A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 24


__ADS_3

Aku memilih mendiamkan semua celotehan Febby tentang perasaan Samudera kepadaku. Aku tidak percaya, bagiku itu adalah bualan paling receh yang pernah aku dengar.


"Kamu tidak ada jadwal lain, Feb?" Tanyaku setelah cukup lama terdiam dan Febby pun memilih duduk santai sambil bermain ponsel pintarnya.


"Jadwalku ya di sini, ini perintah pemilik saham terbesar rumah sakit ini jadi aku mana boleh menolak." Ucapnya masih dengan mata fokus ke layar ponselnya.


"Maksud kamu, Sam?" Tanyaku tidak percaya.


"Iya, siapa lagi laki-laki paling sinting yang bisa membuatku menjadi baby sitter buat kak Venus?" Keluhnya kesal.


Aku sebenarnya ingin bertanya Sam ada dimana sekarang tapi malu, tapi aku juga penasaran.


"Eemmm... Feb, Sam kemana yah?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga meski ragu-ragu.


"Kenapa? Kangen? Perempuan memang gitu amat yah, sudah disakiti sampe nyawa hampir hilang tapi tetap cinta." Febby menggeleng menatapku iba.


"Aku ingin pergi dari sini, apa kamu bisa membantuku?" Mencoba tidak apa-apa, siapa tahu Febby mau berbaik hati membantuku lepas dari sepupu gilanya itu.


"Aku masih sayang kehidupanku di sini kak, kalau sampai aku membantu kakak kabur dari sini, bisa dipastikan aku akan dikirim ke Zimbabwe detik ini juga."


Aku mendesah kasar. Sepertinya usahaku meminta bantuan kepada Febby tidak akan berhasil.


"Feb, boleh minta dikasi jilbab nggak? Takut-takut ada laki-laki yang masuk ke sini.  Atau pinjam alat sholat kamu juga boleh?"


"Tapi aku non muslim kak, aku gak punya alat sholat." Jawabnya jujur.


"Oh..maaf." Ucapku salah tingkah, ternyata Febby non muslim. Berarti Samudera juga kemungkinan besar non muslim. Fikirku.


"Kakak tenang saja, kak Sam sudah mewanti-wanti pihak rumah sakit agar tidak sembarang orang yang datang ke sini. Bodyguard yang menjaga di luar juga tidak akan masuk ke sini, jadi aman. Kak Sam tau kalau kak Venus itu tidak mau auratnya kelihatan." Jelasnya seolah mengerti kekhawatiranku.


Aku mencebikkan bibir mendengarnya. Bukannya Sam paling sering menghina cara berpakaianku yang katanya tidak ada menarik-menariknya itu?


"Tapi kak Venus tau kan kalian ini terlibat cinta beda agama?"


"Maksudnya?"


"Ah..sudahlah... jangan ditanggapi. Aku akan carikan alat sholatnya sama teman di sini. Ditunggu yah.." Febby langsung berdiri dan berjalan keluar kamar inapku.

__ADS_1


"Terima kasih." Ucapku lagi kepadanya.


Kurang dari 30 menit, Febby sudah kembali dengan membawa dua paperbag besar.


"Pakaian ganti dan alat sholat kak Venus sudah siap! Aku bersihkan tubuh kak Venus dulu." Dengan sigap Febby mengambil air dan kain untuk membersihkan tubuhku.


"Kita ke kamar mandi aja, aku juga ingin buang air."


"Buang air di popok aja kak."


"Aku nggak nyaman, lagian aku mau sholat, mau bersih-bersih dulu. Yang sakit hanya bagian lenganku, kakiku masih bisa berjalan."


"Ya sudah, sini aku bantu."


Pelan-pelan Febby membantuku turun dari tempat tidur, rasa sakit di lenganku sudah tidak sesakit tadi pagi, mungkin karena efek obat yang diberi Febby setelah sarapan tadi.


Febby menggantung botol infus di tiang yang sudah tersedia di dalam kamar mandi kemudian hendak membantuku melepas seluruh pakaianku.


"Biar aku saja, kamu jangan tersinggung, sebenarnya dalam agamaku perempuan yang beda agama sebenarnya juga gak boleh melihat aurat kami." Ucapku dengan sopan.


