A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 31


__ADS_3

Sore menjelang, sudah waktunya Venus diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Selang infusnya sudah dilepas sedari tadi siang, yang ditunggu tinggal jemputan dari Sam.


Sebenarnya Venus sudah bersikeras ingin pulang sendiri ke apartemennya tetapi ditahan oleh dua orang bodyguard yang ditugaskan Sam menjaganya di depan pintu kamar ruang inapnya selama dirawat di rumah sakit ini.


Febby sendiri hari ini ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan dan mungkin akan sampai tengah malam, karena itu sejak pagi dia sudah tidak lagi menemani Venus. Venus pun mengerti, Febby menemaninya beberapa hari ini saja sudah syukur baginya.


Venus menunggu dengan wajah gelisah. Merasa bosan di dalam kamar, ingin ke Balkon tetapi matahari sedang terik-teriknya di sana.


Yang bisa dilakukannya hanya mondar-mandir, sesekali menonton acara TV, atau tepatnya memainkan remot, gonta-ganti channel yang semuanya membosankan. Ingin bermain ponsel tetapi dia tidak tahu ponselnya ada dimana saat ini, entah berakhir dimana semua barang-barangnya yang terakhir kali dia bawa ke ruangan Samudera kala itu.


Venus kangen suasana kantor, ia memikirkan Muthia dan semua stafnya, mungkin mereka akan mencarinya. Tiga hari menghilang begitu saja tanpa kabar. Pasti mereka semua saat ini sedang kebingungan.


Ceklek...


Perasaan lega dirasakan Venus begitu saja, akhirnya Sam menampakkan batang hidungnya. Sebenci-bencinya Venus kepada Sam, tetapi untuk kali ini, Venus benar-benar sangat berharap akan kedatangannya karena hidupnya di tempat membosankan ini akan segera berakhir.


Venus mengabaikan keberadaan Samudera yang hanya berdiri di pintu menatapnya, sementara itu Robby sudah menggandeng beberapa paperbag di tangannya.


"Mari, bu!" Robby mempersilahkan Venus keluar terlebih dahulu kemudian mengalihkan pandangannya kepada Samudera meminta persetujuan.


Venus berjalan keluar begitu saja tanpa menyapa Sam, seolah-olah kehadiran dirinya di sana sama sekali tidak terlihat di matanya.


Samudera mendengus, ia menatap Robby memberinya kode agar segera mengikutinya dan Venus meninggalkan rumah sakit.


Venus mempercepat langkahnya menuju lift, dia berharap lift segera bergerak turun sebelum Samudera menyusulnya. Satu percobaan kabur akan dilakukannya, ini pertaruhan, tetapi layak untuk dicoba.


Ketika pintu lift sudah hampir menutup, tiba-tiba empat jari tangan terjulur membelahnya. Pintu lift kembali terbuka lebar. Sam dan Robby ikut bergabung dengan Venus di dalam lift.


Venus menghela nafas kecewa, sementara Samudera menarik sudut bibirnya menertawakan tingkah Venus.

__ADS_1


"Jangan coba-coba berniat kabur karena aku pasti akan menemukanmu meskipun kamu bersembunyi di lubang semut sekalipun." Ucap Sam menekan suaranya.


"Siapa juga yang mau kabur? Aku hanya tidak mau berbagi udara dengan kamu di dalam lift ini. Aku takut itu mengandung racun!" Sarkas Venus yang membuat wajah Sam seketika berubah masam. Lama-lama mulut Venus semakin lancar melawannya.


"Hiruplah sebanyak-banyaknya, kita lihat, sampai berapa lama kamu bisa bertahan hidup dari udara beracun ini. Karena mulai detik ini, kamu akan selalu menghirup udara yang sama denganku."


Ting..


Venus tidak sempat membalas ucapan Sam tadi karena pintu lift sudah terbuka dan Sam langsung menarik tangannya keluar dari sana.


Samudera tidak melepas genggaman tangannya sampai mereka memasuki mobil yang menjemputnya.


Venus tidak melawan, dia tidak ingin menimbulkan kegaduhan di rumah sakit.


"Lepasin!" Hardik Venus menghentak tangannya saat mereka sudah duduk di dalam mobil.


