A TWISTED MIND

A TWISTED MIND
Chapter 35 Sah


__ADS_3

Suasana riuh di Mesjid mulai mengalir sejak subuh tadi setelah keluar pengumuman melalui toa Mesjid.


Samudera Biru sangat terkenal di lingkungan warga sekitar. Bagaimana tidak, wilayah pemukiman mereka dulunya adalah kampung kumuh, bau dan menjadi langganan banjir saat musim penghujan tiba. Lalu datang seorang pemuda yang ingin membeli 100 unit rumah warga yang berdiri tidak beraturan di atas tanah seluas 15ha itu.


Anehnya, pemuda tersebut tidak hanya akan membeli rumah-rumah warga tersebut, akan tetapi ia tetap memberi kompensasi dengan merelokasi semua warga yang tanahnya sudah terbeli dengan membangun 3 kompleks rumah susun yang sangat layak dengan fasilitas umum yang lengkap dimana ada ruang ketiga bagi mereka untuk berinteraksi dan saling terhubung antar sesama warga.


Sekarang, kawasan mereka sangat tertata rapiĀ  dan bersih. Meski rumah pribadi milik Samudera dipagari dengan tembok tinggi, namun warga sekitar sudah sangat akrab dengan sosoknya yang terkenal dermawan dan banyak membantu perekenomian warga sekitar.


Dan salah satu bangunan kebanggaan masyarakat di sana adalah Mesjid yang saat ini akan menjadi tempat berlangsungnya acara akad nikah sang pemuda kesayangan warga itu.


Doa-doa terus terlantun merdu seiring menunggu kedatangan sang mempelai perempuan. Sementara mempelai pria sejak pagi tadi malah ikut nongkrong di Mesjid menyaksikan kesibukan para bapak-bapak dan ibu-ibu mengatur antusiesme warga yang berbondong-bondong datang ke Mesjid.


Samudera tampak santai, seolah hari ini bukan suatu hari yang bersejarah di dalam hidupnya. Akan tetapi ketahuilah, sungguh ini hanyalah bentuk kamuflase perasaannya. Semenjak semalam ia susah tidur, jantungnya berdetak kencang setiap kali mengingat keputusannya yang satu ini.


Entahlah, di satu sisi, ada dendam yang harus ia tuntaskan. Di sisi lain sudut hatinya, ada rasa kepemilikan yang sudah diklaimnya jauh-jauh hari atas hidup Venus dan hanya pernikahanlah yang bisa melegalkannya.


"Penghulu sudah datang." Robby datang berbisik di telinga Samudera dimana saat ini Samudera sedang duduk bersama beberapa pemuka warga sekitar.


Samudera segera beranjak disusul Robby dan yang lainnya menuju tempat yang sudah diatur sedemikian rupa di dalam Masjid untuk dijadikan tempat akad nikah.


Tidak berselang lama, segala persiapan dan agenda acara berlangsung dengan hikmat hingga kata SAH bergemuruh dari para saksi yang menyaksikan seorang Samudera Biru mengucapkan perjanjian sakralnya di depan penghulu.


Riuh suara warga semakin menggema ketika sang mempelai perempuan memasuki Masjid.

__ADS_1


"Cantik..."


Rasa-rasanya semua yang hadir di sana pasti akan bersepakat mengakui kecantikan wanita yang baru saja resmi menjadi istri Samudera tersebut. Bukan hanya cantik, aura keanggunan terpancar begitu nyata dibalik wajah teduh dan senyum manisnya, meski tipis, namun itu terasa pas dengan segala sesuatu yang melekat di tubuhnya.


Gaun rose gold dipadukan dengan hijab dengan warna senada, menampilkan kesan feminin yang kuat. Terlihat simple namun sangat elegant.


Tatapan Samudera terus terkunci pada wanita yang sedang berjalan lambat menuju ke arahnya.


Pandangan mata Venus menunduk mengikuti langkah kakinya yang terasa berat. Sekuat hati menguatkan diri, pasrah pada apa yang telah tertakdir baginya. Tidak ada kuasa untuk melawan.


Sebuah tangan besar terulur menyambut kedatangannya. Meski dengan berat hati, Venus tetap meraih tangan itu. Tangan dari lelaki yang telah sah menjadi suaminya.


