
Samudera segera meninggalkan meeting setelah menerima kabar bahwa ibunya terkena serangan jantung. Ini bukan kali pertama penyakit ibunya itu kambuh, jika dihitung-hitung, mungkin ini sudah yang ke-3 kalinya setelah ayahnya meninggal. Samudera tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Benar bahwa ibunya telah mengkhianati cinta ayahnya, benar bahwa ibunya dulu tidak memberinya kasih sayang selayaknya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya dan benar bahwa ibunya hampir saja menghancurkan semua yang telah dibagun ayahnya dengan susah payah, tetapi perasaan cintanya sebagai anak kepada ibunya, jauh melebihi rasa sakit hatinya selama ini.
Tidak semua salah ibunya, ayahnya pun ikut andil dalam ketidak harmonisan rumah tangga mereka. Ayah dan ibunya menikah karena perjodohan, tidak ada cinta di dalam rumah tangga mereka, meski demikian ada Samudera di tengah-tengahnya. Kehadiran Samudera seharusnya menjadi penghubung dan pengikat yang menguatkan hubungan pernikahan mereka, namun tidak ada perubahan setelah kelahirannya.
Samudera memilih duduk pelan di sisi ibunya saat memasuki ruang perawatan. Beberapa alat bantu kesehatan masih melekat di tubuh perempuan berdarah campuran Tionghoa-Indonesia dan Belanda itu. Ketampanan Samudera didapatkan dari perpaduan genetik campuran dari ayahnya yang keturunan Indonesia Turki.
Samudera meraih salah satu tangan ibunya kemudian menciuminya dengan takzim. Dalam kondisi seperti ini, ada kalanya Sam ingin mencari Tuhan. Ah, dia yang tidak mengerti agama karena memang memilih tidak beragama. Ayahnya seorang muslim di KTP, sementara ibunya Katolik juga hanya di KTP. Ia tidak pernah melihat ibunya ke Gereja atau ayahnya ke Mesjid.
Orang tuanya tidak pernah mendidiknya mengenal agama, semua keputusan diserahkan kepada Sam hendak memilih agama apa. Tetapi Sam sama sekali tidak peduli, baginya yang terpenting menjadi yang terbaik dan tidak mengganggu orang lain, membiarkan orang lain dengan keyakinan dan kepercayaannya tanpa menghina, tanpa menghakimi, dan bebas dari ujaran kebencian. Persoalan keyakinan itu soal rasa dan kenyamanan yang tidak bisa dipengaruhi oleh siapapun.
Dulu, pernah salah seorang temannya berkata kepadanya, "kalau dalam pandangan agama yang saya anut, yaitu Islam, kamu itu Sam adalah anak yang dianggap lahir dari hasil zina."
Sam tidak terima dong dikatakan anak hasil zina. Jelas-jelas ibu dan ayahnya menikah resmi di KUA, sah secara agama dan sah secara hukum negara.
"Ayah dan ibumu, meskipun sudah punya buku nikah, tapi karena kenyataannya mereka tetap berada pada keyakinan masing-masing, maka pernikahan mereka dianggap tidak sah. Makanya, anak dari hasil pernikahan mereka dianggap anak hasil zina. Dan sepanjang mereka mempertahankan rumah tangganya dan bergaul sebagai suami istri, maka sepanjang itu juga mereka berzina." Ucap temannya menambahkan.
"Tapi kamu gak usah berkecil hati bro, yang berzina itu hanya orang tua kamu, dosanya untuk mereka. Kamu gak usah beban ke dirimu, jadi orang baik saja sesuai agama yang kamu anut, udah!" Imbuhnya lagi membuat Samudera tidak tahu harus berkata apa.
"Sam..."
Tiba-tiba panggilan ibunya menarik Sam kembali dari lamunannya.
"Iya bu, ini Sam di sini. Ibu sakit dimananya?" Tanya Samudera tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Sam menunduk menciumi kening ibunya.
"Ibu tidak akan sakit kalau kamu mau menuruti permintaan ibu." Ucap ibunya pelan.
__ADS_1
"Aku akan menuruti permintaan ibu tapi aku sendiri yang akan memilih calon istriku. Aku tidak ingin gagal seperti ibu dan ayah." Ucap Sam menegaskan. Mungkin dengan mengatakan itu ibunya akan memiliki semangat untuk segera sembuh.
