
Belakangan ini Sahaja sering terlihat murung dimata Sebastian. apapun yg dilakukan suaminya selalu ditanggapi Sahaja dengan raut wajah sendu kadang juga dirinya tersenyum tapi senyum terpaksa. ya.. Sahaja masih bisa tersenyum bahkan tertawa lebar jika Sebastian bertingkah konyol demi menyenangkan istrinya itu, tapi ada kalanya Sahaja tampak melamun dan berdesah sedih saat dia sendirian. Sebastian mulai takut dan berfikir jangan jangan istrinya itu sedang sakit keras. dia pun mencurigai kalau kalau istrinya itu diam diam sedang menyembunyikan penyakitnya itu dari dirinya. tapi kadang dia menepis sendiri pemikiran itu dan mencoba untuk mendekati istrinya dan mencari tau sendiri apa yg membuat istrinya itu terlihat galau. sudah berbagai cara Sebastian lakukan demi melihat istrinya itu kembali ceria tapi sepertinya lambat laun istrinya itu seperti membuat tembok pembatas antara mereka. sahaja berbeda dengan jingga. jingga lebih terbuka jika memiliki suatu masalah dan jingga cenderung cuek jika ada sesuatu masalah. jingga lebih memilih menyibukkan diri mengerjakan sesuatu yg bisa mengembalikan mood nya seperti berdandan dan shopping sehingga dia lupa akan permasalahan yg mengganggu pikirannya. sedangkan Sahaja lebih tertutup dan memendam perasaannya sendiri. Sahaja suka memikirkan secara mendalam jika memiliki suatu beban pikiran. hanya jingga yg mengerti sifatnya ini. jika sahaja sudah diam seribu bahasa pasti ada sesuatu hal serius yg sedang ia fikirkan.
seperti pagi ini saat Sebastian dan Sahaja sedang sarapan pagi bersama, Sahaja tampak melamun dan hanya mengaduk aduk sendok dan garpu yg ia pegang pada makanan yg ada dihadapannya. Sebastian sudah berkali kali memanggilnya pelan dan lembut, tapi saat ini seolah olah tubuh dan pikirannya seakan berada ditempat yg berbeda. Sebastian akhirnya mengguncang pelan tangan sang istri sehingga sahaja tersadar dari lamunannya.
"kamu kenapa sayang?? apa kamu sakit??"sambil meletakkan tangannya di kening sang istri Sebastian sudah menunjukkan raut wajah khawatirnya. "apa perlu kita kerumah sakit sekarang?? biar mas anterin aja ya sayang...mas khawatir nih kalau kamu kenapa kenapa. ya..sayang ya... "
"sekilas sahaja tersenyum pada suami posesifnya itu dan mencoba meyakinkan sang suami kalau dia tidak apa apa. tapi... tak berapa lama dirinya pun ambruk ke depan dan tidak sadarkan diri. melihat kondisi istrinya itu Sebastian dengan sigap membawa sang istri ke kamar mereka sambil setengah berlari dia memerintahkan kepala pelayan dirumahnya untuk memanggil dr. Miller sekarang juga. setelah sampai di pintu lift dirinya langsung menekan angka 4 letak kamar mereka dan secepatnya membaringkan istrinya dengan hati hati diranjang mereka. wajah Sebastian kini sudah pucat pasi, keringat dingin bercucuran diwajah gantengnya, dan bahkan tangannya basah karna sangkin gugup dan panik yg melandanya saat ini. pun bajunya sudah basah karna keringat dingin. seketika dirinya merasakan takut yg amat sangat. saat saat tertekan seperti ini dirinya teringat Arlan dan segera memintanya datang kerumahnya sekarang juga karna istrinya yg sedang tak sadarkan diri. setelah itu, tak sampai 2 menit sang sahabat dan istrinya itu sudah muncul dikamarnya karna mereka memang berlari dari rumah mereka begitu mendapat kabar dari Sebastian tadi. jingga tampak sangat khawatir dan menepuk nepuk punggung tangan sahabatnya yg ia genggam dengan erat. tak terasa air mata kecemasan pun tak bisa berhenti keluar dari pelupuk mata indahnya.
__ADS_1
"kenapa jadi kayak gini sih ja ?? loe kenapa lagi sih..?? kebiasaan deh loe.... kan udah gue bilang semua masalah itu ada jalan keluarnya, jangan dipikirin mulu. kan ada gue ja.
loe bangun dong. gue takut nih, tau enggak??" dengan mulai terisak Jingga terus berusaha berbicara dengan sahabatnya. Arlan hanya menepuk nepuk bahu sang istri memberi dukungan. Sebastian yg memang sudah panik sedari tadi samar samar menyimak kata kata jingga dan menyadari kalau istrinya itu sedang menyimpan suatu permasalahan yg dirinya sendiri tidak tau apa itu. tak berapa lama dr. Miller pun datang dan langsung melakukan tugasnya. dirinya langsung mencoba menyadarkan sahaja dan tak berapa lama sahaja pun sadar. dokter memeriksa sahaja dan setelah beberapa lama dirinya menuliskan beberapa resep dan meminta sahaja meminum obat nya teratur. dokter mengatakan bahwa sahaja tidak apa apa. dirinya pingsan karna sahaja mungkin sedang banyak pikiran dan membuat batinnya merasa tertekan. Setelah beberapa lama diruangan itu dokter Miller pun pamit undur diri.
melihat sahabatnya sudah sadar jingga langsung memeluk sahabatnya itu dan memintanya beristirahat dan dirinya ada dilantai bawah diruang tengah kalau kalau sahabatnya itu butuh dirinya. mereka pun keluar dari ruangan itu dan setelah mereka keluar Sebastian langsung memeluk istrinya dan menangis seperti anak anak yg mengadu ke ibunya.
"sayang ... jangan kek gini gini lagi yaa sayang.. mas takut bgt tadi.. kamu kalo ada yg dipikirin... kasih tau sama mas aja yaa. mas janji bakalan ngabulin apapun yg kamu mau. Tapi.. janji ya sayang.. jangan kayak gini lagi kejadiannya. mas. takut bgt tadi sayang."... dirinya berucap ambil terisak dalam pelukan sang istri. Sebastian benar benar menunjukkan sisi lemahnya kepada istrinya itu. dengan sayang sahaja menenangkan suaminya dan mengecup sayang puncak kepala suaminya dan menepuk nepuk punggung suami manjanya itu yg masih bergelung dalam dekapannya.
__ADS_1
sambil menghapus air matanya, Sebastian pun memandang penuh cinta sang istri dan mengecup sayang kening pemilik hatinya itu.
"ya udah.. sekarang istirahat aja ya sayangku.. biar cepat pulih. mas kebawah bentar ya mau nyuruh kang Dhani buat ambil obat, diresep ini ke apotik. sebentar ya sayang. mas gak lama kok. kamu istirahat ya..
mas sayaaaanggg bgt sama kamu."
cup. cup. cup.
__ADS_1
Sebastian mengecup sayang puncak kepala sang istri kemudian beranjak keluar dari kamarnya itu setelah memastikan sang istri mulai terpejam.
Semangat Menulis ✍️✍️