
Keesokan harinya.
PT. Intern group.
Disebuah perusahaan PT. Intern group sedang mengalami kekacauan. Ada seseorang yang sengaja menggelapkan dana perusahaan. Juna pun kini sedang berada dikursi kebesarannya dengan perasaan yang penuh amarah terkait berita ini.
Buuggh ... suara lemparan buku jatuh ke bawah. Ternyata buku terjatuh karena ulah Juna yang sengaja melemparkan ke bawah lantai.
"Ben, bagaimana bisa terjadi seperti ini hah?" tanya Juna dengan amarah yang membara di hatinya.
"Sa-saya juga tidak tahu Tuan. Saya sudah melacak dan mencari info tentang siapa pelakunya, tapi hasilnya nihil Tuan," jawab Ben sambil menundukan kepala.
Aargghhh... "Dasar manusia biadab, berani sekali membuat perusahaan saya hampir bangkrut. Dan lihat saja, jika sudah diketahui pelakunya saya tidak akan memaafkannya dan bila perlu saya akan membunuhnya Ben!" Juna sambil menatap Ben dengan tatapan yang sangat menakutkan.
Namun Ben pun hanya diam saja, tanpa menjawab perkataan Juna dan sambil menundukan kepalanya.
"Oya Ben, apakah jangan jangan ini perbuatan Aleena yang sengaja menyuruh orang yang bekerja disini untuk menggelapkan uang kita dan sengaja membuat perusahaan kita bangkrut?" Tanya Juna.
"Tu-tuan, kenapa berbicara seperti itu? Dan kenapa bisa Tuan, menuduh Aleena sebagai pelakunya Tuan?" Tanya Ben dengan hati hati.
"Iya, karena dia orang yang sangat membenci saya. Jadi ada kemungkinan Aleena yang melakukannya. Apalagi Aleena wanita pintar dan cerdas, pasti dia bisa melakukan apapun yang dia mau." Ucap Juna sambil menatap Ben.
"Kalau masalah itu, saya kurang tahu Tuan." Ben menatap kembali Juna.
"Ya sudah, kamu tolong telepon Veri dan suruh dia untuk datang kesini bersama Aleena." Perintah Juna kepada Ben. Lalu dengan segera, Ben pun menelpon Veri.
"Oya Tuan, katanya nanti Tuan Veri akan kesini bersama Aleena nanti siang." Ucap Ben saat selesai menelpon Veri.
"Oke, baguslah kalau begitu." Juna sambil menatap Ben.
Aleena Santika. Saya tahu, ini pasti karena ulahmu kan? Lihat saja Aleena jika memang ini perbuatanmu, maka siap siap saya akan membawamu ke dalam sel tahanan. Dan bila perlu saya akan membuatmu menderita selamanya. Lagian siapa suruh untuk berani bermain main dengan saya gerutu Juna pada diri sendiri lalu tersenyum dengan senyuman penuh arti.
.
.
.
Pt. Alaska group
"Oya Na, kebetulan barusan asisten dari seorang Juna Prakasa menelpon saya dan mengatakan kalau perusahaan pt. Intern group sedang ada dalam masalah kasus penggelapan uang." Ucap Veri sambil menatap Aleena.
"Apa, kasus penggelapan uang? Bagaimana bisa terjadi seperti itu Tuan?" Tanya Aleena.
"Entahlah Na. Sekarang pt. Intern group sedang dalam proses penyelidikan oleh polisi untuk melacak dan mengetahui siapa dalang dari semuanya yang berani membuat perusahaan pt. Intern group hampir bangkrut." Ucap Veri.
"Baguslah kalau begitu. Semoga saja pelakunya cepat tertangkap dan kalau bisa buat dia jera supaya kapok, tidak melakukannya lagi." Aleena sambil menatap Veri.
"Iya semoga saja Na. Dan kayaknya ada kesalahpahaman nih Na." Ucap Veri.
"Kesalahpahaman? Maksudnya Tuan?" Tanya Aleena sambil mengerutkan keningnya merasa tidak mengerti.
__ADS_1
"Iya maksudnya, Juna menyalahkan jika itu semua karena ulah kamu yang menyuruh pegawainya untuk melakukan penggelapan uang." Ucap Veri dengan hati hati.
"Apa? Tuan Juna bilang begitu? Kurang ajar banget itu orang main tuduh segala kalau saya ini dalangnya. Lagian asal Tuan Veri tahu ya sebenci bencinya saya sama seseorang, tidak akan mungkin melakukan tindakan bodoh seperti itu. Apalagi sampai menyuruh orang untuk menggelapkan uang perusahaan, mana saya berani Tuan. Maksud Tuan Juna apa sih, kenapa sampai berbuat kejam malah menuduhku seperti itu Tuan." Geram Aleena benar benar tidak terima dituduh oleh Juna Prakasa.
