
Satu tahun kemudian...
Semenjak pertemuanku dengan seorang pria paruh baya di ruangan Samudera, sejak saat itu jalanku untuk membuka tabir atas kecelakaan kedua orang tuaku dan berpindah tangannya perusahaan ini sepenuhnya di bawah kekuasaan ayah Sam semakin menemui titik terang.
Suatu waktu aku menghadiri acara pernikahan seorang teman yang kukenal ketika melakukan penelitian skripsi saat diriku masih bekerja di cabang Maluku Utara. Namanya Ayu, perempuan cantik nan ayu dengan tutur lembut yang semakin menambah kecantikannya.
Ternyata, Ayu adalah anak dari laki-laki paruh baya itu, pak Hendro.
#FlashbackOn
"Kamu bukannya kepala perencanaan yang baru di Aerglo?" Tanyanya ketika Ayu memgenalkan aku kepada kedua orang tuanya.
Aku sengaja datang saat sehari sebelum momen ijab kabulnya yang terlebih dahulu diselenggarakan dan seminggu kemudian baru acara resepsinya.
"Iya pak, benar sekali." Jawabku sopan.
"Loh, ayah kenal?" Tanya Ayu heran.
"Kenal juga enggak, sayang. Tapi bulan lalu sempat berpapasan di kantor Sam."
"Oh.. jadi bapak yang waktu itu?" Giliran aku yang bertanya keheranan. Soalnya aku merasa penasaran karena seperti familiar dengan wajahnya, mau bertanya tapi tidak tahu harus bertanya kepada siapa, tanya Samudera atau Robby tidak mungkin.
"Venus, nama panjang kamu siapa?"
"Venus A. Sanjaya..." itu namanya, yah. "Inisial A itu apa sih mba Ve?" Tanya Ayu kepadaku.
Pak Hendro mengerutkan keningnya, bisa kulihat perubahan wajahnya.
Aku jadi gelagapan sendiri tidak tahu hendak menjawabnya apa.
__ADS_1
"Venus Aerglo Sanjaya!" Gumam pak Hendro namun masih bisa sampai ke telingaku membuat aku gemetaran mendengarnya. Siapa sebenarnya beliau ini? Apa dia mengenalku? Apa dia mengenal kedua orang tuaku?
"Apa?" Tanya Ayu yang sepertinya juga mendengar ucapan ayahnya tadi tapi mungkin tidak jelas.
Aku menatap penuh arti ke manik mata pak Hendro, aku berharap apa yang tadi aku dengar itu salah.
"Kenapa, Yu?" Tanya pak Hendro seolah tidak mengerti maksud pertanyaan Ayu.
"Tadi ayah ngomong apa?"
"Ah, itu.. nggak ngomong apa-apa." Jawabnya berbohong.
Tatapan pak Hendro kini mengarah kepadaku. "Jadi Venus lahir dan besar di Maluku Utara yah?"
"Bukan yah, Venus lahir di Jakarta juga, tapi saat kelas 6 SD pindah ke sana setelah kedua orang tuanya meninggal." Kembali Ayu yang menjawab.
Ayu cukup banyak tahu dengan kehidupanku karena selama 3 bulan di Maluku, Ayu beberapa kali aku ajak menginap di rumah.
"Oh..." ucap pak Hendro mengangguk paham.
"Ayu, tolong paggilkan mama ke sini dulu, sayang... biar Venus di sini dulu sama ayah, sepertinya dia asyik diajak ngobrol tentang kerjaan." Ucapnya lagi kepada Ayu dan aku mengerti kemana arah maksud dan tujuannya meminta Ayu meninggalkan kami berdua.
"Apa Aisyah yang merawat kamu selama ini?" Tanyanya setelah tinggal kami berdua di sini.
"I..iya pak. Bapak kenal saya?" Tanyaku sedikit ragu.
"Tentu aku ingat, wajah kamu itu adalah Aryan versi cantik." Jawabnya sambil tersenyum. Tatapannya seperti menerawang ke masa lalu.
"Tolong dirahasiakan dulu identitas saya pak. Saya tidak tau apa bapak bisa saya percaya atau tidak karena sulit mengenali orang-orang yang dulu mungkin pernah dekat dengan ayah saya, tapi saya benar-benar minta tolong agar tetap menjaga identitas saya."
