
Tiara yg mendengarkan curhatan hati putrinya itu merasa sedikit bersalah pada putrinya karna selama ini dia begitu memuji dan membanggakan menantu kesayangannya itu didepan putrinya. bahkan dia terang terangan mengatakan betapa irinya dirinya pada putri tunggalnya itu karna memiliki suami seperti Arlan, sosok laki laki yg sangat sempurna dimatanya. tadinya, dia ingin mengajak jingga untuk membantunya menata meja makan. dirinya dan Rina yg sedari tadi sibuk didapur tidak mengetahui akan persoalan batin yg dirasakan oleh putri putri mereka. niatnya tadi ingin mengajak mereka semua makan bersama karna memang makanan sudah selesai dimasak, tapi melihat Arlan beranjak dari duduknya dia menyadari ini tak bisa dibiarkan berlarut larut. maka saat dia melihat Arlan berjalan keluar dia pun mengikuti sang menantu Idaman sedunia itu.
saat Tiara melihat Arlan berjalan ke arah taman sang ibu mertua pun ikut dari belakang dan langsung duduk disebelah Arlan begitu sang menantu duduk di bangku taman itu. Arlan sempat kaget karna Tiara yg tiba tiba duduk disebelahnya dan tak urung bertanya juga "sejak kapan mama ngikutin aku ??"
"sejak diruang tengah." Tiara menjawab dengan tenang.
Arlan menghembuskan nafasnya dengan tatapan sendu dia melihat keatas langit. jutaan bintang di langit malam ini tidak juga bisa mengusir sepi yg ada didadanya.
"Arlan harus gimana lagi sih ma ngadapin jingga ??" dengan wajah yg lesu Arlan setengah bertanya kepada Tiara padahal yg sebenarnya pertanyaannya itu lebih ia tujukan pada dirinya sendiri.
Tiara mencoba menyelami perasaan menantu kebanggaannya itu.
"mama rasa yg perlu kalian tingkatkan dalam hubungan kalian saat ini hanya masalah komunikasi saja. bisa mama tebak dari curhatan Jingga tadi kalau kau tidak sungguh sungguh mendengarkan apa yg istrimu mau. kau kurang peka dengan apa yg istrimu rasakan. bisa kau bayangkan, menikahi orang yg baru saja kau kenal tanpa adanya cinta diawal memulai hubungan ini?? yah..memang seiring berjalannya waktu, cinta pun tumbuh dihati putriku. tapi.. yg tidak kau pahami disini. putriku itu sedari dulu adalah orang yg merdeka. sedari kecil dia punya pemikirannya sendiri. dia orang yg independen. tapi, semenjak menikah dengan mu jiwa bebasnya itu seakan akan terbelenggu. sementara kau hanya melimpahinya dengan cinta dan kasih sayangmu yg meluap luap yg tanpa kau sadari sikapmu itu sudah menenggelamkan cintamu itu sendiri. menikah denganmu adalah bentuk baktinya padaku dan juga Eka, yg sudah dia anggap sebagai pengganti papanya yg hilang dalam hidupnya. jadi..mama minta pada kalian berdua, terbuka lah dengan pasanganmu, mengerti, pahami lah pasanganmu. supaya cintamu yg besar dan dasyat itu yg hanya kau tujukan untuknya, tidak sia sia belaka. mama rasa kau cukup bijaksana untuk bisa memahami maksud dari perkataan mama ini. mama harap kedepannya kalian sudah lebih memahami satu sama lain. selebihnya mama juga mau mengucapkan trima kasih padamu nak. trima kasih buat cinta, kasih sayang dan ketulusan hatimu untuk putriku. selamanya kau menantu terbaik yg pernah aku kenal. jadi.. jangan ambil hati perkataan putriku tadi yaa. cobalah pahami dia lebih dalam lagi. ya sudah.. mama ke dalam dulu yaa. mama mau nyiapin makan malam kita. kamu menyusul ya nak."
"trima kasih ma. trima kasih sudah mengatakan semua ini. Arlan sekarang merasa jauh lebih baik. ke depannya Arlan akan berusaha lebih memahami istri Arlan yg cerewetnya gak ketulungan itu" sambil bercanda Arlan sekalian curhat ke mama mertuanya itu.
