
Saat ini Arlan dan juga Sebastian sedang bersiap siap menjalankan misi yg sudah mereka rancang beberapa hari yg lalu. disini mereka akan menunggu kedatangan tuan bara dan tuan putra yg memang sudah sepakat melancarkan misi mereka di sebuah mall ternama. misinya adalah tuan putra akan memisahkan sahaja dari jingga terlebih dahulu dengan sedikit beracting. setelah itu masuklah tuan barra yg akan membawa jingga menjauh dari sahaja agar Sebastian bisa lebih dekat dengan sahaja, tentu saja dalam hal ini tuan barra tidak sendiri melainkan dibantu oleh Arlan yg akan mengalihkan Jingga dari penjagaannya yg super ketat terhadap sahabatnya sahaja.
__ADS_1
Tuan putra awalnya menelpon sahaja untuk datang ke mall yg tentu saja seperti biasanya dirinya pasti tidak sendiri. dirinya selalu ditemani jingga sang sahabat merangkap pengawal pribadinya itu. nah. saat mereka ingin melangkah masuk ke dalam mall, tiba tiba hp Jingga berdering dan tuan putra meminta Jingga membelikan kue dari toko mamanya karna tiba tiba dirinya ingin memakan kue dari toko mama Jingga. tanpa menaruh curiga Jingga pun menyanggupi permintaan tuan putra dan bergegas kembali ke arah toko kue mamanya. tuan putra juga berpesan agar Sahaja langsung menemaninya di cafe yg sudah mereka sepakati untuk temu makan siang. saat jingga akan keluar dari lobi mall tiba tiba ada seorang pria tua yg jatuh tersungkur di sampingnya sambil memegang tangan jingga pria tua itu mengaduh kesakitan sambil memegangi jantungnya "tolong nak.. tolong kakek nak" itulah tuan barra yg memulai actingnya. Jingga yg tiba tiba merasa khawatir dengan keadaan kakek yg ada dihadapannya ini merasa bingung harus melakukan apa. tiba tiba dari depan ada sebuah mobil yg berhenti dan seorang pemuda tampan dan gagah keluar dari dalam mobil berjalan masuk kearah mall itu, "ehh..ehh... tolong.. tolong ... saya. sepertinya kakek ini harus segera dibawa kerumah sakit. " jingga yg panik langsung menghentikan langkah Arlan sementara si kakek yg tak lain adalah tuan barra mencuri curi senyum penuh arti kearah Arlan. "baiklah.. ayo ikut saya ke mobil" sambil menuntun tuan barra kedalam mobilnya jingga membukakan pintu untuk tuan barra dan segera mobil melaju dengan kecepatan diatas rata rata menuju rumah sakit milik keluarga Arlan yg memang sudah di siapkan sebagai bagian dari rencana mereka. disisi lain sahaja yg sudah lebih dulu menemui kakeknya di cafe itu tersenyum senang mendapati sang kakek yg sudah terlebih dahulu memesan makanan untuk santap siang mereka. awalnya semua berjalan normal tapi tiba tiba tuan putra jatuh tersungkur dan sontak saja kejadian yg tiba tiba itu membuat sahaja syok dan panik meminta tolong sekitarnya. tiba tiba ada seorang pemuda yg tak lain adalah Sebastian yg menawarkan diri menolong mengantarkan tuan putra kerumah sakit pribadi milik kelurga Prasetia. sambil menangis dengan pikiran kalut sahaja langsung setuju dan mengikuti pemuda tampan dan gagah yg menuntun kakeknya menuju mobil sang pemuda baik hati itu. selang beberapa menit tibalah mobil Sebastian di rumah sakit Prasetia yg memang sudah di setting sejak awal sebagai tempat dirawatnya tuan putra. tim dokter yg menanganinya pun sudah di breffing jauh jauh hari demi mensukseskan sandiwara ini. dengan panik dan kalut sahaja menanyai tim dokter yg menangani kakeknya itu. dengan dramatis mereka menggeleng sedih dan meminta sahaja untuk bersabar dan bersiap dengan kemungkinan terburuk. tim dokter juga mewanti wanti seandainya nanti pasien sadar dan mengajukan permintaan terakhir harus segera dipenuhi mengingat riwayat kesehatan pasien yg sangat mengkhawatirkan. segera tim dokter itu keluar dari ruang perawatan VVIP itu yg fasilitasnya sudah menyamai kamar hotel bintang 5. tuan putra yg sedari tadi pura pura tidur berharap sahaja keluar sebentar dari ruangan itu karna dirinya yg kebelet mau ke toilet. saat sahaja tidak melihat ke arahnya dengan kode kedikan kepala tuan putra meminta Sebastian membawa sahaja keluar dari kamar itu. "ehmm..ehmm.. nona cantik. sebaiknya kita ke kantin dulu untuk sekedar membeli kopi. sepertinya kakek anda sudah tidak apa apa. jadi biarkanlah dia istirahat dulu sejenak. dan anda juga harus makan agar kuat menjaga kakek anda bukan?" Sebastian berusaha membujuk sahaja. dengan ragu sahaja pun mengangguk lemah. sebenarnya dia tidak lapar tapi dia juga tidak enak hati menolak tawaran pemuda yg ada dihadapannya ini yg sudah berbaik hati mengantarkan kakeknya ke rumah sakit sehingga kakeknya cepat mendapatkan perawatan medis. dengan malas sahaja mengikuti sang pemuda keluar dari ruangan itu. sementara Sebastian sendiri tak bisa lagi menutupi rasa bahagia dihatinya karna akhirnya dirinya bisa juga berdekatan dengan sang pujaan hati.
__ADS_1
semangat menulis✍️✍️
__ADS_1