
"Ternyata kamu cukup populer di kalangan laki-laki di sini, enggak nyangka loh!"
Suara itu lagi! Suara dari orang yang paling ingin kuhindari sejagad raya.
Samudera tiba-tiba muncul dari arah green house dengan komentar pedasnya yang benar-benar membuat telinga panas. Heran, kenapa ada cowok yang mulutnya ngalah-ngalahin pedasnya cabe.
Sebenarnya, mulut pedasnya itu sangat tidak sejalan dengan karakternya yang dingin. Harusnya dia tidak peduli pada apapun yang ada di sekitarnya selama itu tidak merugikan dirinya.
"Kalau bapak tidak tau sesuatu, biasakan jangan mengambil kesimpulan sendiri, takutnya jatuh-jatuhnya jadi fitnah loh pak." Ucapku menahan rasa ingin menabok kepalanya. Kekesalanku padanya rasanya sudah bertambah-tambah.
"Fitnah? Faktanya tadi kamu diantar oleh laki-laki berbeda dengan kedua staf kamu malam minggu kemarin itu." Ucapnya membela diri. Masih membela diri padahal jelas tuduhannya sama sekali tidak berdasar.
"Jadi kalau besok-besok ada yang pernah melihat saya pernah bersama Irawan, lalu di kesempatan lain pernah juga jalan sama Rizky, terus tiba-tiba terlihat satu mobil dengan pak Bintang dan kebetulan lagi dia melihat saya sedang berduaan dengan bapak saat ini di sini. Kira-kira apa orang itu juga akan berfikir kalau saya ada affair sama bapak? Bisa tidak bapak mengomentari hidup saya tanpa harus mengurangi rasa hormat bapak kepada sesama manusia? Bisa tidak bapak menghina kehidupan saya tanpa perlu melibatkan orang lain?"
"Atau jangan-jangan bapak suka sama saya jadi tidak suka melihat kedekatan saya dengan laki-laki lain? Bapak tau tidak itu namanya apa? Itu namanya cemburu!" Ucapku dengan menekan kata cemburu di belakang. Tersengar percaya diri memang, tapi apa maksudnya coba sikap dia yang aku rasa seperti posesif kepadaku.
Saudara bukan, suami bukan, ayah bukan, bahkan teman pun bukan.
Sam menarik sudut bibirnya kemudian menggelengkan kepalanya sembari mendecakkan lidahnya.
"Cemburu?"
Sam tiba-tiba memegang kedua pundakku kemudian memutar tubuhku menghadap ke cermin besar yang ada di sisi lift.
"Lihat diri kamu di cermin itu. Apa menurut kamu tampang kamu yang kurang dimana-mana ini cukup pantas untuk membuat aku cemburu?" Ucapnya sedikit menunduk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan diriku yang hanya sampai di ujung dadanya.
Aku mengerucutkan bibir mendengar ucapannya mengomentari fisikku. Apa katanya?
"Tampangku kurang dimana-mana?"
"Asal bapak tau saja, baru bapak satu-satunya laki-laki yang tidak memuji kecantikanku." Ucapku percaya diri.
Kenyataannya memang begitu, semua laki-laki yang pernah mendekatiku selalu berkata kalau aku cantik Bukan kepedean atau ngaku-ngaku, bahkan teman perempuanku pun mengakui kecantikan fisik yang titipkan Allah kepadaku.
"Itu karena selera mereka levelan kamu, seleraku tinggi. Dari 1 sampai 10 poin kamu minus."
What?
__ADS_1
Pengen muntah tapi sayang isi perut.
Aku mengejar Samudera yang mulai berjalan dengan langkah panjang menuju ruangan kerjanya.
Sebenarnya aku masih tidak terima ucapannya yang secara tersirat mengatakan aku jelek. Tapi setelah difikir-fikir, untuk apa membela diri. Selera orang beda-beda. Cantik dan tampan itu memang relatif, tergantung selera dan takdir.
Lagian kami boleh dianggap impas, toh bagi aku Samudera itu tidak ada menarik-menariknya meski harus kuakui bahwa ketampanannya benar-benar di atas rata-rata. Tetapi itu tidak cukup untuk membuatku tertarik kepadanya. Mungkin seperti itu juga yang dirasakannya kepadaku. Bagi orang lain aku mungkin memang cantik, tetapi belum tentu bagi Samudera. Bisa dipahami.
