A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 44


__ADS_3

Samudera dan Venus sedang menikmati makan malam sederhana mereka ketika sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Samudera.


Sebelah alis Samudera terangkat ketika melihat nama si pemanggil.


Menggeser tombol hijau, Samudera mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Iya.."


"Pak, nyonya besar sekarang sedang menuju Jakarta."


Kata orang dibalik ponselnya.


Samudera menyugar rambutnya dan menariknya sedikit frustasi. Ia menatap wajah Venus dengan tatapan dalam. Kabar dari Rian asistennya yang ia tugaskan mengawasi ibunya cukup menyita perhatiannya.


Tanpa bicara lagi, Samudera segera memutus sambungan teleponnya kemudian meletakkan ponselnya sengan kasar di atas meja makan.


Venus yang memilih tidak peduli dengan kegiatan telponan Samudera tersebut sedikit berjingkak karena kaget.


"Astaghfirullah..." ucapnya pelan.


Samudera tampak berfikir sejenak sebelum kemudian membuka suara.


"Mungkin besok ibu mertua kamu datang ke sini." Katanya memberi tahu.


"Ibu mertua aku? Maksud kamu ibu kamu?" Tanya Venus seperti orang bodoh.


"Memangnya kamu punya suami selain aku jadi berharap ibu mertua kamu itu bukan ibu aku?" Samudera kesal sendiri mendapati pertanyaan Venus yang tidak penting itu.


"Bukan gitu maksud aku." Suara sendok dan piring beradu karena Venus ikut kesal dengan tuduhan tak mendasar Samudera kepadanya.


"Aku kan gak tau kalau kamu masih punya ibu karena saat kita menikah kemarin rasa-rasanya tidak ada satu pun orang yang mengaku keluarga kamu selain Febby yang hadir." Venus mengambil kembali sendoknya kemudian menyendokkan nasi gorengnya ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Entah ini kabar baik atau malah kabar buruk baginya. Tetapi jika menelisik raut wajah Samudera yang tampak tidak senang mendengarnya, itu sudah cukup menjadi sinyal buruk bagi Venus.


Namun seketika sebuah ide tercipta di kepalanya, jika mertuanya tidak merestui pernikahan mereka, bukankah itu adalah kabar baik baginya? Itu artinya ia akan mendapatkan sekutu untuk membantunua pergi dari kehidupan Samudera.


Memikirkannya saja sudah membuat semangat hidup Venus kembali bergelora, semoga saja harapannya terkabul.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" Samudera merasa aneh melihat tingkah Venus yang menurutnya tidak wajar. Bukankah harusnya dia galau karena sebentar lagi akan bertemu ibu mertuanya yang sudah pasti tidak menyukainya?


Samudera bisa mencium aroma-aroma konspirasi di dalam otak Venus.


"Aku tuh lagi bahagia, bentar lagi punya ibu baru." Kilahnya sambil terkekeh.


"Kamu fikir aku tidak tau rencana busuk yang ada di dalam kepala kecilmu itu, hmmm? Jangan mimpi. Ibuku bukan orang yang ramah dan bisa kamu manfaatkan. Jadi aku nasehatkan ke kamu agar pertahankan sikap bar-barmu itu kalau mau hidupmu tidak ia tempatkan di bawah telapak kakinya."


Bukan berniat menakut-nakuti Venus, kenyataannya ibunya memang bukan orang yang akan menerima Venus dengan tangan terbuka. Bahkan mungkin selamanya tidak akan pernah direstui olehnya.


Apalagi jika sampai ia tahu latar belakang Venus, bisa-bisa jantung ibunya bakal kembali kambuh. Tapi semoga saja tidak.


Venus merapikan bekas makanan mereka dan langsung mencucinya sendiri. Bu Wati dan mbak Aida sudah diminta istirahat oleh Venus sejak sore tadi. Samudera hanya meminta dimasakkan nasi goreng sosis untuk makan malamnya, dan itu hal mudah bagi Venus. Apalagi bahan dan peralatan dapur yang dipakai juga tidak banyak, jadi tidak merepotkan sama sekali.


Venus merasa gerah, setiap kali keluar kamar ia harus selalu memakai pakaian yang menutup auratnya. Di rumah ini, hanya di kamar saja Venus punya privasi, padahal dia sangat butuh banyak ruang privasi.