"Lagian saya percaya sama kamu kok, kalau kamu tidak terlibat dan tidak mungkin melakukan seperti itu. Makanya tadi Ben menyuruh kita untuk datang ke perusahaannya." Ucap Veri.
"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang Tuan. Tanganku sudah panas nih pingin saya pukul wajah Tuan Juna sampai penyok tuh. Habisnya menyebalkan sekali itu orang nuduh orang sembarangan saja." Gerutu Aleena sambil mengepalkan tangannya diudara.
"Sudah sabar Na. Ya sudah, ayo kita berangkat ke perusahaan pt. Intern group dan kamu harus jelaskan sama Juna kalau kamu bukan pelakunya dari semua ini." Veri sambil menatap Aleena.
"Siap Tuan." Jawab Aleena.
Lalu Aleena pun berjalan menuju parkiran mobil dan meninggalkan tempat kerjanya untuk pergi ke perusahaan pt. Intern group.
Satu jam sudah Aleena dan Veri sampai diperusahaan pt. Intern group. Lalu mereka keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam perusahaan tersebut.
Kedatangan mereka disambut baik oleh Ben, asisten pribadi Juna. Lalu Ben pun mengantarkan Aleena dan Veri ke ruangan dimana Juna berada.
"Selamat siang Tuan. Nona Aleena dan Tuan Veri sudah ada disini, mereka sekarang ada diluar Tuan." Ucap Ben yang tiba tiba masuk ke dalam ruangan Juna.
"Ya sudah kalau begitu suruh mereka masuk." Ucap Juna sambil menatap Ben.
"Baik Tuan." Jawab Ben, sambil melangkah pergi berjalan keluar.
"Selamat siang Tuan Juna," ucap Veri yang kini sedang berjalan menghampiri Juna bersama Aleena.
"Siang juga Tuan Veri," jawab kembali Juna sekilas matanya menatap Aleena.
"Oya gimana Tuan Juna, apakah pelakunya sudah ditemui?" Tanya Veri.
"Kenapa Tuan menatapku seperti itu? Lagian asal Tuan tahu, saya bukan pelaku utamanya dalam penggelapan uang disini. Jadi Tuan jangan asal nuduh sembarangan orang! Otak itu dipakai Tuan, masa iya saya kerja di perusahaan Tuan Veri dan malah menuduh saya pelakunya disini. Emangnya saya bekerja disini apa hah?" Aleena menatap tajam Juna.
"Iya bisa saja, kamu menyuruh pegawaiku untuk melakukan pengelapan uang dan sengaja membuat perusahaan saya bangkrut. Aleena, apa salahnya kamu itu jujur! Karena kamulah satu satunya orang yag membenci saya kan? Apalagi kamu itu pintar dan cerdas pasti akan melakukan apapun demi yang kamu mau kan?" Juna membalas tatapan tajam Aleena.
"Cukup Tuan Juna! Asal Tuan tahu, saya memang membencimu tapi saya tidak mungkin melakukan tindakan konyol seperti ini Tuan Juna. Jadi stop, berhenti menuduhku sebagai dalang dari semuanya." Aleena benar benar emosi dan tidak bisa dibendung lagi.
"Terus saya harus percaya begitu-" ucapan Juna terputus saat Aleena memotong pembicaraannya.
"Sudahlah Tuan Juna, saya malas harus berdebat dengan anda. Jika Tuan tetap tidak percaya, maka terserah Tuan saja." Ucap Aleena. "Ya sudah, saya permisi dulu Tuan Veri mau ke toilet dulu." Pamit Aleena.
"Iya silahkan Na." Jawab Veri.
"Lagian yang dikatakan Aleena benar Juna, kalau Aleena bukan pelakunya. Kamu jadi orang kok bisa sampai berpikiran kalau Aleena pelakunya." Ucap Veri merasa kesal juga terhadap prilaku Juna.
"Entahlah Ver, saya juga tidak tahu. Tapi yang pasti saya yakin Aleena pelakunya." Ucap Juna kekeuh dengan pendiriannya.
"Terserah kamu saja deh Juna, pusing harus menyakinkan gimana lagi sama kamu." Veri sambil berjalan menuju sofa dan duduk disana.
"Ck, jangan bilang kamu kekasihnya Aleena, jadi membelanya." Gerutu Juna.
"Sudahlah Juna, saya tidak ingin berdebat nih." Ucap Veri lalu mengeluarkan handphonenya dan menelpon seseorang.
__ADS_1
Dua pulut menit kemudian.
Aleena yang selesai dari toilet pun kini sudah kembali keruangan, dimana Juna dan Veri berada.
"Tuan, ayo kita pulang. Kita tidak butuh waktu lama lama disini sama orang yang suka seenaknya menuduh orang sembarangan." Gerutu Aleena.
