
Hanella yg pikirannya masih blank saat ini ditarik paksa oleh Gilang menuju mobilnya.
"apa apaan kak.. kita mau kemana??" Hanella yg benar benar masih bingung dengan perubahan situasi yg ia alami hanya berusaha mengikuti Gilang tanpa bisa berbuat banyak. Gilang yg memang saat ini sangat bersemangat, mengingat sebentar lagi dirinya akan mengikat sang pujaan hati dalam ikatan suci perkawinan, hanya tersenyum semakin lebar saja. dan tanpa banyak kata dia langsung menjalankan mobilnya menuju sebuah salon Genre Indonesia, yg lengkap dengan berbagai pakaian kebaya pernikahan lengkap dengan pernak pernik perhiasannya yg memang hanya ada satu satunya di negara tersebut. sambil menyetir sendiri, dia menghubungi bawahannya agar segera membawa sang calon ibu mertua ke tempat yg ia tuju. dan tanpa banyak kata bawahannya itupun langsung bergerak cepat demi menjalankan tugas dari tuannya yg terkenal dengan sikapnya yg dingin dan tegas.
"setelah sampai ditempat tujuan, Gilangpun langsung membantu Hanella membuka seatbelt nya karna sepertinya gadisnya itu masih saja kebingungan dengan perubahan situasi yg mendadak ini.
di depan salon mewah itu telah berdiri para pegawai salon itu sendiri yg siap mendandani dan merias sang calon pengantin.
dengan mendorong lembut gadisnya itu ke arah depan, Gilangpun berucap dengan suara kharismatik nya yg sangat mendominasi.
"dandani dia. dia ini calon istriku. pastikan tidak ada kesalahan dan selesaikan tepat waktu."
"baik tuan."
dan mulailah para pegawai salon itu yg jumlahnya kira kira ada belasan, mulai bekerja dengan menggiring Hanella menuju keruangan VVIP demi mendapatkan pelayanan terbaik mereka. Hanella yg tadinya ingin kabur saja, mendadak diam ditempat setelah Gilang berucap dengan suara dingin nan tegas.
"bukankah kau menghubungi Jelita demi mendapat pertolongan dariku. aku adalah tiket menuju kebebasanmu. jadi ikuti saja sesuai dengan caraku. " dan Gilangpun semakin mendekati Hanella dan bahkan mengikis jarak diantara mereka dan berbisik lembut
"aku tak kan mengecewakanmu. pernikahan ini murni terjadi karna aku memang sangat mencintaimu. percaya lah kepadaku."
dan untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun hidup dalam ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran yg membelenggu jiwa raganya, akhirnya hari ini, Hanella mampu tersenyum. senyum tulus dari dasar hatinya. dengan berurai air mata Hanella langsung bergerak dan memeluk Gilang, dengan sangat erat. di sela Isakan tangisnya ia pun berucap.
"ayo.. kita menikah hari ini."
__ADS_1
mendengar ucapan Hanella itu, tentu saja Gilang langsung mempererat pelukannya dan sembari menatap penuh cinta kearah gadisnya itu, dia pun ingin melabuhkan sebuah ciuman 😘 mesra. Hanella yg langsung mengerti gelagat sang calon suami. hanya tersenyum manis dan mengatupkan tangannya di mulut kekasihnya itu.
"eeiiittsss.. nanti saja setelah SAH." dan tanpa berkata apapun lagi ia pun memutuskan kabur dari sang suami di ikuti oleh para pegawai salon itu.
Gilang yg pada dasarnya adalah seorang jenius berdarah dingin, entah kenapa, dihari pernikahannya yg sangat mendadak ini, seketika mampu merubah diri menjadi seorang bucin tingkat akut. wajah tampannya yg selalu tersenyum manis, seolah memancarkan gurat kebahagiaan yg hakiki yg sedang bersemayam didalam dirinya. bahkan para pengawal bayangan yg dikirim oleh kakaknya sampai melongo tak percaya sembari mengambil beberapa gambar sang adik. dan langsung mengirimkan laporan menditeil mengenai rencana sang adik yg ingin menikah dua jam kedepan. bahkan dari informasi terbaru yg berhasil ia dapatkan, persiapan pernikahan itu telah rampung 90% dan hanya tinggal menunggu calon pengantinnya siap, menuju tempat yg telah ditentukan untuk melaksanakan ijab kabul.
