
"Ibu..." Venus terkesiap melihat gerak bibir Samudera kemudian ikut melihat ke arah pandang Samudera.
Kedua mata Venus melebar, sorot mata itu begitu tajam memandang mereka berdua.
Meski sedikit panik, tetapi Samudera masih dengan santainya memindahkan tubuh Venus dari pangkuannya menjadi duduk di atas meja. Mudah saja baginya mengangkat tubuh Venus yang sangat mungil jika dibandingkan dengan dirinya.
Tentu saja Venus tidak nyaman dengan posisi tersebut, akhirnya ia turun dari meja dan berdiri di samping Samudera.
Perempuan paruh baya yang sudah bisa ditebak Venus bahwa itu adalah ibu mertuanya sebagaimana yang dimaksud Samudera semalam, kini berjalan dengan anggun mendekati mereka, masih dengan tatapan tajamnya yang tidak lepas dari matanya. Wajah itu tampak mengeras dan kemerahan.
"Ibu kapan datang? Kenapa tidak mengabariku?" Samudera berjalan menyambut kedatangan sang ibu kemudian memeluk dan memberi kecupan di kedua pipinya. Itu adalah kebiasaan Samudera setiap kali baru bertemu dengan ibunya.
"Memangnya kalau ibu mengabari kamu, kamu akan peduli gitu?" Tanya ibu Jeny sarkas. Tatapannya masih mengarah ke Venus, mengamatinya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Ibu Jeny memilih berbelok ke arah sofa kemudian duduk di sana. Samudera mengikutinya lalu duduk di sisi ibunya. Berbeda dengan Venus yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Dia siapa? Apa dia salah satu perempuan penghangat ranjangmu?" Tanya ibu Jeny tanpa memikirkan perasaan Venus. Ia menatap jijik kepadanya.
"Dia..
"Iya nyonya, anda benar sekali, saya adalah sesuai persangkaan ibu sekaligus pembantu pak Samudera di sini." Jawab Venus cepat memotong ucapan Samudera yang hendak mengenalkan dirinya.
Tentu saja dengan senang hati Venus mengakui tuduhan ibu mertuanya itu, selain karena kenyataannya Samudera memang menganggapnya seperti itu, dia juga tidak mau terlihat lemah dan tampak seperti perempuan yang mudah ditindas.
Ibu Jeny sedikit tersentak mendengar pengakuan gadis tersebut padahal ia sudah sangat yakin bahwa gadis inilah yang telah diakui sebagai istri oleh Samudera.
'Tinggi juga nyali gadis ini.' Batin ibu Jeny.
"Bu, dia istri aku." Samudera mengoreksi jawaban Venus. Tatapannya tajam penuh ancaman ke arah Venus saat ini.
"Jadi yang benar yang mana?" Ibu Jeny berusaha membaca situasi antara putranya dengan gadis itu. Ia cukup terkejut dengan dua jawaban yang bertolak belakang dari mereka.
"Ah, maksudnya saya adalah pemuas halalnya pak Samudera, nyonya." Venus sedikit terkekeh lalu mengangkat jari tangannya membentuk huruf V.
"Venus!!!"
Yaa Tuhan... Samudera benar-benar tidak habis fikir dengan apa yang ada di dalam kepala Venus saat ini. Dimana-mana, mana ada perempuan yang mau dikatakan seperti itu meskipun kenyataannya memang seperti itu. Pelakor saja tidak ada yang mau disebut pelakor. Ini istri, istrinya malah dengan entengnya mengatakan dirinya seperti itu. Apa tadi katanya? pemuas halal? Minta diajar mulutnya memang.
__ADS_1
"Ibu...
Ibu Jeny melambaikan tangannya tanda tidak ingin mendengar pembelaan dari putra kesayangannya itu. Dia hanya tertarik dengan istri Samudera. Nyalinya terlalu besar, belum pernah sekalipun ia melihat ada yang berani berkata seenaknya di hadapan Samudera. Kalaupun ada, sudah bisa dipastikan Samudera akan menghancurkannya.
Tetapi lihatlah putranya itu, ia tampak lempeng saja dan tidak terganggu dengan ucapan istrinya.
Oh... ibu Jeny pusing sendiri. Apa yang ia takutkan sepertinya kini sudah terjadi.
