
Semenjak mengetahui kehamilan Venus, Samudera semakin over protektif kepadanya. Beruntung Samudera masih mengizinkannya ke kantor. Sementara untuk pekerjaan rumah, semua sudah tidak dibolehkan Samudera. Termasuk memasak.
Mereka sangat bersyukur karena kehamilan Venus terbilang lancar, tidak ada drama morning sickness dan tidak ada pantangan bau makanan atau bau parfum dan semacamnya.
Samudera aman dari permintaan aneh-aneh khas emak-emak hamil muda.
Hanya saja, makin hari Venus semakin moody dan cengeng. Hal sepele saja bisa membuatnya ngambek seharian bahkan terkadang menangis meraung-raung seperti anak kecil.
Pada akhirnya, hampir semua kemauan Venus dia turuti, Samudera tidak suka melihat wajah cemberut Venus dan menghukumnya dengan tidak memberinya jatah kenikmatan dunia. Bagi Samudera, itu sangat menyebalkan ketika dirinya diberi punggung sepanjang malam.
Ada satu hobby baru Venus saat di kantor, mengajak teman-temannya makan-makan di roof garden.
Kadang-kadang mereka hanya rujakan buah, kadang bikin salad sayuran dan yang paling Venus sukai ketika nge-grill bersama teman-temannya di sana. Apalagi ketika Alex dan Max datang membawa bahan-bahan steamboat, Venus bisa lupa kalau ia masih punya niat untuk pergi dari kehidupan Samudera.
"Rezeki anak kamu banget yah, Ve. Semenjak dia ada di perut kamu, kita-kita udah bisa menikmati potongan surga di kantor ini." Sita dan Dewi mengangguki komentar Muthia.
"Benar banget, bu. Alhamdulillah banget dah!" Sahut Sita antusias.
"Iya, Alhamdulillah," Venus mengelus penuh sayang perutnya yang mulai sedikit membuncit.
"Makasih banget yah kalian sudah mau aku recokin terus buat menemani aku di sini. Padahal kalian pasti punya janji atau mau menghabiskan waktu istirahat kalian bersama yang lain." Venus benar-benar merasa bersalah, tetapi dia juga sangat senang memghabiskan waktu dengan mereka.
"Kami senang kok, Ve. Santai saja!" Muthia sangat faham mood Venus yang sering berubah-ubah semenjak kehamilannya. Bahkan Samudera sendiri yang memintanya agar sering-sering meluangkan waktu untuk istrinya itu.
Samudera takut Venus merasa bosan sehingga mengakibatkannya stress dan berpengaruh ke janin yang di kandungnya.
"Oh yah mbak, bu Ve... aku sama Sita pamit duluan yah, mau nyiapin bahan meeting buat pak Andre." Dewi pamit duluan karena masih ada pekerjaan yang harus dikerjakannya. Begitupun dengan Sita
__ADS_1
Muthia sendiri masih bertahan di sana, ia sudah mendapatkan izin dari atasannya atas permintaan Samudera tentu saja.
"Aku perhatiin, kamu seperti orang yang membawa puluhan ton beban di kepala akhir-akhir ini. Ada apa?" Tanya Muthia ketika Dewi dan Sita sudah pergi.
Venus mendesah lelah, ia juga tidak tahu kenapa kepalanya selalu dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang membuatnya pusing sendiri. Seperti orang yang paranoid sepanjang hari.
"Entahlah.." jawab Venus singkat.
"Kenapa? Apa ada masalah dengan pak Sam? Aku lihat dia sangat perhatian dan peduli sama kamu. Dia laki-laki yang bertanggung jawab, kalau pun dia overprotektif, aku rasa itu karena dia sangat menyayangi dan mencintai kamu." Setidaknya seperti itulah seorang Samudera dalam pandangan Muthia.
Venus tersenyum kecut mendengar penuturan Muthia. 'Sam sangat mencintainya? Itu mustahil.'
"Dia tidak mencintai aku mbak, dia hanya mencintai anaknya." Akhirnya lepas juga beban yang berpulu-puluh ton itu keluar dari mulut Venus. Venus menggigit bibir dalamnya, seperti ada yang ngilu di sudut hatinya.
