingin melihat bagaimana reaksi Venus bertahan.


Venus menggeleng keras kemudian menghampiri Samudera. Venus berlutut.


"Aku mohon, jangan pisahkan aku dengan Alea! Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan mas Bintang, kamu salah faham. Aku tidak pernah punya hubungan dengan laki-laki manapun, hanya kamu, kamu tau itu. Kamu harus percaya sama aku." Venus memeluk lutut Samudera, berharap Samudera tidak mengusirnya dari sini.


Samudera menghentakkan kakinya, membuat tubuh lemah Venus sedikit terdorong sehingga satu sisi tubuhnya menyentuh lantai.


"Aku hanya percaya pada apa yang dilihat oleh mata kepalaku sendiri. Kamu memilih mendatangi laki-laki itu di belakangku bagiku itu sudah cukup membuatku yakin bahwa kalian ada hubungan karena pertemuan kalian tidak ingin aku ketahui." Samudera masih bertahan dengan egonya.


"Tidak seperti itu, aku hanya bingung, aku tidak tau harus bagaimana, aku takut kamu tidak memberiku izin. Aku menemui mas Bintang karena dia bilang ini ada hubungannya dengan kecelakaan orang tuaku, aku hanya ingin tau itu. Dan bukankah sudah berkali-kali aku katakan kepadamu bahwa tujuanku kembali ke kota ini adalah untuk mencari tau kebenaran tentang kecelakaan orang tuaku? Aku tidak berani meminta kamu menemani aku untuk menemui mas Bintang karena selama ini kamu tidak pernah peduli dan tidak mau tau. Kamu selalu bilang kalau aku mengada-ada dan alasan saja. Sam, aku mohon, percayalah kepadaku. Jangan pisahkan aku dan Alea, please!"

__ADS_1


Venus terus terisak berusaha menjelaskan semuanya, sementara Samudera bergeming.


"Itu bukan urusan aku, cepat tinggalkan rumah ini kalau kamu sudah selesai mengarang bebas!" Sarkas Samudera.


Venus semakin terisak, ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi agar Samudera percaya kepadanya.


"Sam, jangan seperti ini, jangan pisahkan kami! Bunuh saja aku, ya..bunuh saja aku daripada harus berpisah dengan anakku."


"Kalau kau ingin mati, silahkan tapi jangan di sini." Hardiknya menghentak kesadaran Venus.


Venus bangkit kemudian mencoba meraih tangan Samudera, ia menciuminya namun Samudera menghempas tangannya.


"Sam.. Sam.. aku mohon, please! Enam bulan... Enam bulan saja. Beri aku waktu enam bulan sejak hari ini, biarkan aku memberi Alea ASI ekslusif, setelah itu aku akan pergi selamanya dari kehidupan kalian. Aku mohon!" Itulah usaha terakhir yang bisa Venus lakukan.


Venus sadar betul bagaimana sifat seorang Samudera, ia tidak akan pernah mengubah keputusannya. Setidak Venus berusaha bernegoisasi, semoga Samudera tersentuh hatinya.


"Pergi!!!" Pekik Samudera mengabaikan permohonan Venus.


"Kumohon!!!"


"Per---


Tiba-tiba suara tangisan Alea melengking dan kembali bergema.


Samudera lekas mengangkat tubuh kecil Alea ke dalam gendongannya, mencoba menenangkannya dan mendiamkannya. Sayang, usahanya kembali gagal.


Venus mendekati mereka, meminta Alea agar digendong olehnya.


"Kumohon Sam, Alea masih sangat membutuhkan aku, kasihanilah Alea jika kamu tidak kasihan kepadaku. Alea tidak bersalah, aku yang salah karena ia lahir dari rahim perempuan seperti aku. Jangan korbankan Alea karena kesalahanku. Please, Sam... enam bulan saja setelah itu aku akan benar-benar pergi. Pegang kata-kataku!" Pinta Venus dengan sorot mata penuh keteguhan.


Samudera sedikit terhenyak, demi Alea.

__ADS_1


Tubuh mungil yang terus menangis sampai melengking itu kini kembali berpindah ke dalam dekapan Venus.


Setelah Venus kembali berhasil menenangkan Alea, Samudera akhirnya berubah fikiran.


"Baik, enam bulan. Aku harap kamu adalah orang yang bisa dipegang ucapannya." Samudera lalu beranjak pergi dari sana, ia butuh sesuatu untuk meredakan amarahnya.


Venus menatap nanar punggung Samudera yang perlahan menghilang dibalik pintu. Ia menatap sendu baby Alea.


"Terima kasih sudah membantu mommy, sayang. Kamu anak hebat, tumbuh yang sehat dan kuat yah sayang!


Maafkan mommy, ayo kita habiskan waktu yang kita miliki selama enam bulan ke depan dengan bahagia. Bantu mommy agar tetap kuat. Karena kamulah sumber kekuatan terbesar mommy saat ini.


Kelak, jangan lupakan mommy di dalam hatimu karena di situlah mommy akan tinggal. Otakmu masih terlalu kecil untuk menyimpan mommy di dalamnya." Venus tersenyum lirih, mengajak bayinya itu berbicara seolah Alea bisa mengerti apa yang dikatakannya.


'Enam bulan.' Kembali hatinya terasa nyeri di dalam sana. Itu adalah waktu yang sangat singkat yang dimilikinya untuk melihat Alea kelak akan tumbuh dewasa dan kemudian menikah dan punya anak. Membayangkan dirinya tidak akan mendapatkan kesempatan itu kembali membuat air matanya mengalir deras.


Ia tidak akan melihat langkah pertama Alea saat mulai bisa berjalan.


Ia tidak akan mendengar kata pertama yang diucapkan Alea.


Bagaimana saat Alea mendapatkan haid pertamanya, kepada siapa Alea kelak akan membagikan isi hatinya ketika pertama kali memiliki perasaan suka kepada lawan jenisnya?


Memikirkan semua itu membuat tangis Venus kembali meluruh dan pilu.


Seolah mengerti perasaan mommy-nya, Alea ikut menangis, ia menggeliat dalam dekapan Venus.


Venus kemudian meletakkan Alea di atas tempat tidur kemudian menyusulnya berbaring. Venus memiringkan kepala Alea ke arah dadanya untuk memberinya ASI.


Karena lelah, Venus pun ikut tertidur bersama Alea. Ia butuh mengistirahatkan tubuh dan fikirannya. Ia terlalu kaget mendapatkan kenyataan bahwa Samudera sudah melepaskannya.


Mengapa baru sekarang? Mengapa tidak dari dulu sebelum Alea hadir diantara mereka.

__ADS_1


Sanggupkah dirinya ketika waktu enam bulannya telah habis nanti?


__ADS_2