A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 69


__ADS_3

Sepanjang jalan menuju bandara, Samudera hanya terus terdiam. Jiwanya seperti melayang jauh dan fikirannya terus berputar-putar, terlalu ribut di dalam sana membuatnya seperti tersesat sendiri di dalam labirin yang tidak berujung. Dirinya masih menolak percaya dengan fakta yang baru saja ia dapatkan.


Sesampainya di Bandara, segala sesuatunya telah diurus Robby, Samudera seperti mayat hidup yang berjalan. Tidak ada semangat, tidak ada gairah, hanya ada tatapan dan jiwa yang kosong. Nelangsa!


Bahkan sekedar memikirkan Alea yang sedang di dalam penjagaan Venus pun sempat hilang dari fikirannya.


Rasanya sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan ibunya. Rasa penasarannya sudah meluap-luap dan ingin segera diselesaikan.


Tidak sama seperti biasanya, ketika tiba di Singapur, Samudera akan istirahat di Hotel terlebih dahulu barulah kemudian menemui ibunya, entah itu di rumah ibunya, entah di gerai perhiasannya atau lebih sering saat dirawat di Rumah Sakit.


Kali ini Samudera langsung menuju ke rumah ibunya setelah memastikan keberadaan ibunya dari orang-orang kepercayaannya.


Rumah tampak gelap ketika Samudera memasuki rumah, ini memang sudah jam 2 dini hari, sudah pasti ibunya sedang tidur pulas.


Namun itu tidak menghentikan niat Samudera untuk segera menuntaskan urusannya dengan ibunya.


Blam...


Suara pintu menghentak dengan begitu keras membuat seisi rumah terbangun dari lelapnya tidur panjang mereka.


Ibu Jeny terduduk begitu saja dengan debaran jantung yang begitu dahsyat, ia belum tahu pasti apa yang telah terjadi. Tangannya memegang dadanya, menekan-nekannya berharap debaran jantung yang bertalu-talu hingga terdengar sampai ke telinganya itu segera reda.


Belum hilang rasa terkejutnya, sebuah tangan merangkul kedua pundaknya dengan sekuat tenaga. Matanya memicing meraba wajah si pemilik tangan tersebut.


"Sam...."


Samudera yang sebelumnya bertumpu dengan satu lutut di sisi tempat tidur kini sedikit bergeser agar tangannya bisa sampai pada sakelar lampu.


Tek..


Seketika ruangan itu menjadi terang benderang.

__ADS_1


Ibu Jeny menatap putranya penuh keheranan dan tanda tanya. Apa gerangan yang membuat Samudera membangunkannya dengan cara tidak biasa seperti ini? Dan lihatlah wajah putranya itu, wajah itu begitu kusut, keras dan memerah hingga ke dalam matanya.


"Ada apa, Sam? Apa sopan santunmu sudah hilang karena terlalu lama hidup dengan perempuan murahan itu?" Ibu Jeny sudah menemukan kesadarannya, ia tidak terima dengan kelakuan kurang ajar Samudera seperti ini.


"Ini tidak ada hubungannya dengan perempuan itu," Gigi-gigi Samudera saling bertemu dan menekan, nafasnya memburu, dadanya naik turun menahan gejolak amarah yang telah menguasai pikirannya.


"Dan satu lagi, jika dia adalah perempuan murahan, setidaknya akulah orang pertama yang mengambil kesuciannya dan anak yang dia lahirkan adalah anak kandungku, bukan anak pria lain yang bukan suaminya. Bagaimana denganmu, ibu?"


Samudera begitu jijik melihat ibu yang telah melahirkannya itu. Ia benar-benar tidak menyangka jika ibunya seorang... ah, Samudera tidak sanggup melanjutkan pikirannya.


Wajah ibu Jeny terlihat shock dan mulutnya yang sebelumnya hendak berucap malah terkatup seperti kehklangan kata. "Apa maksud kamu? Jangan mengada-ada, jangan kurang ajar kamu sama ibu!"


Samudera terkekeh keras, setelah itu kembali ia menatap ibunya penuh dengan tatapan mengerikan.


"Ibu mau mengaku atau aku paksa?" Tanya Samudera dengan suara lemah tetapi menuntut.


"Ibu tidak mengerti apa maksud kamu, Sam. Ibu harus mengakui apa?" Ibu Jeny masih berusaha mengelak, ia berharap apa yang sedang dipertanyakan Samudera saat ini bukan sesuatu yang telah menghantuinya di sepanjang memiliki Samudera sebagai anaknya.