Dia ingin bebas berekspresi di dalam rumah tanpa khawatir ada Alex dan Max yang tiba-tiba nyelonong masuk rumah, atau tiba-tiba mendapati pak Arman dan pak Didu di dapur.


Ingin meminta kepada Samudera, tetapi rasa-rasanya dia sudah terlalu banyak meminta kepada laki-laki arrogant itu. Karena semua yang diberikan kepadanya tidak ada yang gratis, Venus harus menukarnya dengan tubuhnya.


Sementara Venus berharap dia tidak segera hamil, bukan karena Venus tidak ingin memiliki anak. Dia hanya tidak ingin anaknya lahir dari dua orang tua yang tidak saling mencintai.


Salah satu alasan terbesarnya kembali ke kantor adalah agar dirinya bisa punya kesempatan untuk membeli pil penunda hamil. Dia tidak mungkin meminta Alex membelinya, sementara di kantor, jika dirinya tidak bisa, mungkin dia bisa meminta tolong sama mbak Muthia.


Untuk sementara, Venus memang sedang tidak berada di masa suburnya jadi ia masih bisa bernafas lega. Tapi bagaimana nanti?

__ADS_1


Ketika Venus masuk ke dalam kamar, tampak Samudera sudah berada di atas tempat tidur sambil memangku macbooknya. Ada kacamata baca menempel di wajahnya dan headphone menutup telinganya.


Sumpah, dia sangat tampan. Entah sudah berapa kali Venus memuji ketampanan suaminya itu. Seandainya dia bukan Samudera Biru, Venus merasa siap bersaing dengan siapapun untuk mendapatkan cinta lelaki itu. Tapi sayang...sayang sekali.


Venus langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya dan menyikat giginya. Setelah aktivitas bersih-bersihnya itu, Venus mengambil piyama panjang untuk dipakainya.


Venus menatap pantulan dirinya dari kaca besar yang ada di walk in closet itu. Ia menghela nafas panjang. Untuk pertama kalinya setelah dua minggu menikah, Samudera mendahuluinya berada di atas tempat tidur.


Venus merangkak pelan naik ke atas tempat tidur mereka, memperbaiki posisi bantal kepalanya kemudian berbaring memunggungi Samudera dengan penuh kehati-hatian seolah tidak ingin berat tubuhnya membuat tempat tidur bergerak. Perlahan ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga hanya menyisakan bagian kepala saja.


Samudera menarik satu sudut bibirnya ke atas. Ia tidak habis fikir dengan kelakuan istri kecilnya itu yang menurutnya sangat menggemaskan dan membuatnya greget sendiri.


"Ekhhhmmm..." Samudera berdehem mencoba menarik perhatian Venus. Tetapi sepertinya Venus tidak ingin menanggapinya.


Samudera segera menyimpan macbook dan headphonenya di nakas begitu juga dengan kacamata bacanya. Ia ikut membaringkan tubuhnya dengan posisi terlentang. Setelah beberapa saat menunggu reaksi Venus, lama-lama Samudera bosan juga.


Samudera mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah Venus yang sedari tadi memunggunginya. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat dan akhirnya dadanya menempel di punggung Venus.


Masih tidak ada reaksi dari Venus.


Satu tangan dan satu kaki Samudera ia angkat untuk melingkari tubuh Venus. Belum puas dengan itu semua, Samudera mengangkat kepalanya mendekat kemudian ia letakkan di bantal kepala Venus. Bibirnya meniup-niup telinga Venus kemudian berbisik.


"Aku tau kamu belum tidur. Jadi jangan coba pura-pura lupa dengan janjimu." Perlahan tangannya menarik lepas selimut yang membungkus tubuh Venus.


Seketika Venus membalik tubuhnya menghadap Samudera.


"Tapi aku tidak tau caranya." Air muka Venus merona merah seperti kepiting rebus. Matanya menunduk malu, tangannya bergerak gelisah memainkan kancing piyamanya.


Ia tidak sanggup membayangkan dirinya yang memulai permainan panas mereka sekaligus memimpinnya. Sebagaimana permintaan Samudera sebelumnya jika Venus ingin diizinkan kembali bekerja.


"Ikuti nalurimu, sayang. Aku akan memandumu." Ucap Samudera dengan suara serak lalu dengan satu gerakan cepat ia sudah berhasil memindahkan tubuh Venus tengkurap di atas tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2