
"Memangnya kenapa kalau sudah lewat jam 10 malam? Pacar kamu yang tadi itu laki-laki, aku juga laki-laki, pacar kamu yang satunya lagi yang temani kamu ke toilet tadi itu juga laki-laki... apa bedanya? Wah.. kamu sangat hebat, baru lebih seminggu di sini sudah dapat dua pacar. Jangan-jangan pacar kamu sudah bertebaran dimana-mana sebelum pindah ke Jakarta." Sarkas Samudera.
Kedua tangan Venus terkepal, Venus menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya perlahan. Lagi-lagi Samudera merendahkannya, lagi-lagi Samudera menganggapnya seperti perempuan murahan. Entah terbuat dari apa otak laki-laki yang ada di sampingnya ini.
Venus tidak ingin terbawa emosi meski hatinya panas. Terkadang, mengabaikan perlakuan buruk orang lain jauh lebih melukai perasaannya dibanding membalasnya dengan perlakuan yang sama.
"Dua laki-laki yang tadi bapak lihat itu staf saya, pak!" Ucap Venus lemah. "Saya tidak hanya berdua atau bertiga dengan mereka, tapi bersama semua staf departemen saya. Saya ke toilet bersama Irawan karena yang lain memang sedang tidak ada yang merasa hendak ke toilet dan saya pulang bersama Rizky karena yang searah dengan tempat tinggal saya hanya dia. Yang lain tidak. Tidak mungkin saya merepotkan mba Muthia atau yang lainnya. Saya sudah menolak, saya mengatakan hendak naik grab, tapi bukankah tidak ada salahnya saya menumpang Rizky? toh saya sudah kenal dia dibanding mendapatkan sopir random dari grab?"
Terserah Samudera mau percaya atau tidak, yang penting Venus sudah menceritakan apa yang sebenarnya yang tidak diketahui oleh Samudera.
"Bapak bisa konfirmasi sama mba Muthia sekertaris saya atau ibu Arnes kalau tidak percaya sama saya." Imbuh Venus lagi menutup pembelaannya.
Samudera tidak menanggapi penjelasan Venus. Dia sibuk dengan fikirannya sendiri, merutuki kebodohannya dan tingkah konyolnya. Lagian apa urusannya kalau Venus mau jalan dengan laki-laki manapun yang disukainya. Venus bukan siapa-siapanya, tapi entah kenapa hatinya tidak terima melihat Venus berjalan dengan laki-laki lain.
Samudera menghentikan mobilnya tepat di depan lobby apartemen Venus.
Venus yang menyadari dimana mereka sekarang menatap bingung ke arah Samudera.
"Bukankah bapak ada perlu?" Tanya Venus masih dengan wajah bingungnya.
"Memangnya kamu berharap saya bawa kemana malam-malam begini?" Tanyanya dengan nada tinggi.
"Ti-tidak kemana-mana. Tapi maaf, pak. Saya tidak bisa membawa pria yang bukan keluarga saya masuk ke dalam unit saya kalau hanya berdua saja." Jawab Venus sedikit gelagapan.
"Saya tidak pernah bilang kalau saya mau ikut ke unit kamu." Samudera memojokkan Venus yang fikirannya terlalu kejauhan. Samudera juga mengerti kalau Venus tidak mungkin membawanya masuk ke dalam unit apartemennya.
"Jadi.. bapak mau bicara apa? Mungkin kafetaria apartemen masih buka." Venus akhirnya memberi opsi yang lebih masuk akal untuk mereka berdua bisa berbicara dengan nyaman.
"Masuklah!" Perintah Sam memalingkan mukanya ke arah gedung apartemen Venus.
"Tapi-
__ADS_1
"Masuk atau saya bawa kamu ke rumah saya!" Ucap Samudera tidak ingin dibantah.
"Baik pak. Terima kasih." Venus segera keluar dari mobil Samudera.
Samudera pun langsung melajukan mobilnya tepat setelah pintu mobil tertutup sempurna.
Venus hanya berdiri mematung menatapi mobil Samudera yang menghilang di kepekatannya malam tanpa rembulan kali ini.