Sesaat Muthia tampak terkejut, namun sepersekian detik ia menepisnya. Itu hanya perasaan Venus saja. Buktinya ia bisa melihat bagaimana tatapan penuh damba di mata Samudera kepada Venus. Hanya orang bodoh yang tidak bisa melihatnya.
Muthia menggeleng, apa karena Venus sangat kurang pengalaman dalam bercinta maksudnya hubungan asmara dan berinteraksi secara intim dengan pria sebelumnya sehingga ia tidak bisa membedakan mana tatapan penuh cinta dan mana tatapan yang hanya sekedar penasaran?
Venus mengedikkan kedua bahunya.
Muthia tersenyum kemudian memukul jidatnya sendiri.
"Kamu tau enggak, Ve? Komposisi cinta dalam berumah tangga itu menurutku hanya sedikit, paling lima sampe sepuluh persen. Sisanya yang sembilan puluh persen itu adalah bagian dari komitmen, tanggung jawab, kompromi, kerja sama, prinsip hidup, visi misi keluarga, cara pandang, ibadah kepada Allah dan juga keluarga besar masing-masing.
Aku rasa semua itu sudah dibuktikan oleh suami kamu. Kalaupun tidak ada ungkapan cinta, mungkin dia laki-laki yang memegang mazhab bahwa cinta itu adalah perbuatan, bukan hanya sekedar kata di ujung lidah.
Aku berkata seperti ini bukan bermaksud menggurui, apalah aku ini yang masih single. Tetapi itulah yang aku lihat dari pernikahan yang dijalani oleh kedua orang tua aku dan orang-orang di sekitar aku.
__ADS_1
Buka hati kamu, buka mata kamu dan berbahagialah!"
Venus kembali mendesahkan nafasnya ke udara. Mungkin apa yang dikatakan Muthia itu ada benarnya, tetapi kondisinya berbeda. Mereka menikah didasari oleh dendam di masa lalu. Samudera hanya ingin menyiksanya pelan-pelan.
Benar yang dikatakan Muthia, Samudera terlihat sangat mencintainya, Venus pun terkadang bisa melihatnya.
Orang-orang tidak tahu betapa keras perjuangan Venus agar tidak jatuh pada pesona seorang Samudera. Terkadang ia ingin menyerah saja, memberikan apa yang diinginkan Samudera, bergantung hanya kepadanya dan mencintainya selamanya.
Tetapi Venus tidak bisa melakukannya karena pada akhirnya ia hanya akan terluka. Untuk apa mencintai jika sudah tahu cintanya tidak akan terbalas?
"Aku tidak tau ada masalah apa yang mengganjal perasaanmu, tapi jika itu adalah sesuatu yang belum terjadi bahkan bisa jadi itu tidak akan pernah terjadi, aku hanya bisa berpesan agar jangan kamu pikul kegalauan akan masa depan karena semuanya masih ada di tangan Allah.
Pasrahkan kepadanya, apapun itu. Kita hanya perlu menjalaninya. Karena apa yang sudah menjadi takdir kita, walau menghindar bagaimanapun pasti akan ketemu kalau memang sudah takdirnya seperti itu, tapi kalau bukan, pasti ia tidak akan pernah terjadi kepada kita. Percayalah, tugas kita itu hanya percaya, selebihnya biar Allah yang menentukan." Muthia menyatukan kedua tangan mereka, mencoba memberi kekuatan kepada Venus.
Venus tertunduk lesu, ia merasa malu kepada Muthia, malu juga kepada dirinya sendiri.
"Terima kasih banyak, mbak. Aku akan selalu mengingat nasehat mbak tadi." Kembali Venus membuang nafasnya ke udara.
Akhir-akhir ini ia memang merasa seperti orang yang paranoid, apa-apa bisa membuatnya takut dan curiga.
Ia takut cintanya tidak terbalas.
Ia takut Samudera akan membuangnya di saat cintanya sudah bertumbuh besar.
Ia takut tidak bisa menjadi ibu yang baik dan kuat untuk anak-anaknya kelak.
Takut berhadapan dengan ibu Samudera.
__ADS_1
Takut dengan anggapan orang-orang diluar sana tentang statusnya yang hanya orang biasa menikah dengan Samudera yang berasal dari keluarga terpandang.
Terlalu banyak ketakutan yang menghantuinya, seolah dunia begitu sempit untuk ia tinggali seorang diri.