"hahaha.. selamat menikmati sikap jingga yg sok perfeksionis menantuku tersayang... haha" Tiara sudah bisa menebak mengenai apa yg dimaksud cerewet oleh Arlan. "gak enak kan... dengar dia mencak mencak cuma karna kerapian dan tata letak barang. hahaha.. "
__ADS_1
rasain loe.. emang enak ngadapin makhluk ajaib kayak anak gue. ha.ha.ha.!!! tidak semudah itu pulkosoh...!!! Tiara membatin dengan perasaan geli sendiri membayangkan kedongkolan sang menantu bila sudah berurusan dengan sikap jingga yg memang sangat rapi dan sangat perfeksionis.
Arlan hanya tersenyum geli dengan sikap mama mertuanya itu. dirinya pun ingin duduk sebentar lagi ditaman itu sambil menikmati udara malam dan memandang ke langit yg bertabur bintang bintang.
sementara Eka, pun menasehati sikap Jingga tadi yg menurutnya kurang pantas.
"putriku jingga, saat ini kau bukan lagi gadis kecil yg om jumpai dijalan 12 tahun yg lalu. sekarang kau sudah dewasa bahkan sudah berumah tangga. suamimu Arlan adalah laki laki paling utama saat ini yg harus kau hargai perasaannya. hormati suamimu karna dia lah sekarang dan seterusnya yg harus kau ikuti. coba kalau dibalik, Arlan yg bermanja manja dengan seorang Tante Tante yg baru kau kenal. apa kamu rela???" Jingga langsung membayangkannya dan bergidik ngeri.
"enggak.!! enggak boleh!! Mas Arlan cuma buat jingga.!!" jingga seketika frustasi. membayangkannya saja dirinya tidak sanggup. tak bisa dipungkiri cinta suaminya yg begitu besar sudah membolak balikkan perasaannya sehingga dia pun sekarang sudah mencintai suami manjanya itu.
dan.. mengenai cintanya yg begitu besar dan sampai membuatmu susah bernafas seperti katamu tadi, om rasa kamu hanya kurang mengkomunikasikan perasaanmu aja. apa salahnya kalo suami cemburu.?? toh masih dalam batasan wajar kan.. lagi pula, kalo kamu terus bersikap seperti ini apa kamu gak takut suamimu suatu saat pindah ke lain hati??
mendengar itu sontak jingga teringat papanya yg dulu meninggalkannya dan mamanya karna perempuan lain.
"enggak. jingga gak mau om. jingga udah cinta sama mas Arlan.." sambil sesegukan dalam rengkuhan sang om rasa papa kandung itu, jingga mengadu dan menangis sedih.
"ya sudah kalo kamu udah paham sekarang. cepetan kamu susul gih suamimu itu. baik baik ya nak berumah tangga. bukan cuma cinta aja yg diperlukan dalam membangun sebuah rumah tangga. komitmen, tanggung jawab dan paling utama rela berkorban. semoga rumah tangga kalian rukun dan selalu dalam lindungan Allah ya nak. . yaa sudah. susul sana suamimu."
__ADS_1
dengan berurai air mata jingga mencari sosok sang suami yg ia dapati sedang duduk sendiri di taman sambil membelakanginya. dengan setengah berlari jingga pun menghampiri suaminya dan langsung memeluknya dari belakang. Arlan yg tadinya kaget dengan kedatangan jingga yg tiba tiba langsung memutar tubuhnya dan memeluk erat istri kesayangannya itu.
"maafin jingga ya mas. jingga egois.. jingga cinta sama mas"
"maafin mas juga ya sayang.. mas juga udah egois sama kamu." dengan senyum nakalnya Arlanpun setengah berbisik ke arah istrinya itu
"ngamar aja yuk sayangku..."
jingga yg sadar akan arah pembicaraan suaminya itupun tersenyum dan mengingatkan
"tapi.. mas. kita udah ditungguin mama sama yg lain di meja makan. mama udah capek lho nyiapin makan malam ini, sahaja sama Sebastian, kakek berdua juga udah Dateng tuh." dengan jari lentiknya jingga menunjuk kearah pintu masuk rumah mereka.
"yaahhh... sayaaaangggπ€π₯π°π. . . " Arlan pun merengek jengkel dalam dekapan sayang pemilik hatinya itu .
sabar mas... ππππ€ͺππππππ
Semangat Menulis βοΈβοΈ
__ADS_1