
"Eh.. pak Andre." Ucap mba Muthia kebingungan sementara yang lain sedikit menganggukkan kepala kemudian berangsung kembali ke kubikel masing-masing. Atasan baru mereka itu tidaklah bisa diajak beramah-ramah layaknya anak muda pada umumnya.
"Ini pak, ibu Venus, kepala departemen kita yang dulu yang bapak gantikan posisinya sebelumnya." Mba Muthia memperkenalkan Venus kepada atasan barunya itu.
"Selamat pagi pak, saya Venus, maaf kalau kedatangan saya mengganggu waktu bekerjanya." Sapa Venus ramah. Ia merasa bersalah karena sudah dengan lancangnya masuk ke ruangan ini mengganggu waktu kerja para staf di sana.
Lelaki yang bernama Andre itu diam beberapa saat menatap Venus kemudian membalas sapaan Venus ikut menangkupkan kedua tangan di dada sebagaimana yang dilakukan Venus.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Mari, pak."
Venus mengangguk hormat kepada pak Andre kemudian melirik mba Muthia.
"Mba, aku duluan yah, lain kali kita cerita-cerita lagi." Ucap Venus yang merasa tidak mungkin lagi berlama-lama berada di sana.
"Nomor HP kamu?" Mba Muthia meminta nomor ponsel Venus karena nomor yang lama sama sekali sudah tidak bisa dihubungi.
Venus mengeluarkan ponsel barunya dari saku roknya kemudian meminta mba Muthia menuliskan nomornya di sana. Venus menekan tombol hijau kemudian mematikannya setelah ia yakin panggilannya sudah masuk ke nomor yang diberi mba Muthia tadi.
"Oke, bye!" Ucap Venus sambil memberi tanda jari jempol dan kelingking di telinga bahwa nanti dia akan menghubungi mba Muthia via telepon.
"Oh.. jadi itu yang namanya Venus? Cantik yah?" Ujar pak Andre setelah memastikan Venus meninggalkan ruangan departemen perencanaan.
"Iya pak, cantik. Banyak yang naksir dia, tapi dianya sudah sold out, udah diikat sama pak bosss kita." Jawab mba Muthia menjelaskan status Venus saat ini.
"Jadi maksud kamu dia itu istri pak Sam?" Tanyanya penasaran.
"Iya pak, istri pak Sam."
Pak Andre hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O sambil mengangguk-angguk kemudian kembali masuk ke dalam ruangannya tanpa mengatakan apa-apa lagi.
__ADS_1
Venus bingung sendiri mau kemana lagi untuk membunuh waktunya, tidak mungkin kembali ke ruangan Samudera. Malas banget bertemu dengan ibunya Samudera, apalagi sama anaknya mama mertuanya itu.
Akhirnya Venus memutuskan tetap kembali naik ke lantai empat, tetapi tujuannya bukan ke ruangan Samudera, ia memilih menyegarkan fikirannya di area green house. Ia butuh ketenangan, butuh waktu sendiri.
Venus mengagumi maha karya Samudera yang menghadirkan perkebunan sayuran hidroponik di atas gedung ini. Tidak hanya hidroponik sih, ada juga banyak pot yang berjejer di pinggiran dak lantai.
Berbagai jenis sayuran tumbuh berwarna warni memberikan keindahan tersendiri bagi yang memandangnya.
Venus berjongkok ketika langkahnya berhenti di area pembibitan. Venus hanya melihatnya dari luar karena bibit-bibit itu di tempatkan di ruang tersendiri yang dibatasi kaca dengan ruang penanaman.
Meski sangat tertarik, Venus tidak berani menyentuh apapun yang ada di sana. Baginya, cukup mengagumi keindahannya dengan mata saja, ia tidak ingin serakah dengan menyentuhnya apalagi memanennya sendiri.
Di sini sangat sejuk meskipun cuaca ibu kota begitu panas dan terik karena di sini dilengkapi dengan alat pembuat embun buatan.
Venus semakin mengeksplore setiap sudut kebun tersebut dan kini berakhir di sebuah mini kitchen lengkap dengan mini barnya sekalian.
