
"Kalau boleh tau, apa niat atau apa motivasi nak Samudera memilih Islam sebagai agamanya? Karena dari informasi yang saya terima sebelumnya, nak Samudera ini seorang atheis. Niat ini penting untuk diluruskan karena di dalam sebuah hadits dikatakan bahwa- amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah."
Deg... ada yang mencubit hati Samudera ketika mendengar akhir nukilan hadits tadi.
"Nah, dari hadits tadi jelas sekali bisa kita simpulkan bahwa setiap amal perbuatan yang tidak diniatkan karena Allah semata maka akan sia-sia, tidak ada hasil sama sekali. Jadi, saya nasehatkan ke nak Samudera, karena saya dengar juga bahwa setelah ini nak Samudera mau menikahi gadis pujaannya yang beragama Islam, maka saya berharap nak Samudera meluruskan niatnya. Kalau jodoh tidak akan kemana tetapi kalau niatnya salah takutnya ujungnya juga ikutan salah." Ucap ustadz Yakub menasehati Samudera tentang pentingnya meluruskan niat dalam keputusannya tersebut.
Samudera yang sedari tadi menunduk menyimak penuh khidmat nasehat sang ustadz kini mengangkat wajahnya untuk melihat wajah orang yang memberinya peringatan itu. Tidak terasa ada yang terasa panas di matanya, ia begitu tersentil mendengarnya.
Samudera menarik nafas panjang kemudian menghelanya pelan.
"Jujur ustadz, untuk urusan memilih Islam sebagai agama yang akan saya yakini mulai hari ini dan seterusnya, itu sudah lama sekali saya niatkan. Memang saya akan menikahi gadis muslimah, tapi itu hanya menjadi sebuah momentum bagi saya untuk merealisasikan niat saya ini, jadi jelas motivasi saya bukan hanya masalah ingin menikah, tetapi itu memang adalah panggilan hati. Saya bukan orang suci, ustadz. Saya ini bergelimangan dosa dan maksiat, tetapi dari hasil pencarian dan oerenungan panjang saya, hanya Islam yang bisa memagari tubuh saya dari kembali melakukan semua dosa-dosa itu. Hanya Islam yang secara tegas mengharamkan zina, alkohol dan judi, sementara itu bisa dibilang adalah hobby saya selain menghasilkan uang." Samudera tertunduk, menggeleng sendiri menyadari kalimat akhirnya, betapa ia telah banyak berkubang di dalam dosa yang terus mencuri ketenangan jiwanya.
Ustadz Yakub menepuk pelan bahu Samudera. Menguatkan, seolah tepukan itu berarti sebuah cambukan untuk dirinya untuk bangkit dan menjadi pribadi yang baru setelah ini.
"Setiap orang pernah melakukan kesalahan, kalau tidak itu bukan manusia, tetapi malaikat. Dan alangkah beruntungnya bagi manusia yang berhasil menyadari kesalahannya sebelum semuanya terlambat, sebelum ajal menjemput karena semuanya akan sia-sia ketika nafas sudah ada di ujung tenggorokan."
"Baiklah, setelah ini...saya berharap nak Samudera jangan berhenti belajar, tetapi mulailah belajar karena Islam itu adalah agama yang mencintai para penuntut ilmu. Tidaklah akan sama terang dengan gelap, tidak akan sama orang yang berilmu dengan tidak atau kurang berilmu, oleh karena itu perbaiki lingkungan nak Samudera setelah ini. Rajin-rajinlah datang ke mesjid maka nak Samudera akan dipertemukan dengan orang-orang yang hatinya tertaut kepada kebaikan dan tinggalkanlah tempat-tempat maksiat, jika perlu gantilah teman-teman nak Samudera yang sekiranya nak Samudera rasa akan mempersulit proses perubahan ke arah yang baik nantinya. Bergaul itu memang boleh dengan siapa saja, tetapi memilih teman adalah hak kita sepenuhnya." Pungkas ustadz Yakub mengakhiri nasehatnya kemudian bersegera masuk ke inti daripada pertemuan mereka malam ini.
Samudera tidak bisa menahan desakan air mata yang keluar begitu saja seketika setelah dirinya selesai mengucapkan ikrar keislamannya. Tubuhnya berguncang menahan gelombang rasa haru yang lepas begitu saja.
Robby mendekati Samudera setelah ia merasa Samudera sudah cukup terlalu lama larut dalam suasana kebatinannya. Tidak bisa dipungkiri, ada banyak perasaan lega yang menghampiri Robby demi melihat keteguhan hati Samudera untuk mulai menata kembali kehidupannya menuju ke arah yang lebih baik.
