A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 38


__ADS_3

"Kak Sam ini gimana sih? Malam pertama... maksudnya sore pertama kok istri dibuat pingsan begini? Semangat sih semangat, tapi istrinya dibuat nyaman juga dong. Masak kak Sam doang yang enak-enak, istri yang tumbang." Febby berdecak kesal mendapati kakak sepupu kesayangannya itu membuat istrinya sampai pingsan saat melakukan penyatuan pertama mereka. Ingin rasanya Febby menabok kepala Samudera andai ia tidak takut.


Sam mengusap tengkuknya, Febby tidak tahu saja kalau dirinya menyerang istrinya tanpa pemanasan terlebih dahulu. Dan bukan hanya Venus yang kesakitan, dirinya pun merasakan ngilu di bagian aset berharganya. Ternyata menerobos gawang gadis perawan itu tidak semulus yang dibayangkannya selama ini.


"Lagian kakak kok bisa abai begini? Istri belum makan sama sekali malah diajak gelud duluan. Pokoknya kakak gak boleh sentuh kak Ve sebelum kondisi tubuhnya pulih kembali. Istrinya jangan lupa dikasi makan. Aku heran deh sama kakak ini, bisa kasi makan ribuan orang tapi istri sendiri di rumah kelaparan." Omel Febby sambil merapikan alat medisnya kemudian memastikan cairan infus mengalir sempurna masuk ke dalam tubuh Venus. Ia harus segera ke rumah sakit sekarang karena ada panggilan darurat dari tempatnya bekerja.


"Kamu jangan sok tau deh, Venusnya aja yang bandel gak mau makan." Samudera mencoba membela diri. Dia merasa kecolongan karena ternyata Venus tidak mendapatkan asupan nutrisi makanan selama tinggal di rumahnya.


"Yaa kalau gak mau dibujuk dong. Makanya.. istri tuh disayang-sayang, dimanja biar jadi istri penurut. Kalau model suami tidak punya hati seperti kak Sam, yang ada kak Ve akan semakin benci kakak."


Samudera menghela nafas kasar. Pusing kepalanya belum hilang karena hasratnya yang digantung Venus, lalu sekarang ia diomeli habis-habisan oleh Febby.


"Cukup, kamu sudah terlalu banyak ceramah. Sudah.. pergi sana!" Usir Samudera kemudian memilih fokus ke gawainya mengabaikan Febby yang masih belum puas mengomel kepadanya.


"Memang susah ngomong sama kakak!" Keluh Febby berlalu begitu saja.


Samudera menarik sebuah kursi ke dekat tempat tidur untuk dirinya. Ia pandangi lekat wajah Venus yang menampakkan kesedihan di sana.


Ada sedikit rasa sesal di hati Samudera. Mengapa dia tidak mencari tahu kebenarannya sedari awal? Bukankah Venus sudah membantahnya berkali-kali tetapi ia malah memilih percaya orang lain.


Tetapi meski demikian, justru ada perasaan lega dan hangat yang menjalari hatinya. Ia senang menjadi yang pertama bagi Venus.


Selang bebepa puluh menit, suara ringisan terdengar keluar dari bibir Venus.


"Eummm... issshhh."


Venus merasakan kepalanya begitu berat, tubuhnya terasa lemas dan susah digerakkan.


Venus memaksakan membuka matanya dan lagi-lagi pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah Samudera. Venus tidak menyukai ini.


"Kamu sudah bangun? Jangan bergerak dulu, tubuh kamu masih lemas." Meskipun datar, namun Venus bisa merasakan tidak ada emosi di setiap ucapan Samudera itu kepadanya.

__ADS_1


Venus melihat jam digital di dinding, sudah hampir jam 5 sore, ia ingat belum sholat asar.


"Mau kemana?" Tanya Samudera menahan gerakan Venus yang hendak bergerak turun dari tempat tidur.


"Aku belum sholat." Jawab Venus acuh.


"Apa tidak bisa dilewatkan dulu?" Tanya Samudera tanpa dosa.


Venus menatap tajam Samudera, ia langsung berdiri menahan rasa sakit di bagian bawahnya dan rasa pusing yang membuat dirinya kembali terduduk di tempat tidur. Venus meringis menahan sakit.


