A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 74


__ADS_3

Venus terbakar dalam gairah dan kenikmatan bertubi-tubi yang dicurahkan Samudera kepadanya. Ia seolah tersesat di dalam perasaannya sendiri. Tubuhnya menerima semuanya, bukan hanya menerima saja, tetapi jelas mendamba dan menginginkan lebih dan tidak pernah merasa cukup. Ia selalu merasa serakah setiap kali Samudera menyentuhnya dengan cara berbeda dan ia sukai.


Sementara di dalam kepalanya, selalu saja meributkan banyak hal. Kepalanya terlalu banyak bicara sementara mulutnya terkunci. Rasanya tidak ingin mengakhiri semua kenikmatan yang ditawarkan Samudera kepadanya.


Samudera memasukkan kedua tangannya ke bawah ketiak Venus, menarik semua bobot tubuh mereka bangkit dari pembaringan. Venus mengalungkan kedua tangannya ke leher Samudera begitu pun dengan kedua kakinya yang membelit perut Suaminya itu.


Dengan kesadaran yang masih tertinggal sedikit, Samudera membawa langkahnya ke kamarnya karena tidak ingin kegiatannya bersama Venus mengganggu tidur Alea.


Sesampainya di kamarnya, Samudera meletakkan Venus di atas meja membuat semua barang di atas meja berjatuhan karena dorongan tubuh Venus. Tangan keduanya bergerak liar dan tidak sabaran saling melepas kain yang masih menempel di tubuh mereka.


Mereka saling memberi, saling menerima, saling memuaskan, saling mendamba dan tidak ada yang ingin mengalah.


Senyum di bibir Samudera menyungging penuh kemenangan melihat betapa bergairahnya istrinya saat ini, belum pernah sekalipun dirinya mendapati Venus yang begitu lepas, tulus dan penuh perasaan menyambut dan memberinya perlawanan yang jauh lebih memabukkan.


"Sam..." Suara parau itu keluar mengalun lembut di bibir Venus yang bergerak gelisah di dalam kungkungan suaminya.


"Iya.. sayang! Do you like it? Hmmm? Katakan sayang... katakan kalau kamu menyukainya!"


"Sam.. eughh.. ya, Sam!"


Samudera menyeringai puas dan semakin bergerak intens membuat Venus tidak kuat lagi dan meledak dalam pusaran keindahan rasa.


Samudera menatap lekat wajah penuh keringat dan rasa puas itu, merasakan debaran yang bertalu-talu di jantung Venus dengan nafas yang terengah-engah.


Ketika netra Venus terbuka dan menangkap mata bening dan teduh suaminya yang menatapnya dengan tatapan yang baru kali ini dilihatnya, Venus kembali terbuai.


"Apakah kamu masih membenciku?" Tanya Samudera.


Venus menarik ujung bibirnya, tersenyum kemudian mengangguk. "Aku masih membencimu, sangat-sangat membencimu hingga membuat dadaku sesak dan sakit. Tapi aku lebih membenci ketika kamu jauh dan mengabaikan aku." Air mata Venus seketika meluncur deras.


"Kamu itu jahat, kasar, kurang ajar, menjengkelkan, tapi aku tetap suka. Aku bodoh, bukan?" Bibir Venus mencebik, tangannya mencubit gemas pinggang telanjang Samudera namun bukannya mengeluh kesakitan, mata Samudera malah melebar mendengar pengakuan Venus yang katanya suka kepadanya. Senyumnya pun ikut melebar.

__ADS_1


Samudera membelai rambut Venus, kemudian bergerak menyapu semua wajahnya dan berakhir di bibir pink alami milik Venus.


"Bergantunglah kepadaku, cintai aku dan jangan lagi membenciku!" Ucapnya tegas dan penuh penekanan. Itu bukan permohonan, tetapi perintah yang tidak bisa diabaikan Venus.


Kembali Samudera melayangkan serangan mautnya yang memabukkan dan melenakan. Hingga diujung ledakan mereka, Venus meneriakkan satu kalimat sakral yang tidak mungkin pernah dilupakan oleh Samudera seumur hidupnya.


"I love you, Sam!"


---


---


Merasakan nafas Samudera yang hangat dan teratur di dadanya, Venus tanpa ragu membelai rambut suaminya itu.


