
Sore ini Sahaja pulang dengan perasaan yg campur aduk. ini pertama kalinya Sebastian bersikap sedingin itu padanya. diperlakukan tak biasa oleh suaminya itu membuat perasaannya cemas campur galau..π wajahnya mungkin bisa dia kondisikan dengan baik saat di mansion kakek Barra tadi, tapi tidak dengan hatinya. jeritan hatinya yg sebenarnya, tak ubahnya seperti lagu jadul yg berputar putar didalam pikirannya..
"apa salahku....kau buat begini....
kau tarik ulur hatiku, hingga... sakit yg kurasa..."
saat di meja makan tadi ingin rasanya dia menangis π sampai sesegukan demi menyalurkan luapan emosi yg ada di dadanya. tapi, bukan Sahaja namanya kalau tidak pandai menutupi perasaanya yg sebenarnya, karna kemampuan "menutupi perasaan yg sebenarnya" yg ia miliki sekarang memang sudah terasah sejak ia berusia belia.
__ADS_1
puncaknya saat dia pun sedang bersiap siap untuk memenuhi undangan kedua kakeknya dengan tak tahu malunya, suami posesifnya yg tadi mendiamkannya sesaat, meminta para orangtua untuk langsung berangkat saja ke acara pesta yg menurut Sebastian pesta tidak jelas itu tanpa kehadirannya. bukan larangan dari Sebastian yg memuatnya batal menghadiri pesta keluarga itu, melainkan alasan yg diungkapkan suaminya yg membuat semua orang yg mendengarnya speechless dan tidak bisa berkata kata lagi. Yap. saat Sahaja yg sudah bersiap siap untuk ikut para orang tua yg sudah menunggunya dibawah, langkahnya terhenti di tengah jalan saat menapaki tangga dimansion itu, karna perkataan suaminya yg dihadapan kedua kakek nya dan kedua mertuanya.
"kek...pah.... mah... Tian mohon jangan ajak Sahaja ke pesta itu. Tian ga sanggup pah.. mah.. kalo sampai Sahaja berpaling dari Tian. Tian akui tadi Tian udah salah mendiamkan Sahaja. Tian janji itu yg pertama dan terakhir kali Tian bersikap konyol seperti tadi. karna pada kenyataannya Tian gak sanggup liat Sahaja akrab dengan laki laki lain. baru membayangkannya saja, dada ini rasanya sesak banget kek.. pah.. mah,
jadi... Tian mohon, jangan tambah hukuman Tian ini, karna saat ini didiamkan oleh Sahaja saja Tian rasanya udah gak sanggup.ππ
"terus..kenapa tadi, sok soan pake nyuekin cucu saya segala??" kakek Putra bertanya penuh selidik yg di ikuti oleh sorot mata penuh keingintahuan alias kepoπ dari kakek Barra, Rangga dan Tiara.
__ADS_1
"ltu karna... " Sebastian menggaruk tengkuknya yg tidak gatal. melihat putra kebanggaannya yg semakin terpojok, Rangga pun maju dan mengajak kedua orangtua itu dan istrinya, Tiara bergegas pergi.
"sudah.... sudah.... apapun. alasannya, yg terpenting kan dia sudah berjanji tidak mengulanginya lagi..! ayo sekarang kita segera berangkat. waktu kita sudah tidak banyak nih. ayok..pahh.. nanti bisa bisa kita semua terlambat lagi" sambil mengarahkan ayah dan sahabat ayahnya itu menuju ke arah pintu utama, Rangga sekilas melihat ke arah Sebastian dan mengedikkan kepalanya ke arah tangga. Sahaja yg menyadari itu bergegas berlari ke arah kamarnya yg disusul oleh Sebastian. saat Sahaja ingin menutup pintu kamarnya langsung terhalangi oleh cekalan tangan kekar suaminya pada daun pintu. tak ingin berdebat, Sahaja langsung berkemas dan tanpa persetujuan suaminya, Sahaja langsung mengajak si kembar dan para pengasuh nya untuk pulang kembali kerumah. Sebastian yg
memahami suasana hati istrinya saat ini yg tidak baik baik saja, memilih diam dan menuruti semua yg istrinya inginkan. mereka bahkan tidak berpamitan kepada Arlan dan Jingga, karna dia pun tahu pasti sahabatnya itu saat ini sedang sibuk mengejar maaf dari istrinya seperti yg saat ini sedang ia lakukan.
π₯°π₯°π₯°π€π€π€βΊοΈβΊοΈππππ
__ADS_1
Semangat Menulis βοΈβοΈ