
Selama dua bulan ini praktis tidak adalagi gangguan atau pesan ancaman yg masuk ke ponsel Rangga. di satu sisi dirinya lega karna artinya ketakutan dan kecemasan akan bahaya yg akan mengancam keluarganya sudah berakhir. tapi disisi yg lain dia juga merasa penasaran apa gerangan yg membuat ayah Sandra menghentikan aksi balas dendam akan kematian putrinya. Dan orang pertama yg ia curigai akan lenyapnya pesan pesan singkat berisi ancaman itu tak lain adalah Arlan sang menantu idaman dan juga Sebatian putranya. tapi... melihat gelagat dan sikap biasa yg ditunjukkan keduanya dalam keseharian mereka membuatnya jadi ragu untuk bertanya, apalagi kedua papa muda kebanggaan mereka itu sedang disibukkan dengan Mega proyek yg sedang mereka tangani yg bernilai triliunan rupiah. jadi, dia pun kembali menyimpulkan bahwa keduanya bisa jadi tidak terlibat akan menghilangnya sosok ayah Sandra, mantan mertuanya itu. melihat gelagat putra nya yg akhir akhir ini banyak termenung saat sendiri membuat tuan Barra tak kuasa bertanya.
"Rangga... sedang apa kamu sendirian disini..”
tuan Barra mendekat ke arah Rangga dan mendudukkan dirinya tepat di sebelah putranya itu.
"ehhh... papa.... aku lagi nyari angin segar aja pa...." Rangga tersenyum dan membantu ayah kandung nya itu duduk di sebelahnya. kesehatan tuan Barra memang sedikit menurun Akhir akhir ini. bahkan dirinya yg biasanya selalu bugar dan bebas melangkah kemanapun saat ini harus menopang dan berjalan menahan tubuhnya dengan bertumpu pada sebuah tongkat.
"kamu itu anak papa. walaupun kita sudah terpisah jauh selama puluhan tahun selama ini, tapi tetap saja ikatan batin antara orangtua dan anak tidak akan pernah putus. tak perduli seberapa dewasa, setua apa usia anaknya, ikatan batin itu pasti akan selalu ada. aku tahu akhir akhir ini kau banyak pikiran. walaupun kau bersikap biasa saja saat kita semua berkumpul tapi... percayalah. mata tua papa mu ini tidak bisa kau kelabui. jadi ... sekarang papa minta kau Jujur sama papa. apa yg menjadi beban pikiranmu saat ini." tuan Barra bertanya dengan tatapan wajah serius ke arah putra kesayangannya itu.
melihat keseriusan diwajah tua ayahnya itu membuat Rangga menyerah dan mulai bercerita.
"yaahhhh.... papa benar. ada sesuatu yg mengganjal di pikiranku akhir akhir ini. papa tau kan sudah dua bulan terakhir ini ancaman dari ayah Sandra seolah berhenti. memang hal itu sangat melegakan tapi...tetap saja aku masih cemas karna tidak adanya kejelasan akan keberadaan Panji, ayahnya Sandra. aku takut menghilangnya dirinya saat ini hanya lah siasatnya belaka agar kita lengah dan kurang waspada. aku ingin bertanya pada Arlan dan Sebastian tapi .. aku juga ragu. melihat sibuknya mereka berdua akhir akhir ini membuatku tak tega menambah beban pikiran mereka. apa kira kira papa tau penyebab ayah Sandra tiba tiba menghilang secara misterius ?" Rangga menatap tuan Barra dengan sungguh sungguh menunggu jawaban sang ayah.
tuan Barra tersenyum dan dengan mantap menjawab.
"ya.... papa tau. dan papa juga tau pasti di mana saat ini Panji berada..!!" dengan mantap dan yakin sang ayah menjawab keraguan yg selama ini menjadi beban pikirannya anaknya itu.
__ADS_1
”apa..?? papa tau dia ada di mana..?? beri tahu aku pa..! dimana dia saat ini ???" wajah terkejut dan penasaran Rangga membuat tuan Barra berdesah pasrah dan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"nak... datang ke taman belakang sekarang juga. ajak sekalian kakak iparmu itu." Tut. tuan Barra langsung mengakhiri panggilan ponselnya.
"paa.... jadi .. dimana sekarang keberadaan Panji ??” Rangga bertanya dengan perasaan gusar dan tidak sabaran.
"sabarrr.....sebentar lagi kamu juga akan tau," tuan Barra tetap tenang sembari menikmati angin sore di belakang halaman rumah nya.
selang beberapa menit tampak Arlan dan Sebastian datang ke arah mereka.
"ada yg ingin Rangga tanyakan kepada kalian berdua.” tuan Barra menunjuk ke arah putranya.
”Arlan... Sebastian... papa minta kalian Jujur Sama papa. dimana keberadaan Panji ayahnya Sandra saat ini??” Rangga langsung to the point pada permasalahan yg sangat ingin ia ketahui kebenarannya.
Arlan dan Sebastian saling pandang sejenak. kemudian Sebastian tampak mengangguk ke arah adik iparnya itu seolah memberikan waktu untuk berbicara.
"baiklah.. sepertinya ada yg tidak bisa jaga rahasia di sini” Arlan memulai pembicaraan dengan sindiran tegasnya. Dan terang saja tuan Barra tidak terima....
__ADS_1
"ehhhh.... kamu yaa.. cucu durhaka... orang kakek gak ada ngomong apa apa kok... dasar anak kakek ini aja yg emang cerdas banget. jadinya dia penasaran dan pengen tahu nya tinggi." tuan Barra malah membanggakan Rangga didepan Arlan dan Sebastian.
"jadi... apa yg sebenarnya sudah kalian berdua lakukan Arlan.??!! Rangga tetap fokus dengan pembahasan mereka tadi..
”kalau mengenai Panji, papa tak perlu cemaskan lagi karna dia dan organisasi hitamnya sudah kami lumpuhkan." tegas Arlan kepada ayah mertuanya itu.
"jadi maksud mu dia sudah..??"
Rangga sangat terkejut dengan sekaligus lega mendengar informasi yg baru dia ketahui kebenarannya itu.
”iya pa... Panji sudah lenyap dari dunia ini." Sebastian menjawab pertanyaan papanya itu tidak kalah tegas.
"ceritakan pada papa.. bagaimana cara kalian mengakhiri hidup ketua mafia kejam itu??" kini baik Rangga maupun tuan Barra sedang fokus menatap kearah Arlan. dan akhirnya secara bergantian Arlan dan Sebastian menceritakan bagaimana cara dan strategi mereka menghancurkan kelompok organisasi Hitam Panji dan juga kerjasama mereka dengan 5 organisasi Hitam lainnya dimana Panji kalah telak dan tewas dalam perang antar organisasi Hitam itu yg didalangi oleh Arlan dan juga Sebastian.
😎😎😎😎😎😎👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
Semangat Menulis ✍️✍️
__ADS_1