Putra kecilnya sudah mulai jatuh cinta sejatuh-jatuhnya tetapi perempuan yang dia cintai malah sebaliknya. Cinta sepihak lagi kah?
Ibu Jeny memegang dadanya lalu menggeleng pelan.
"Ibu.. ibu tidak apa-apa? Dimana yang sakit?" Tanya Samudera khawatir.
"Ceraikan dia." Perintah ibunya.
Samudera tercengang sementara Venus bersorak ria di dalam hati.
"Ibu tau bukan, bagiku menikah hanya sekali. Tidak akan ada yang kedua dan seterusnya." Tolaknya dengan keras.
"Tetapi dia tidak mencintai kamu, Sam!"
"Aku tidak butuh dicintai, bu. Aku sudah biasa hidup tanpa cinta, sungguh..aku benar-benar tidak butuh dicintai." Sorot mata Samudera mengarah ke Venus saat mengucapkan kalimat tersebut. Begitupun dengan Venus yang juga ikut menatapnya.
Venus bisa melihat luka di dalam sorot mata itu. Tetapi Venus pun sudah membulatkan tekadnya tidak akan jatuh cinta kepada Samudera apapun yang akan terjadi. Lelaki itu tidak ingin dicintai...
Ketegangan antara anak dan ibu itu diambil kesempatan oleh Venus untuk bisa menghindari Samudera. Setidaknya beberapa saat ke depan Samudera akan fokus kepada ibunya, itu artinya dia punya kesempatan untuk bertemu dengan para staffnya di bagian perencanaan.
"Saya permisi sebentar, Nyoya!" Bagaimana pun Venus masih punya sopan santun kepada orang tua.
Ibu Jeny tidak menggubris, hanya Samudera yang mengangguk seolah memberinya kode bahwa ia butuh waktu berdua dengan perempuan yang telah melahirkannya itu.
"
"
"Akhirnya bebas juga!" Pekik Venus dengan suara tertahan.
__ADS_1
Venus sedikit berlari menuruni tangga ke lantai tiga tujuannya. Dia begitu bersemangat hendak menyapa rekan-rekannya yang telah setahun ini bersamanya bekerja dalam satu tim yang solid.
Saat membuka pintu, Irawan yang paling duluan menyadarinya.
"Bu Venus..." ucapnya girang.
Perhatian yang lain pun akhirnya tersita setelah mendengar nama Venus disebut Irawan.
"Bu Venus..." Ucap mereka semua.
Semua langsung berdiri dan beranjak dari tempat duduknya menghampiri Venus.
"Bu Venus... MaasyaaAllah.. kami kangen loh, bu!" Ucap Maya yang diangguki oleh mereka yang ada di sana.
Sontak Sita, Maya, Ervi, ibu Arnes dan mba Muthia memeluk Venus penuh haru.
"Yah.. kita-kita hanya bisa nonton mereka berpelukan." Celetuk pak Hariz yang sontak membuat mereka tertawa.
"Udah ada pawangnya, pak... posesif pula!" Ujar Rezky menimpali.
Venus tersipu mendengar penuturan Rezky. Berarti pernikahannya dengan Samudera sudah diketahui orang kantor.
"Iya nih.. bu Venus tiba-tiba aja ngilang gitu, eh..tau-tau kita-kita dengar kabar kalau ibu pulang kampung karena mau nikah. Diam-diam tapi sat set sat set gitu yah bu. Keren!" Giliran Sita yang antusias membahasnya tetapi justru dari penuturan merekalah Venus mulai paham apa yang dimaksud pak Robby kalau dia sudah mengatur semuanya.
"Terima kasih yah, maaf gak sempat ngasih tau kalian, acaranya dadakan, mana di kampung pula." Ucap Venus meminta dimaklumi.
Tatapan Venus kini bertemu dengan mba Muthia yang sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan mereka.
"Apa kabar, mba? Aku kangen loh." Venus menatap mba Muthia penuh arti.
"Alhamdulillah, baik bu boss." Jawab mba Muthia sambil terkekeh.
"Ih.. mba apaan sih? Biasa aja, aku tetap Venus seperti yang dulu mba kenal." Venus merasa jadi enak sendiri dengan posisinya saat ini.
"Loh.. ada apa ini rame-rame?"
Seketika atensi mereka semua beralih kepada sumber suara yang berasal dari bekas ruangan Venus itu.
__ADS_1