Ting.
notivikasi laporan itupun masuk ke ponselnya Galang. dan perasaannya pun campur aduk, antara senang, cemas dan kesal pada dirinya sendiri. senang karna setelah sekian tahun berlalu, akhirnya senyuman indah itu terukir juga di wajah tampan sang adik. sedih karna mengingatkan setelah pernikahan ini, tentu secara tidak langsung, sang adik telah dengan sengaja menabuh genderang perang dengan ayahnya Hanella, Roberto. dan merasa kesal pada dirinya sendiri karna merasa gagal tidak mampu menjauhkan sang adik dari marabahaya, yg seolah sudah ada didepan mata.
sembari menatap keluar jendela jet pribadi milik keluarga Samudra, diantara hamparan awan putih yg berkejaran, pikiran Galang pun saat ini layaknya awan awan itu. bergerak cepat dari memikirkan hal yg satu dan lainnya. disaat sedang asik dengan kesendiriannya itu, panggilan suara pun terdengar dari ponsel pintar miliknya yg harganya ditaksir ratusan juta rupiah.
"ya.. pah... tumben papa yg telepon Galang lebih dulu. biasanya kan .. papa lebih suka ngomong bareng Gilang?? apa jangan² papa udah kangen ya sama aku. eeiiitss.. jangan kangen dulu pah... ini juga aku udah di perjalanan menuju rumah. jadi.. papa gak usah kangen kangenin Galang lagi ya.." sambil tergelak sendiri Galang terus berceloteh dan papa Arlan, yg memang sifat dan karakter nya sebelas duabelas dengan sang adik hanya diam tanpa membantah atau berusaha menjawab.
"pah.... ?? papa kok diam aja sih... !? halloooo.. paa..??"
"masih nyambung kok...🤔🤔
hallo paa...??"
setelah jeda sejenak. akhirnya Arlan pun mulai bersuara.
"Galang..."
__ADS_1
"iya.. pa..??"
"papa yakin kau sudah mendapat kabar, kalau hari ini adikmu, Gilang akan melangsungkan pernikahan nya dengan Hanella??"
bagai tersambar geledek, Galang sampai membolakan matanya tak percaya.
"pa....pa... papa ... papa sudah tau??"
"papa... sudah tau semuanya. jadi, mulai saat ini, papa yg ambil kendali. papa harap kamu tidak ikut campur lagi mengenai permasalah Gilang dan Hanella. cukup fokus kepada dirimu saja."
hening.
baik Arlan maupun Galang, tak satupun dari mereka yg berniat untuk memulai kata lagi.
dan setelah menunggu sekian waktu, akhirnya Galang pun tersenyum mengangguk.
"baik pa. sesuai keinginan papa. " setelah mendapat jawaban dari sang anak, Galang langsung mematikan sambungan teleponnya. Galang sadar, saat ini ayahnya bukannya marah kepadanya, hanya saja, jika dengan anak anaknya, Arlan hanya bisa bersikap kaku dan dingin. kecuali terhadap ibu kandung mereka, Jingga. ayahnya bisa berubah seratus delapan puluh derajat menjadi seorang pria bucin akut parah kuadarat.😂😂😂
dengan tersenyum riang, Galang merasa beban fikirannya yg segudang tadi mendadak sudah melayang entah kemana. melihat ayahnya sudah turun tangan langsung, rasa rasanya tidak ada lagi yg perlu ia khawatirkan.
huhhffttt. sambil menghembuskan nafas lega, Galang pun mengotak Atik ponselnya kembali mencari nomor sang kekasih..
"gangguin hidup Jelita dulu, ahh.. sambil terkekeh pelan dia langsung menghubungi ke nomor kekasihnya itu.
__ADS_1
❤️❤️❤️
#Semangat Menulis ✍️✍️#