__ADS_1
"Om mengerti maksud kamu. Sebenarnya om tau kalau kamu belum meninggal dari informasi polisi yang mengusut peristiwa tersebut. Namun om memintanya untuk tutup mulut karena om yakin ada yang janggal dengan kecelakaan itu."
Aku menatap dalam ke wajah pak Hendro, mencoba mencari kejujuran di sana.
"Satu minggu sebelum kejadian itu, ayahmu meminta om menyiapkan semua dokumen yang dia perlukan untuk menyerahkan semua sahamnya menjadi kepemilikan ayah Sam- kamu tau tengtang Sam bukan?" Aku mengangguk.
"Awalnya aku menentangnya karena itu tidak masuk akal, tetapi ayahmu memaksa. Aku ingin meminta penjelasan ayah Sam tetapi kembali ayahmu melarang. Ayahmu tidak mau ayah Sam tau dengan adanya dokumen-dokumen peralihan itu. Ayahmu kembali berkata bahwa dia akan meninggalkan Jakarta dan membawa kamu dan ibumu ikut serta. Tiga hari sebelum kecelakaan naas tersebut, ayahmu menyelesaikan pemindahan saham dan kepemilikan perusahaan atas nama ayah Sam. Om fikir ayahmu langsung meninggalkan Jakarta setelah proses tersebut selesai, namun karena masih mengurus beberapa hal akhirnya molor beberapa hari. Dan akhirnya seperti yang kamu tau sendiri."
"Lalu siapa anak perempuan yang ikut di dalam kecelakaan itu?" Tanyaku penasaran.
"Nah.. saat ayahmu meminta pengurusan dokumen peralihan perusahaan itu, ayahmu juga meminta om mengurus surat adopsi seorang anak perempuan. Dia seumuran dengan kamu. Hari itu kedua orang tuamu menjemput anak itu ke panti asuhan lalu kemudian berniat menjemput kamu ke tempat les kamu saat itu dan rencananya akan langsung ke Bandara tapi belum sampai ke tempat les kamu sebuah truk menghantam badan mobil yang dikemudikan ayahmu."
Aku tidak bisa menahan air mataku mendengar semua penjelasan tentang kronologis kejadian itu. Dadaku terasa sesak memikirkannya.
"Apa om tau sesuatu?" Tanyaku setelah berhasil menguasai emosiku.
"Om berusaha mengusutnya saat itu tetapi ayah Sam bersih. Jujur saja, sampai sekarang om masih bingung, karena yang paling berkepentingan menghabisi nyawa ayah kamu tentu saja ayah Sam jika ditelisik lebih dalam. Akan tetapi tidak ada barang bukti yang mengarah ke sana. Ada orang lain, ada tangan ketiga yang bermain diantara mereka dan bisa jadi orang tersebut masih bebas berkeliaran di sekitar kita."
"Jika memang seperti itu, bukankah yang paling berkepentingan di sini adalah orang yang paling diuntungkan jika perusahaan berpindah ke ayah Sam? Sam masih kecil saat itu? Apa mungkin ayah Sam terlibat sesuatu dengan orang lain di luar atau bagaimana?" Tanyaku mencoba menganalisa semua kemungkinan yang ada.
"Nah, cluenya sudah dapat. Om sependapat dengan analisa kamu." Om Hendro sepertinya mulai memikirkan sesuatu kemungkinan yang lain.
"Apa om bisa membantu saya?" Tanyaku penuh harap.
"InsyaaAllah, om pasti akan membantu kamu semampu yang om bisa." Jawabnya bersungguh-sungguh.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah memgetahui siapa pelakunya?" Tanyanya kemudian.
"Aku hanya ingin menuntut keadilan, om. AkuĀ ingin hidup tenang tanpa dihantui rasa takut apabila identitasku suatu saat terbongkar. Aku tidak butuh perusahaan itu om. Entah apapun alasan ayah menyerahkan perusahaannya, aku sudah ikhlas, tentu aya punya pertimbangan sendiri kala itu. Hanya saja aku tidak habis fikir, kenapa masih menghabisi nyawa kami sekeluarga jika perusahaan sudah menjadi miliknya melalui tangan ayah Sam?"
__ADS_1
Om Hendro mengangguk-anggukan kepalanya, aku berharap kali ini om Hendro bisa aku andalkan.
#FlashbackOff