"Ini kopi dan sandwichnya." Ucapku meletakkan secangkir kopi dan satu porsi sandwich di atas meja kerjanya.
Samudera menatap sandwich itu kemudian beralih menatapku.
"Kok hanya satu?" Protesnya tidak terima.
"Memangnya bapak mau berapa?"
"Apa kamu fikir ini cukup untuk postur tubuhku yang seperti ini?"
"Seperti raksasa maksud bapak?" Selaku memperjelas.
"Apa itu yang kamu bawa?" Tanyanya menunjuk totebag yang siap aku bawa ke ruanganku.
"Ini bekal saya pak."
"Siniin!" Ucapnya dengan tangan kanan menjulur.
"Tapi ini bekal saya pak." Tolakku menyembunyikannya di belakang tubuhku, aku tidak ingin menyerahkan bekal makan siangku ini kepadanya. Sudah cukup dia mengambil jatah mba Muthia.
Tidak senang menerima penolakanku, Samudera pun mendekatiku lalu menarik tanganku dan totebagnya pun berhasil berpindah tangan.
"Iihhh.. bapak apaan sih? Maksa banget." Ucapku kesal kepadanya.
"Apa? Mau protes? Ngadu sana sama komnas perempuan." Ucapnya mengabaikan keberatan yang kulayangkan kepadanya.
Tanpa merasa berdosa, Samudera langsung membuka semua kotak bekalku lalu melahapnya tanpa malu di salah satu sofa yang ada di sudut ruangannya.
"Uhuk..uhuk..uhuk.." Saking buru-burunya makan, keselek juga dia. Wajahnya mulai memerah, tangannya menggapai-gapai sepertinya mencari air minum.
__ADS_1
Rasain!!!
Tidak tega melihatnya tersiksa seperti itu, aku bergegas mengambil botol minuman air mineral yang ada di meja kerjanya.
"Nah, tuh kan.. udah rasa kan dosa mendzalimi orang lain langsung dibayar tuntas!" Ledekku merasa menang karena semesta seolah berpihak kepadamu saat ini.
Samudera tidak ambil pusing dengan ledekanku, dia masih sibuk menetralkan dadanya dengan sesekali menepuknya. Andai dia itu orang baik, mungkin aku akan berbaik hati mengelus-elus pundaknya agar merasa nyaman. Tapi karena itu Samudera, aku ogah banget melakukannya
Aku fikir Samudera akan menghentikan aktifitas makannya setelah kejadian tadi, tetapi dugaanku salah. Dia kembali melanjutkan kegiatan sarapannya seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Aku hanya bisa menatap pasrah pada kotak-kotak bekalku yang isinya makin menipis.
"Dia kelaparan apa doyan? Macam enggak dikasi makan sama emaknya selama setahun!" Gumamku tanpa sadar.
"Aku masih dengar apa yang kamu bilang barusan." Ucapnya kemudian berdiri menuju washtafel mencuci tangannya di sana.
"Tunggu apa lagi? Rapikan sisa makanan itu!"
Yaa... Allah.. baru kali ini aku nemu orang yang suka seenaknya seperti Samudera.
Aku tuh di rekrut di perusahaan ini untuk bekerja sebagai kepala departemen perencanaan, kenapa sekarang malah berubah status jadi pembokatnya?
Sepertinya aku harus tegas kepadanya, ini tidak bisa dibiarkan, besok-besok dia akan semena-mena kepadaku kalau aku tidak melawan.
Aku sudah ingin membuka suara mengajukan protesku tetapi tiba-tiba pintu diketuk dari luar.
Tampak Robby masuk mendekati Samudera. "Pak, di luar ada pak Hendro ingin bertemu."
"Suruh masuk!"
"Baik." Ucap Robby kembali keluar.
"Aku permisi!" Ucapku langsung meninggalkan ruangan Sam.
Saat aku henda keluar, seorang laki-laki paruh baya lebih duluan masuk membuat aku sedikit menggeser tubuhku agar tidak bertabrakan dengannya.
Mata kami sejenak saling pandang, aku seperti mengenalnya. Tapi lupa.
__ADS_1