"Tapi kalau darurat seperti ini masak gak boleh juga sih kak? Kata temanku yang muslim, bahkan makan babi pun boleh kalo misalnya keadaannya sangat darurat." Ucapnya membantah.


Aku hanya bisa membulatkan mata mendengar fakta yang baru saja kuketahui. Wajahku sudah memerah karena marah dan juga malu.


"Tidak mungkin.." Ucapku mencoba mengelak. Mau kusimpan dimana mukaku saat bertemu lagi dengannya nanti. Pasti dia akan semakin gencar menghinaku.


"Apanya yang tidak mungkin? Memangnya kakak berharap Robby yang melakukannya?"


Aku menggeleng keras, aku mana mau?


"Mau Robby atau Sam atau laki-laki manapun aku enggak mau, Feb. Kok Sam tega banget sih ganti baju aku tanpa izin begitu? Aku kan malu!" Kesalku mengeluhkan sikap lancang Sam.


"Udah terlanjur juga. Darurat kak, darurat!!! Kalau pakaian kakak gak segera diganti mungkin kak Venus sudah mati karena menggigil kedinginan."


"Tapi aku malu, Feb. Apa kata orang-orang di kantor nanti? Sudah cukup aku dikabarkan yang tidak-tidak karena jadi pembuat kopi buat Sam, aku juga punya perasaan. Dituduh yang tidak-tidak itu menyakitkan, Feb!" Akuku yang menjadi curhat kepada Febby.


"Kakak tenang saja, semuanya sudah diatur sama kak Sam, kantor sudah dia kosongkan sebelum dia membopong tubuh kakak sampai mobil. Bisa dipastikan tidak ada orang kantor yang tau selain Robby." Ucap Febby bangga seolah mereka ulang kejadian itu di fikirannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau begitu." Ucapku bersyukur. Tidak enak banget menjadi bahan gunjingan di kantor.


"Ya udah, kamu keluar dulu, aku mau buang air ini!" Usirku setelah semua pakaianku sudah dia lepas.


"Buang aja kak, aku gak papa di sini. Udah biasa kok!" Jawabnya santai.


"Ini bukan pipis saja, Feb. Lagian pupku gak bakal mau keluar kalau ada kamu yang menontonku." Aku sudah geregetan melihat Febby yang tetap ngotot tidak mau meninggalkan aku di kamar mandi sendirian.


"Tapi-


"Please, Feb!" Ucapku memohon dengan frustasi.


"Oke..oke..!"


Akhirnya Febby mengalah juga dan segera melangkahkan kakinya keluar kamar mandi.


Aku segera menyelesaikan hajatku dan melanjutkannya dengan mandi seadanya. Setelah selesai aku kembali memanggil Febby membantuku memakai pakaian.


"Gak usah pakai dalaman biar gampang kalau nanti gonta ganti pakaian!" Ucap Febby yang mendapat pelototan dariku.


"Aku risih Feb." Protesku ingin tetap memakai dalaman.


"Enggak ada orang lain kok kak, aku doang ini. Lagian aku sudah lihat semua tubuh kakak."


"Mulut kamu Feb... tapi kalau Sam datang, aku gak akan nyaman."


"Nanti aku bungkus tubuh kakak pake selimut kalau kak Sam datang. Udah, kakak nurut aja, demi kemudahan kakak juga ini."


Terpaksa aku menyerah, berdebat dengan Febby rasanya sia-sia saja. Febby tetap dengan pendiriannya.


Aku dibantu Febby keluar dari kamar mandi. Saat hendak memakai jilbab, Febby menahanku.


"Rambutnya dikeringkan dulu kak, nanti sakit kepala loh!" Febby mengambil hair dryer dari paperbag tadi.


"Iya.." Aku duduk di sisi tempat tidur dengan Febby yang begitu telaten mengeringkan rambutku.


"Ini nanti sholatnya bagaimana kak kalau masih sakit begini? Apa gak libur dulu?"

__ADS_1


"Kan bisa dengan duduk atau sholat dengan berbaring pun juga bisa."


Sepertinya Febby sudah mengerti karena tidak ada lagi tanggapan dari bibirnya yang cerewet itu.


__ADS_2