"
"
Samudera mencengkeram roda kemudinya dengan kuat hingga membuat buku-buku tangannya tampak tercetak jelas. Ia menyandarkan siku tangan kanannya di pintu mobil dengan ujung jari telunjuk di bibirnya.
"Sial..." umpatnya memukul setir mobil.
"Bodoh..bodoh..bodoh.." Samudera masih mengumpati dirinya.
Entah apa yang difikirkan Venus saat ini, begitupun dengan staf laki-laki yang bersama Venus di parkiran tadi.
Hanya karena mengikuti dorongan hatinya yang tidak senang melihat Venus bersama laki-laki lain, ia tega meninggalkan adik sepupunya seorang diri dan memilih mengejar Venus.
Samudera memutuskan memutar setir mobilnya ke suatu tempat. Dia tidak ingin kembali ke rumahnya malam ini. Rasanya dia sudah gila, semenjak bertemu Venus, bayangan wajah gadis itu selalu membayang di pelupuk matanya.
Banyak yang lebih cantik dan tentu saja sangat seksi yang datang silih berganti mendekatinya, namun tidak ada yang bisa membuatnya ketar ketir seperti saat ini.
Tiba di sebuah kelab malam terkenal di ibukota, Samudera memarkirkan mobilnya di salah satu parkiran khusus untuk pelanggan VIP.
Sudah lama Samudera menjadi pelanggan VIP di kelab malam tersebut, dia pun memiliki 20% saham di sana.
Sebelumnya Samudera sudah menghubungi Robby agar segera datang menyusulnya ke sana. Samudera takut jika dirinya minum terlalu banyak dan ada yang mengambil kesempatan itu untuk memanfaatkannya atau bisa jadi ada yang ingin menjebaknya.
__ADS_1
Samudera menuju ruang VIP yang biasa dipakainya. Dia lebih senang menghabiskan beberapa minuman keras dan menghabiskan beberapa puntung rokok saat fikirannya kacau seperti saat ini.
Sebenarnya dia bukan perokok aktif, dia juga bukan pemabuk. Hanya dalam kondisi tertentu dirinya menyentuh dua barang tersebut.
Tujuannya datang ke kelab malam pun tidak selalu karena ingin hasratnya dipuaskan oleh perempuan sewaannya. Itupun hanya dia yang dipuaskan, Samudera sama sekali tidak ingin membuang energinya untuk memuaskan balik ******-****** itu.
Pintu terbuka dari luar dan masuklah beberapa pelayan perempuan muda yang berpakaian minim menghidangkan beberapa botol minuman dan cemilan di mejanya.
Samudera menatap lapar tubuh perempuan-perempuan itu. Otaknya seketika sibuk membandingkannya dengan penampilan Venus.
"Sial.." Kembali Samudera mengumpat kasar.
Ketiga pelayan perempuan tadi sempat kaget karena Samudera mengumpat dengan memukul meja.
"Keluar dari sini!" Hardiknya.
"Baik tuan, permisi!"
Ketiga pelayan itu pun saling menatap kemudian segera meninggalkan Samudera di sana. Tidak biasanya Samudera bersikap kasar sepertk itu. Samudera sudah sangat terkenal sebagai salah satu pelanggan yang paling royal di sini.
Samudera menggeram kuat, dia frustasi sendiri dengan apa yang bergejolak di dalam kepalanya.
"Venus... apanya yang menarik? Yang kelihatan hanya wajah dan tangannya. Bentuk tubuhnya sama sekali tidak ada menarik-menariknya. Tapi kenapa bikin kelalaku pening seperti ini?" Gumam Samudera bermonolog.
Samudera masih termenung saat Robby datang menghampirinya. Menyadari kedatangan Robby, Samudera menoleh kepadanya kemudian detik selanjutnya ia meraih botol minumannya lalu meneguknya beberapa kali.
"Apa bapak baik-baik saja?" Tanya Robby khawatir.
"Tidak usah bersikap formal kalau lagi santai seperti ini." Ucap Samudera kembali meneguk minumannya.
Robby mendesah kuat kemudian ikut bergabung duduk di sisi Samudera. Robby hanya mengambil cemilan lalu menikmatinya. Dia tidak banyak bicara menyikapi keadaan Samudera yang tampak kacau.
__ADS_1