Venus begitu antusias demi melihat dapur tersebut, ia seperti tersesat di surga. Oh, jika ini adalah mimpi, maka siapapun tolong jangan pernah bangunkan dia.
"Ekkhhhmmmm..." Sebuah deheman mengalihkan dunia Venus.
"Sudah selesai garden tournya?" Tanya Samudera sambil bersandar di salah satu pilar di sana.
"Sam... kenapa aku baru tau kalau di sini itu ada kepingan surga yang kamu sembunyikan?" Tanya Venus antusias mendekati Samudera. "Aku boleh ajak anak-anak di departemen perencanaan barbequean di sini gak? Pasti asyik banget!" Imbuhnya dengan wajah berseri karena membayangkan keseruannya bila itu terwujud.
"Awwww... sakit, Sam!" Keluh Venus mendapati hidungnya dicubit Samudera.
"Enggak!!! Tolak Samudera tegas.
"Ayolah, please! Masak sama istri sendiri pelit sih?"
__ADS_1
"Oh.. jadi kamu sekarang ngaku sebagai istri aku? Yang tadi ngaku ****** halal aku itu siapa?"
Skakmate! Venus kehilangan kata.
"Kenapa diam? Bagaimana kalau ada orang lain yang dengar ucapan kamu tadi? Itu kamu sendiri loh yang menggelari diri dengan gelar sialan itu, bukan aku! Apa kamu tidak takut orang lain memandang kamu hina?"
Venus memejamkan matanya, menghirup udara banyak-banyak untuk mengisi rongga pernafasannya.
"Bukankah bagimu aku memang tidak lebih dari seorang ******?" Suara Venus tercekak di tenggorokan, matanya sudah memanas karena ada yang mendesak di sana ingin segera dikeluarkan. "Apa kamu lupa kalau kamu selalu membayarku setiap kali kita habis melakukan hubungan suami istri? Aku ini hanya perempuan bayaran bukan? Bukankah itu memang dinamakan ja---"
"Cukup!!!" Hardik Samudera memotong ucapan Venus. Nafasnya memburu, dadanya terasa kembang kempis menahan amarah. Entah kenapa dia begitu marah mendengar Venus mengatakan dirinya dengan sebutan hina itu.
"Hanya aku yang boleh menyebut kata-kata hina itu kepada dirimu, tidak ada yang boleh mengatakannya, termasuk dirimu." Samudera menarik tubuh Venus bersandar di pillar yang tadi ia tempati bersandar, kedua tangannya menahan pundak Venus.
Venus membuang wajahnya ke sisi lain, enggan menatap Samudera. Air matanya sudah mengalir, pun dengan hidungnya yang tak mau kalah memproduksi air.
Samudera menarik dagu Venus agar terangkat ke atas. Venus masih enggan menatapnya, menatap mata Samudera hanya akan membuatnya semakin sakit dan itu akan memancing tangisnya meledak. Sungguh Venus tidak ingin terlihat lemah, ingin rasanya ia mengumpat air matanya yang sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama.
"Lihat aku, Ve!"
Venus menggeleng, dadanya sudah terasa sesak menahan tangisnya yang sudah ingin meledak.
Samudera menundukkan wajahnya sejajar dengan wajah Venus, kedua tangannya membingkai wajah Venus.
"Lihat aku!" Kembali perintah itu diucapkan Samudera, seperti biasa, pada akhirnya dia akan menjadi penurut saat sudah rapuh seperti ini.
Venus mengangkat pandangannya yang menampakkan sorot putus asa, sementara Samudera menatapnya dengan pandangan yang entah.
Tidak tahan dengan semua rasa yang hadir dari tatapan instens itu, Venus malah menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang Samudera. Kembali ia menumpahkan tangisnya di sana.
__ADS_1
Mengapa Samudera selalu bisa membuatnya menangis lepas seperti ini sementara disaat yang sama, pelukannya selalu bisa menenangkan semua kegundahan hatinya.
Nyaman... dalam dekapan itu Venus selalu menemukan ketenangan dan pelepasan semua beban yang terkadang terasa menghimpit dadanya.