"Dasar sinting!!!" Umpat Venus geram.


Samudera menulikan telinganya, umpatan Venus bukan apa-apa banginya.


Setelah 30 menit berkendara, Venus mulai menyadari sesuatu, ini bukan jalanan menuju apartemennya. Perasaan Venus mulai tidak karuan.


"Ini kemana?" Tanya Venus menoleh ke Sam. Tidak ada jawaban, yang ada hanya muka datar Sam yang menatap lurus ke depan.


"Pak, kita mau kemana?" Tanya Venus kepada supir yang mengemudikan mobil setelah pertanyaannya tadi diacuhkan Sam.


Supir itu hanya melirik Venus melalui kaca spion tengah, tak ada jawaban.


Venus semakin tegang, ia tahu Samudera sedang membawanya ke suatu tempat.

__ADS_1


"Pak..turunkan saya di sini saja, saya mau kembali ke apartemen saya." Ucap Venus menggedor-gedor pintu mobil di sisinya.


"Berisik!!!" Samudera berdesis melihat Venus yang memaksa mobil berhenti.


"Sam, kamu apa-apaan sih? Kalau kamu masih marah, laporkan saja aku ke polisi, jangan seperti ini."  Protes Venus.


"Kalau kamu sangat ingin dipenjara, kamu tenang saja, sebentar lagi kita akan sampai di penjara yang sesungguhnya untuk kamu."


"Maksud kamu apa?" Venus benar-benar tidak mengerti.


Mobil kemudian berbelok memasuki sebuah bangunan dengan gerbang pagar yang sangat tinggi. Rumah besar dan megah dengan halaman yang sangat luas yang jarak pintu rumah dengan gerbangnya sendiri berjarak sekitar 100 meter.


Pemandangan yang sungguh sangat asri dengan banyaknya pohon-pohon besar tumbuh tertata rapi di beberapa sudut. Venus sampai sempat melupakan kenyataan bahwa dia dibawa ke sini karena terpaksa.


"Berhentilah mengamati halaman rumah ini, tidak akan ada celah untuk kamu bisa kabur dari sini." Ucapan Samudera di telinga Venus berhasil menyadarkannya dari kekagumannya pada keindahan pemandangan di sekitar rumah mewah ini.


Venus mengerucutkan bibir, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Samudera, karena itu dia seolah tidak terganggu dengan tuduhan Samudera yang sejak dari rumah sakit tadi, ini sudah kedua kalinya Sam menuduhnya ingin kabur. Memang benar, tetapi menyangkal akan membuatnya justru semakin kelihatan ingin kabur. Venus harus bermain cantik, melawan Samudera dengan segala fasilitas dan kekuatan yang dimilikinya sama saja bunuh diri jika bertindak tanpa perencanaan yang matang.


"Aku tidak akan kabur, aku hanya tidak mau berada di sini. Ini bukan tempat tinggalku, lagian aku harus bekerja, barang-barang milikku ada di apartemen." Ucap Venus berkelit.


"Siapa yang mengizinkan kamu kembali bekerja? Kamu sudah dipecat dan di sinilah kamu akan berakhir menjalani sisa-sisa hidupmu di dalam  tahananmu." Ucap Sam mulai tidak sabar, ia kembali menarik tangan Venus masuk ke dalam rumahnya.


Langkah Samudera yang panjang dan cepat membuat Venus kesulitan mengikutinya. Berkali-kali langkah Venus terseret dan terjatuh namun Sam terus menariknya.


"Sam, aku mohon! Lepaskan aku. Aku sungguh-sungguh minta maaf kepadamu." Tidak bisa dipungkiri, Venus mulai panik dan ia sadar kalau tindakan Sam bukan lagi gertakan sambal.


"Aku minta maaf sudah mengambil data-data penting dari perusahaan kamu, tapi aku tidak memberikannya kepada orang lain, itu murni aku lakukan untuk diriku sendiri, aku mohon, percayalah!" Venus kembali mencoba menjelaskan alasan dirinya mencuri data-data penting perusahaan, berharap Sam mau melepaskan dirinya.


Sam menghempaskan tangan Venus dengan kasar, tatapannya begitu intens dan mematikan, membuat Venus yang memandangnya bergetar ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2