"Pikirkan kesehatan ibu dulu, bagaimana aku bisa menikah jika ibu masih terbaring sakit di sini?" Tanya Samudera menyelipkan candaan di sana.
Ibunya pun hanya bisa menghela nafas pelan. Bukan seperti ini rencananya, tapi tidak mungkin juga dia memaksakan kehendaknya untuk menikahkan Samudera dengan perempuan pilihannya. Mungkin saat ini dia harus mengalah, setelah sehat nanti dia akan mengatur kembali strategi untuk membuat Samudera berada di dalam kendalinya.
"
"
"Kamu pemilih banget yah, Ve." Ucap Muthia saat sampai di ruangan Venus.
"Maksudnya?" Tanya Venus tidak mengerti maksud pertanyaan Muthia. Ia meletakkan laptop di atas mejanya kemudian duduk melepaskan sedikit ketegangan yang masih tersisa saat meeting tadi.
"Pak Bintang, sepertinya dia tertarik sama kamu."
"Aku tadi sempat merhatiin dia, tatapannya itu gak pernah lepas dari kamu. Sumpah!"
"Dia itu hanya kaget aja mba, soalnya kemaren itu kami sempat ketemu dengan cara yang tidak biasa. Dia jatuh dari sepeda tepat di hadapanku, dan ternyata kami tinggal di satu gedung apartemen, eh..bukan hanya itu, kita juga rupanya satu kantor. Kebetulan banget bukan?"
"Itu bukan kebetulan, kali aja jodoh!"
Venus langsung melambaikan tangannya, "jodoh itu sudah diatur sama Allah, jangan menduga-duga. Nanti kegeeran, besar kepala eh ternyata si dia sudah punya pasangan. Suka sama orang itu memang hak kita, tapi menjaga perasaan pasangan orang lain itu kewajiban." Ucap Venus sok bijak.
"Tapi kalau pak Bintang masih single, masuk kriteria nggak?"
Venus menggeleng, "Sekelas pak Sam aja malas mikirnya, apalagi pak Bintang." Jawab Venus sekenanya.
__ADS_1
Tidak menunggu jawaban Muthia yang tampak speechless mendengar jawaban nyeleneh Venus, Venus langsung bergegas keluar dari ruangannya.
Kebetulan Venus ada perlu dengan bagian Finance lantai 1 yang menunggu untuk segera diselesaikan.
Saat pintu lift terbuka, di sana sudah ada Bintang dan dua rekannya berdiri di sana. Sepertinya hendak naik.
Sengaja Bintang tidak ikut masuk ke dalam lift ketika Venus sudah keluar dari sana. Sepertinya memang niat menunggu Venus.
"Again and again.. kita ketemu lagi, bukan?" Ucap Bintang takjub.
"Namanya juga satu kantor pak, peluang bertemunya tentu di atas 50%." Jawab Venus hendak melangkah pergi.
"Mau kemana?" Tanya Bintang menyusul langkah Venus.
Tanpa menghentikan langkahnya, Venus menjawab apa adanya, "saya ada perlu di bagian Finance, pak."
"Oh...," Bintang mengangguk tanda mengerti tetapi masih tetap berjalan mengikuti Venus.
Merasa kurang nyaman, Venus menoleh ke Bintang. "Bapak juga ada keperluan di bagian Finance?" Tanyanya memicingkan mata.
Bintang langsung menghentikan langkahnya dan memukul pelan jidatnya. Dia gelagapan sendiri karena tanpa sadar dia mengikuti Venus.
"Sorry.. sorry.. Aku cabut duluan yah." Menyadari kebodohannya, Bintang segera beranjak pergi meninggalkan Venus.
Venus yang melihat tingkah konyol Bintang itu hanya bisa menghela nafas dalam.
"Ada-ada saja kelakuannya!" Gumam Venus.
__ADS_1
Venus pun melanjutkan langkahnya ke ruangan departemen Finance. Meskipun ini baru pertama baginya ke bagian tersebut namun ia sudah tahu posisinya karena menurut informasi yang didapatkannya, bagian Finance berada setelah bagian HRD.