Samudera berdecak melihat Venus yang begitu keras kepala menurutnya.


Tanpa meminta persetujuan Venus, Samudera langsung membopong tubuh Venus ke kamar mandi dengan botol infus di tangannya.


Venus sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan atau sekedar berdebat dengan Samudera.


Dengan hati-hati Samudera menurunkan tubuh Venus di bawah shower.


Ah, Venus baru ingat. Entah harus berterima kasih atau mengumpat laki-laki yang berstatus suaminya itu.


"Aku bantu biar cepat." Imbuhnya setelah melihat Venus kesulitan melepas pakaiannya.


Lagi-lagi tidak ada penolakan dari Venus. Meskipun ia sangat malu dan merasa harga dirinya sudah tidak ada lagi di hadapan Samudera, tetapi dia bisa apa. Samudera tetaplah Samudera yang pemaksa.


Jika tidak mengingat waktu asar yang sudah semakin menipis dan kondisi tubuh istrinya yang lemah, sudah bisa dipastikan Samudera tidak akan melewatkan hidangan lezat yang ada di hadapannya saat ini.


Rasanya begitu berat melawan hasratnya yang menggebu-gebu itu. Tetapi kali ini ia tidak ingin egois. Entahlah..


"Makan dulu baru lanjut istirahat." Samudera membawakan semangkok bubur ayam dan segelas teh hangat ketika melihat Venus menyelesaikan sholat asarnya.


"Aku suap." Lanjut Samudera ikut duduk di atas sajadah.

__ADS_1


Venus menurut saja. Entah kenapa Venus baru merasakan perutnya yang kelaparan dan meminta segera diisi. Apalagi melihat bubur ayam yang masih mengeluarkan uap panas itu. Sungguh, itu sangat menggugah selera.


Kesunyian diantara keduanya hanya diisi oleh suara sendok dan mangkuk yang saling beradu, hingga isi mangkuk tersebut tandas berpindah sepenuhnya ke dalam perut Venus.


Venus menggeser tubuhnya agar bisa bersandar di tepi tempat tidur.


"Terima kasih.." lirihnya. Ia bukanlah orang yang tidak pandai berterima kasih.


Samudera menatap lekat wajah sendu itu.


"Katakan dengan benar, bukankah aku sudah pernah bilang agar menatap wajahku saat berbicara denganku?" Samudera kembali ke mode defaultnya. Datar dan dingin.


Sebenarnya Samudera sedikt kesal karena sedari tadi Venus tidak sekalipun menatapnya. Ia tidak suka itu.


Bukannya mengikuti Samudera, Venus malah semakin menundukkan wajahnya kemudian menangis sesegukan.


Samudera mendekati Venus kemudian menariknya ke dalam pelukannya. Hanya itu yang ada di dalam fikiran Samudera saat ini ketika melihat Venus yang begitu rapuh.


"Kamu jahat Sam!" Venus menggerakkan satu tangannya memukul dada bidang Samudera.


"Iya, itu kamu tau banget!" Jawab Samudera menarik satu sudut bibirnya. Ia begitu suka mendengar suara putus asa itu.


"Aku benci kamu.."


"Itu bagus, tetaplah membenciku, jangan pernah jatuh cinta kepadaku. Jatuh cinta hanya akan membuatmu sakit dan tidak waras." Ucap Samudera semakin mengeratkan pelukannya di tubuh ringkih istrinya.


Entah kenapa ada yang seperti mencubit hati Samudera ketika mengucapkan kata-kata itu kepada Venus. Seperti ada yang tidak rela di hatinya.


Bukankah salah satu tujuannya menikahi Venus adalah membuat perempuan itu jatuh cinta kepadanya, jatuh sejatuh jatuhnya dalam pusaran cinta sehingga membuat Venus lupa untuk memikirkan hal lain selain dirinya seorang.


Samudera ingin melihat Venus memujanya dengan segala perasaan cinta yang dimilikinya, menjadikan dirinya sebagai pusat dunianya, namun itu hanyalah akan menjadi cinta sepihak, karena ia tidak akan pernah merelakan hatinya untuk Venus.

__ADS_1


Tidak akan pernah!!! Itu sumpahnya...


__ADS_2