"Bapak mau diantar langsung pulang ke rumah atau masih ada urusan setelah ini?" Tanya Robby sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Aku sudah terlalu lelah malam ini, antarkan aku pulang ke rumah. Tolong pastikan akad nikahnya besok jam 10 pagi di Mesjid lingkungan rumah saja. Jangan lupa mengundang warga sekitar dan persiapkan jamuan terbaik untuk mereka."
__ADS_1
Setelah itu, Samudera langsung beranjak terlebih dahulu menuju mobil yang sudah terparkir tidak jauh di depan pintu keluar Mesjid.
Robby hanya bisa pasrah dan menggeleng lemah. Sikap arrogant dan semaunya saja ternyata belum hilang. Mungkin setelah ini Robby akan dicaci maki oleh pengusaha catering langganan untuk setiap acara-acara perusahaan Samudera, tetapi ini sudah titah sang pimpinan, semua hanya boleh menurut dan melakukan yang terbaik.
Mengambil ponsel dari saku celananya, kemudian memanggil nomor seseorang yang langsung dijawab dengan malas dari seberang sana.
"Siapkan tim terbaik kamu untuk menyiapkan 5,000 porsi makanan paket lengkap dan sudah harus siap besok jam 9 pagi di lokasi. Nanti akan saya kirimkan informasi lokasinya dimana."
Klik...
Telepon langsung Robby matikan tanpa menunggu jawaban dari sang penerima telepon.
Robby langsung berjalan keluar dari Mesjid menuju mobil yang ditumpangi Sam. Wajahnya dingin, tatapannya pun tajam. Menutup pintu mobil dengan sedikit kasar untuk menyalurkan kekesalannya kepada Samudera.
Sementara Samudera hanya menatapnya jengah tanpa merasa bersalah. Ia memilih menutup matanya setelah supir menjalankan mobil meninggalkan Mesjid.
Samudera membuka matanya, menarik tubuhnya agar duduk lebih nyaman. "Ini adalah hari terpenting dalam hidupku, aku tidak ingin ada yang mengacaukannya, termasuk ibuku sendiri."
Robby menghela nafas pelan, jawaban yang terdengar begitu dingin meluncur begitu saja dari bibir Samudera. Tentu itu bisa memahami maksud Samudera, hanya saja sampai kapan Samudera terus menghindari ibunya? Pada akhirnya ibunya tidak akan pernah rela dengan pilihannya itu.
Satu hal yang Samudera lalai dalam masalah ini adalah keselamatan Venus. Robby bisa pastikan hidup Venus tidak akan pernah tenang setelah orang-orang tahu statusnya sebagai istri Samudera.
Mungkin memang sudah jalannya seperti ini, Robby hanya berharap agar kebenaran segera terungkap. Baik dari sisi Venus sendiri, karena hingga detik ini Robby belum bisa memastikan motif Venus menceburkan dirinya ke dalam kehidupan Samudera saat ini. Begitupun dengan motivasi Samudera yang begitu memaksakan menikahi Venus.
Ada banyak cara untuk membongkar benang kusut diantara mereka, tapi Samudera malah memiilih jalan rumit yang pada akhirnya nanti hanya akan berakhir dengan saling menyakiti.
__ADS_1
"Tidak usah terlalu banyak berfikir, lakukan saja bagianmu!" Ujar Samudera setelah mendapati raut wajah frustasi Robby.
"Ibu tidak akan senang dengan ini." Robby berdecak membayangkan wajah murka sang nyonya besar setelah tahu berita ini nantinya.
"Dia memang tidak akan pernah senang dan aku tidak peduli." Samudera mengepalkan kedua tangannya. Ia sungguh tidak berdaya, seharusnya ia bisa membahagialan ibunya namun ia malah akan semakin menambah luka yang tidak pernah benar-benar sembuh itu.
"Kita tidak bisa menutupinya terlalu lama, aku yakin paling lambat minggu depan dia sudah datang mengamuk di kantormu." Ucap Robby mengingatkan.
"Aku tau, itu bukan masalah besar. Biarkan saja." Pungkas Samudera membuang pandangannya ke luar jendela mobil.
××××××××
××××××××
Assalamu'alaikum wr.wb.
Hai readers...
Maaf nih baru nongol lagi setelah sekian purnama menghilang.
Ini lagi ngumpulin semangat untuk menulis lagi karena sempat down setelah draft tulisan kehapus dari HP sebelumnya. Hiks..hikss.. Padahal draft tulisannya udah hampir end.
Akhirnya nulis ulang lagi dan untuk mendapatkan kembali mood nulisnya itu ternyata susah😁
Selamat membaca yah, semoga selalu suka dengan semua karya2 author.
__ADS_1
Thanks..❤️❤️❤️