"Ck, kamu itu ya Aleena kenapa tidak mengakui saja hah?" Juna semakin yakin kalau Aleena pelakunya.
"Oke, saya akan buktikan kalau saya bukan pelakunya." Ucap Aleena sambil memberikan handphone miliknya ke Juna.
"Apa ini?" Tanya Juna.
"Tadi saya tidak sengaja mendengar, dua orang pegawai bercakap cakap tentang penggelapan uang." Aleena sambil menatap Juna.
Lalu dengan segera Juna pun memutar video yang sudah direkam oleh Aleena dan Veri pun ikut menghampiri Juna, untuk melihat video percakapan dua orang pegawai tersebut.
Aargh.. ternyata dia pelakunya, dasar bajingan! Teriak Juna sambil melemparkan handphone milik Aleena.
"Tuan, apa yang anda lakukan. Kenapa malah merusak handphone ku hah? Bukannya berterima kasih karena sudah tahu siapa pelakunya, malah melempar handphone saya yang jadi sasarannya." Gerutu Aleena sambil menatap kesal Juna.
Namun Juna pun hanya diam saja, tanpa membalas perkataan Aleena dan sekilas menatap Aleena.
"KenapaTuan diam saja hah? Ingat pokoknya Tuan Juna, harus mengganti handphone milikku dengan yang baru. Lagian baru saja saya membeli handphone itu, dan sekarang rusak. Mana ada uang buat beli handphone kayak begitu. Pokoknya Tuan, harus mengganti handphone milikku!" Tegas Aleena.
"Baik Aleena nanti saya akan ganti handphone mu, jauh lebih bagus dari handphone milikmu yang rusak itu." Ucap Juna.
"Bagus kalau begitu. Ya sudah Tuan Veri, ayo kita pulang karena sekarang kita sudah terbukti kalau saya bukan pelakunya." Gerutu Aleena sambil melangkahkan kakinya.
"Aleena tunggu!" Panggil Juna sambil memegang tangan Aleena dan menahannya agar tidak pergi.
"Apalagi Tuan hah? Bukannya semuanya sudah jelas kalau saya bukan pelakunya." Aleena menatap tajam Juna dan menghempaskan tangan Juna dengan kasar yang tadi memegang tangannya.
"Sa-saya cuma mau minta maaf kepada kamu, karena saya sudah menuduhmu dan terima kasih karena sudah membantuku menemukan siapa pelakunya." Ucap Juna sambil menatap Aleena.
"Tuan pikir, saya akan mudah memaafkan Tuan begitu hah? Tidak Tuan Juna. Saya sudah terlanjur kecewa dengan sikap Tuan yang menuduh saya sembarangan." Aleena sambil berlalu pergi dari ruangan Juna.
"Gimana nih Ver," tanya Juna merasa bersalah.
"Maaf Juna, saya tidak bisa membantu kamu. Itu masalah pribadi kamu dan Aleena." Veri sambil pergi menyusul Aleena yang sudah terlebih dahulu pergi.
Arrghh.. bagaimana bisa, saya sampai melakukan tindakan bodoh seperti ini. Dan kamu pak Tor, siap siap saya akan mengirimkan kamu ke dalam sel tahanan dan bila perlu sampai kamu membusuk dalam tahanan. Dasar kamu bajingan pak Tor. Bagaimana bisa, kamu orang yang saya percayai malah menghianati perusahaan saya. Arrghh... teriak Juna dengan emosi memuncak dan melemparkan berkas berkas yang ada diatas mejanya sampai terjatuh ke bawah.
"Tuan baik baik sajakan?" Tanya Ben merasa khawatir dan cemas ruangan atasannya berantankan karena ulah Tuan Juna sendiri.
"Ben, segera telepon polisi dan suruh pak Tor diselidiki atas kasus penggelapan uang!" Ucap Juna.
"Baik Tuan," jawab Ben. Lalu dengan segera Ben pun melaksanakan perintah Tuan Juna.
Satu jam kemudian, polisi pun datang ke perusahaan pt. Intern group. Dan langsung membawa pak Tor dan Micha ke kantor polisi untuk menyelidiki kasus penggelapan uang lebih lanjut lagi yang dilakukan oleh mereka, setelah Juna memberikan bukti video yang tadi Aleena kirim.
Pak Tor adalah seorang penasehat hukum yang dipecayai Juna untuk mengatasai masalah yang menimpa perusahaan dan Micha, seorang sekretaris yang menggantikan posisi Aleena. Setelah beberapa jam diselidiki oleh polisi dan terbukti adanya penggelapan uang yang dilakukan oleh pak Tor dan Micha terhadap perusahaan pt. Intern group. Kini mereka pun ditetapkan sebagai tersangka.
__ADS_1
Bersambung..
Jangan lupa kasih like, comen dan vote atau hadiah pun boleh lah 😅😊😊 terima kasih yang sudah mampir dikaryaku🙏.