"Ap..aapa maksud kamu, Sam? Kamu adalah anak ayah kamu. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Ibu Jeny berusaha menyamarkan kecemasannya. Ia tidak menduga akan seperti ini akhirnya.


"Bu, tolong jangan bohongi aku. Aku lelah, bu. Tolong jangan buat aku melakukan hal-hal yang bisa melukai ibu. Katakan... katakan yang sebenarnya." Susah payah Samudera menekan emosinya, melihat ibunya yang sudah berkeringat dingin dan memegang dadanya.


Seketika tangis ibu Jeny pecah, kembali ia menekan-nekan dadanya menahan sesak dan isak tangisnya.


"Maafkan ibu, Sam! Maafkan ibu!"


Sam meluruh dan merosotkan tubuhnya ke lantai, punggungnya bersandar pada sisi tempat tidur. Hatinya hancur, tangisnya pun pecah, tangannya memukul-mukul dadanya kemudian menjambak rambutnya sendiri.


"Kenapa? Kenapa, bu?" Tanyanya putus asa.


"Ibu hanya perempuan biasa, Sam. Ibu adalah perempuan lemah dan rapuh hatinya. Ibu lelah mengejar cinta dan perhatian ayahmu. Bahkan untuk menyentuh ibu pun hanya ia lakukan sekali seumur hidupnya, itupun saat dia sedang mabuk di hari pernikahan Aryan dan Fanny, ayah Venus istri kamu itu.

__ADS_1


Kejadian itu ibu manfaatkan untuk menjebak ayahmu, sayang sekali ibu saat itu tidak hamil. Lalu di saat ibu sudah kehilangan akal dan kehilangan harapan, tiba-tiba seseorang menawarkan sentuhan, perhatian dan kasih sayang. Ibu terbuai, ibu khilaf sehingga tumbuhlah kamu di rahim ibu. Tetapi ibu tidak mencintai laki-laki itu, hanya ayahmu, hanya ayahmu yang ibu cintai.


Mengetahui keadaan ibu yang sedang hamil, ibu mendatangi ayahmu, meminta pertanggung jawabannya. Meskipun pada awalnya ayahmu menolak, namun atas desakan orang tuanya yang memang menginginkan ayahmu segera menikah, akhirnya terjadilah pernikahan kami dan kurang dari tujuh bulan kemudian, lahirlah kamu.


Ibu fikir dengan hadirnya kamu, itu akan membuat hatinya terbuka dan menerima ibu, tetapi ibu hanya mendapatkan status sebagai istrinya, tidak dengan hatinya.


Katakan Sam, apakah ibu salah jika ibu memperjuangkan cinta ibu?" Tanyanya dengan suara bergetar.


Samudera menggeleng frustasi, kenyataan ini begitu menyakitkan, rasanya sulit untuk bernafas.


"Siapa? Siapa laki-laki brengsek itu?" Tanya Samudera lirih.


Ibu Jeny menggeleng dan kembali menangis tersedu-sedu.


"Ibu tidak ingin menyebut nama laki-laki itu dan ibu juga tidak ingin terlibat lagi dengannya. Ibu tidak mau kamu berhubungan dengannya. Tolong mengerti posisi ibu, ibu mohon!"


Perempuan tua itu bersedekap tangan memohon kepada Samudera. Ia benar-benar tidak ingin Samudera mengetahui laki-laki kurang ajar itu.


Laki-laki itu telah memerasnya di sepanjang sisa usianya dan entah sampai kapan. Bajingan itu selalu mengancamnya, jika tidak menuruti permintaannya maka rahasianya akan dia sampaikan kepada Febrian, suaminya.


Bahkan setelah Febrian meninggal pun, bajingan itu masih terus memerasnya seperti sapi perah. Bajingan itu tidak berperasaan, sangat tidak pantas menjadi seorang ayah.


Memang Febrian bukan ayah biologis Samudera, tetapi kasih sayang dan perhatiannya kepada Samudera melebihi dari apa yang seorang ayah kandung bisa lakukan.


Ketika Samudera membutuhkan donor darah saat peristiwa pemukulan kepalanya oleh Venus, di saat itulah semuanya terbongkar. Febrian tidak bisa mendonorkan darahnya kepada anak yang dianggapnya anak kandung selama ini.


Setelah membuat Jeny mengakui semuanya, bahkan Febrian dengan berbesar hati memohon kepada bajingan itu agar mau mendonorkan darahnya.


Kenyataan itu tidak lantas membuat Febrian berubah sikapnya atau berkurang kasih sayangnya kepada Samudera.


Bahkan setelah Samudera sembuh, Febrian selalu membawanya kemanapun ia pergi.

__ADS_1


__ADS_2