Deg...


Sesaat Venus mengangkat pandangannya, hatinya bergemuruh mendapatkan tangan hangat yang menggenggam tangannya yang sedari tadi berkeringat dingin. Ada perasaan yang entah menjalari seluruh alur nadinya.


Mereka dituntun untuk saling memakaikan cincin, setelah itu Venus mencium tangan Samudera dan dibalas kecupan lembut di kening Venus.


Semua berjalan begitu saja, terlihat alami. Mereka tampak seperti pasangan serasi yang saling memuja dan saling mencintai.


Saat ini mereka sudah ada di pelataran mesjid yang mana parkiran mesjid yang begitu luas telah disulap menjadi venue mewah acara pernikahan mereka.


"Apa sebegitu bahagianya dirimu menikah denganku sampe senyum-senyum terus seperti itu? Aku tahu kalau aku memang tampan dan kamu merasa sangat beruntung karena bisa menjadi istriku, tetapi tidak usah kampungan seperti itu, kelihatan banget kalau kamu sangat bahagia dan bangga berdiri di sampingku." Suara Samudera terdengar pelan di telinga Venus.

__ADS_1


Mata Venus memicing, menarik sedikit kepalanya ke belakang agar bisa melihat wajah suaminya, ah.. suami.


Sebenarnya Venus tidak terima dengan tuduhan sarkas Samudera tadi, tetapi harus diredam demi menjaga harga diri suaminya itu.


"Jangan lupa kalau aku bisa berada di sini karena terpaksa. Kalau kamu tidak mengancamku, bahkan jika di dunia ini hanya teraisa satu laki-laki yaitu kamu, aku lebih baik jadi jomblo selamanya daripada menikah sama kamu." Sungut Venus tak kalah tajam meski senyum manis tetap menghiasi wajahnya.


Mungkin bagi yang melihat mereka, itu adalah pemandangan yang sangat manis, tetapi yang ada adalah perang dingin yang sedang memanas di antara keduanya.


Samudera merasa tidak terima dengan ucapan pedas Venus, berani-beraninya Venus melawan dirinya dan membalikkan keadaan.


"Kamu..." ekspresi Samudera menegang menahan amarah membuat telinga dan wajahnya memerah.


"Kenapa? Mau marah? Mau menghukumku? Aku berpura-pura bahagia di sini bukan karena aku benar-benar bahagia, aku begini karena aku tidak ingin mempermalukan kamu. Tapi terserah sih kalau kamu mau mempermalukan dirimu sendiri, silahkan saja." Pungkas Venus memilih duduk untuk menghindari perdebatan sengit diantara mereka.


Beruntung konsep pernikahan mereka terbilang aneh. Tidak ada tamu yang datang menghampiri mereka untuk bersalaman, sepertinya memang sudah diatur sedemikian rupa sehingga semuanya sudah terkondisikan.


Samudera ikut duduk di sisi Venus. Tanpa ragu ditariknya tangan Venus ke dalam genggamannya. Menyalurkan kekesalannya di sana hingga membuat Venus sedikit meringis kesakitan.


"Kenapa? Sakit? Mau nangis lagi? Dasar cengeng!"


Venus mengerucutkan bibirnya. Jangan ditanya lagi. Sedari tadi dia memang ingin menangis, bukan karena merasakan sakit di jemari tangannya yang ada di dalam genggaman Samudera. Akan tetapi, dia masih tidak menyangka akan menikah dengan cara seperti ini. Menikah dengan laki-laki yang dibencinya, dalam mimpinya pun dia tidak pernah memikirkannya. Lalu takdir membawanya sampai pada tahap ini.


Venus hanya bisa menggigit bibir dalamnya, menahan rasa sesak di dadanya.

__ADS_1


Samudera bisa melihatnya, juga bisa merasakannya, namun dia memilih abai. Bukankah memang itu yang diinginkannya? Membawa Venus masuk ke dalam dunianya yang tidak pernah baik-baik saja.


Apa yang diharapkan Venus dalam pernikahan mereka, dia sudah tahu bahwa tidak ada cinta diantara mereka, yang ada hanyalah kebencian yang sudah mengakar dan mendarah daging.


__ADS_2