Beginilah Samudera setiap kali mereka habis bercinta, dia lebih suka memeluk Venus dengan posisi kepala Venus lebih tinggi darinya sehingga kepalanya akan berada di dada Venus. Bukannya mesum, hanya saja ia paling suka saat Venus membelai ringan kepalanya dan dengan posisi seperti ini juga, dirinya bisa menghirup segala jenis aroma tubuh Venus, dari aroma dadanya yang kini serupa aroma Alea, aroma leher dan bahkan aroma lipatan ketiak Venus. Semua itu menenangkan melebihi harum aroma teraphy.


Venus beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, saat ini jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima menit dini hari. Tidak berlama-lama, Venus menyelesaikan urusannya di kamar mandi dan berpakaian rapi, mengambil buku agenda yang sudah disiapkannya untuk program MPASI Alea hingga Alea berumur satu tahun nanti.


"Samuderaku...


Maaf.. aku pergi, memenuhi janji enam bulanku kepadamu. Bagaimana? Bukankah aku adalah orang yang memegang teguh kata-katanya?


Kutitipkan Aleaku kepadamu. Jaga dan lindungi dirinya dengan nyawamu, dan jika suatu saat kamu menemukan perempuan yang kamu cintai dan ingin menikahinya, nikahilah dia, aku ikhlas.


Hanya satu pintaku, tolong jangan ceraikan aku, izinkan aku terus menjadi istrimu meskipun itu hanya status belaka dan tidak berarti bagimu. Aku sudah cukupkan hatiku dengan hanya dirimu seorang. Kamu sudah berhasil mengambil semua cintaku, selamat! Tetapi aku tidak bisa bergantung kepada orang yang tidak kumiliki hatinya, kamu terlihat begitu jauh dan sulit untuk aku gapai.


Kamu seperti matahari yang dikelilingi oleh seluruh benda di galaksi bimasakti. Sementara aku hanyalah Venus yang bergerak sendirian berputar searah jarum jam ketika yang lain bergerak sebaliknya. Aku adalah Venus yang rotasinya menantang semuanya hanya agar bisa melihatmu terbit di sana meski itu dari barat sekalipun.


Tentang kecelakaan kedua orang tuaku, itu bukan salahmu, bukan pula salah takdir yang membawa kita sampai pada titik ini. Aku sudah ikhlas, tidak ada dendam sama sekali, aku harap kamu pun bisa rela menerima kenyataan ini.


Titip rinduku kepada Alea, kelak ketika dia sudah besar dan bertanya tentangku, tolong katakan kepadanya bahwa aku sangat menyayanginya melebihi apapun di dunia ini.

__ADS_1


Samuderaku yang terkasih...


Sekali lagi kumohon kepadamu, jangan ceraikan aku karena kelak di surga-Nya nanti aku akan datang mencarimu dan melamarmu menjadi suamiku di sana.


Kubawa cincin pernikahan kita, aku harus meminta izinmu karena aku tau harganya bisa menjamin hidupku selama 10 tahun jika kugadaikan ke pegadaian. Hehe.. maaf, bercanda..


Terima kasih...


Terima kasih karena sudah mengenalkanku kepada rasa asing yang belum pernah kukenal sebelumnya. Entah itu rasa cinta, rasa rindu, rasa kecewa dan juga sekaligus rasa sakit.


Aku pergi, maaf!


-V-


Sesak.. sangat sesak rasanya dadanya saat ini, air matanya terus mengalir sepanjang menuliskan bait-bait perpisahan itu.


Rasanya sangat berat dan sakit. Tetapi itulah keputusannya. Pergi membawa rasa cinta, kecewa dan sakitnya sendiri.


Venus sudah memikirkan semuanya, apalagi setelah mendengar pembicaraan Samudera dan Robby tadi, keyakinannya semakin bulat.


Mereka memang tidak ditakdirkan hidup bersama.


Setelahnya, Venus mengambil semua barang dan benda berharga yang pernah Samudera berikan kepadanya dari dalam laci penyimpanan di lemari khusus untuknya di dalam walk in closet itu.


Hanya satu yang disisakan Venus untuk dirinya sendiri yaitu cincin pernikahan mereka.


Venus kembali mendekati Samudera dan mencium tangannya penuh takzim.


Tidak ingin terlalu lama karena sadar hatinya tidak kuat maka langkah Venus menuju kamar Alea. Di sana ia pun tidak lama, belum berpisah saja hatinya sudah menangis karena rindu.


Dan pada akhirnya, langkah kakinya pun perlahan menjauh dari kediaman suaminya yang megah itu. Ia pergi, bersama luka dan rindunya yang tidak akan pernah hilang di hatinya!

__ADS_1


__ADS_2