
Menjalani biduk rumah tangga Tak melulu hanya kisah romansa Saja. perbedaan cara pandang dan pola pikir, mementingkan ego sendiri, kurangnya pemahaman pada pasangan yg mengakibatkan lebih dominannya satu pihak, kurangnya komunikasi antar pasangan, belum lagi persoalan ekonomi, campur tangan keluarga, masalah pekerjaan masing masing dan sejuta persoalan lain yg timbul kemudian adalah hal lumrah dialami tiap tiap rumah tangga. begitupun yg dialami oleh sahaja dan jingga dalam menjalani biduk rumah tangga mereka diusia pernikahannya yg masih berjalan 2 bulan. menikah di usia belia dan masih muda, membuat keduanya merasa tertekan dalam menjalani hari hari nya. jangan tanyakan Soal cinta, materi dan kasih sayang keluarga karna hal ini sangat melimpah ruah dalam hidup mereka. tapi tetap saja jingga dan sahaja merasakan kesepian dan duka yg tersembunyi rapat didalam hati mereka. mereka hanya ingin kebebasan mereka yg dulu kembali. menjalani masa masa muda mereka dengan ceria. bebas melakukan hal hal yg mereka sukai tanpa tekanan. bukannya mereka memungkiri status nya yg saat ini menjadi istri dari seseorang. bukan!! bukan pula ingin lari dari fitrahnya sebagai seorang ibu rumah tangga yg masih sangat minim pengetahuan dan wawasannya dalam hal berumah tangga. tidak. bukan begitu!! tapi ... semenjak dua bulan yg lalu setelah berganti status menjadi seorang istri, mereka merasa hidup mereka bukan milik mereka lagi. suami suami mereka yg terlalu mengagungkan cinta dan super protektif kepada istrinya, mau tidak mau membuat keduanya dengan terpaksa menjalani hari hari mereka sesuai dengan cara dan konsep hidup yg suami suaminya inginkan. semakin hari hidup mereka seperti sebuah boneka saja. semua sudah diatur suami. apa apa harus seizin suami, bahkan keluar rumah sekedar mengunjungi orangtuanya pun harus bersama suami. hal ini lah yg membuat jingga dan sahaja berfikir kalau semakin ke sini kok hidup mereka seperti boneka saja. disayang, dimanja, dipuja pasangannya tapi tak diizinkan berfikir dan mengemukakan pendapatnya sendiri, apa yg mereka inginkan dan apa yg mereka mau semua seolah angin lalu saja buat suami suami mereka. cintanya yg begitu besar pada istri istri mereka, membuat Arlan dan Sebastian seolah olah merasa mengerti apa yg terbaik untuk pasangan hidup mereka masing masing. mereka seolah olah tuli dengan rengekan para istrinya yg ingin kuliah lagi karna menurut mereka hal itu akan menghambat keduanya cepat mendapatkan momongan karna kesibukan perkuliahan istrinya dikemudian hari. Arlan dan Sebastian mengekang pergerakan istrinya karna rasa cinta yg teramat dalam membuat mereka tanpa mereka sadari sudah membuat istri istrinya merasa tertekan batin dengan kuatnya rasa sayang dan cinta suaminya itu. Sahaja dan Jingga memang bergelimang harta dan cinta dari suami mereka tapi mereka merasa kosong dalam hidup mereka karna yg paling utama dalam hidup ini adalah kebebasan. mereka berdua seolah olah merasa menjadi tawanan dirumah mereka sendiri. keposesifan suami suami mereka seolah membuat mereka susah bernafas. cinta yg sebesar itu membuat para istri yg masih usia belia itu merasa sesak dan terampas gairah hidupnya. yap. menjadi boneka kesayangan suami. itulah yg mereka rasakan. mencoba bicarapun suami suami mereka tidak serius menanggapi. dicintai sebesar itu, harusnya membuat mereka menjadi wanita paling beruntung. harusnya! tapi berbeda yg dirasakan oleh jingga dan sahaja. cinta suaminya yg begitu dalam tanpa mau bertanya apa yg disukai dan tidak disukai istrinya, hanya mencintai tanpa syarat dalam artian menjadi penurut itulah yg diminta para suami membuat mereka merasa diri seperti boneka saja. boneka yg dijaga, disayang dipuja dan dimanja. nyatanya kehidupan yg mudah dan fasilitas yg super mewah yg ditawarkan para suaminya, tetap saja membuat mereka berdua merasa hampa. mereka menyesal dengan takdir yg harus mereka jalani tapi tak tau harus menyalahkan siapa. kedua orang tua mereka, bahkan kakek nenek mereka memandang rumah tangga mereka adalah contoh model keluarga paling harmonis dimana para suami adalah sosok laki laki mapan, tampan dan berpengaruh di dunia bisnis, ditambah mereka adalah sosok suami yg begitu memuja dan memanjakan istri istri mereka. kadang baik Tiara, Rina bahkan Clara suka bercanda dengan putri putrinya tentang betapa iri nya mereka dengan keberuntungan sahaja dan jingga yg memiliki suami sempurna seperti Arlan dan juga Sebastian. hal itulah yg membuat mereka semakin enggan berbicara jujur dengan keluarganya tentang apa yg mereka rasakan didalam hati mereka yg sebenarnya. bukannya sahaja dan jingga kurang bersyukur. mereka sangat bersyukur malah. tapi... mereka juga manusia biasa yg punya keinginan sendiri. ingin juga bergaul dengan dunia luar. menggapai mimpi mereka menjadi seorang dokter. memiliki pencapaian sendiri dalam hidupnya. apakah salah memiliki pemikiran dan keinginan sendiri?? itulah yg membuat sahaja dan jingga tidak bersemangat lagi dan tidak seceria mereka yg dulu. entah sampai kapan mereka akan tahan dengan semua ini. hanya waktu yg bisa menjawabnya.
__ADS_1
😕😕😕
__ADS_1
Semangat Menulis✍️✍️
__ADS_1