
Aleena pun kini berjalan menuju kursi perlaminan yang sudah disediakan, dan disana juga sudah ada Juna yang kini sedang duduk di kursi perlaminan tersebut.
Setelah keduanya berada di kursi pelaminan tersebut, acara pun segera di mulai. Kini Juna sudah berhasil mengucapkan akad dan janji suci. Dan akhirnya mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri.
"Ingat Aleena, sekarang kamu sudah resmi menjadi istriku. Sekarang ikut aturanku. Dan kita sudah sepakat bukan, dengan peraturan kita buat." Bisik Juna ke telinga Aleena, yang kini sudah resmi menjadi seorang istri.
"Tidak perlu kau ingatkan, saya juga sudah tahu Tuan." Gerutu Aleena dengan suara pelan.
"Ck, dasar kamu ini masih tidak berubah dan selalu kasar terhadapku." Juna sambil menatap istrinya.
Aleena pun tidak memperdulikan Ucapan Juna, Aleena lebih memilih untuk diam dan melayani para tamu undangan yang kini menghampirinya dan mengucapkan selamat terhadapnya.
Kemudian datanglah Reni dan Veri berjalan menghampiri Aleena dan Juna.
"Selamat ya Na, akhirnya kamu menikah juga. Semoga bahagia selalu." Ucap Reni saat menghampiri Aleena, mengucapkan selamat kemudian memeluk Aleena.
"Iss kamu ini apa apaan sih Ren kalau bicara, lagian aku terpaksa menikah juga. Andai saja waktu itu tidak terjadi, mana mau." Gerutu Aleena berbicara pelan. Kemudian menguraikan pelukan sahabatnya.
"Tentu saja, kami bakal bahagia kok Ren. Dan apalagi sebentar lagi, bakal ada baby kita tumbuh diperut istriku ini." Ucap Juna sambil menarik pinggang Aleena, sehingga kini mata mereka saling berhadapan satu sama lainnya. Dan hidung mereka hampir bersentuhan.
"Iss Tuan, lepasin tanganmu dari pinggangku. Ini banyak orang Tuan, nanti apa kata orang." Gerutu Aleena sambil mencoba melepaskan tangan Juna yang mencengkram pinggangnya.
"Loh emangnya kenapa? Bukannya kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Jadi mereka pun, tidak akan berpikiran macam macam." Ucap Juna sambil menatap Aleena yang kini sudah dekan dengan wajahnya.
"Tuan, ja-" ucapan Aleena terputus, saat tiba tiba Juna mencium bibir mungil miliknya. Dan Aleena pun terkejut, dengan apa yang di lakukan Juna terhadap dirinya. Pingin Aleena memberontak, tapi Aleena tahu kalau sekarang sudah menjadi istri sah dari seorang Juna Prakasa. Jadi tidak mungkin bila memberontak dan menolak.
__ADS_1
Bahkan para tamu undangan pun, malah memberikan tepuk tangan dengan meriah dan bersorak. Kemudian dengan segera Juna pun, melepaskan ciumannya. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang kini merasa sakit hatinya dengan kejadian barusan. Tapi Veri mencoba untuk menyembunyikan semua perasaan sakit hatinya dan mencoba tetap tersenyum.
Sebenarnya Juna sengaja melakukan hal ini di depan Veri, agar Veri merasakan gimana dulu Juna sangat sakit dan terbakar api cemburu. Tapi yang pastinya lagi, Juna sengaja melakukan kesempatan seperti ini dalam kondisi yang menurutnya sangat tepat. Lagian ada kesepakatan yang di buat antara Aleena dan Juna yang meminta agar tidak menyentuh satu sama lain. Tapi itu juga sebenarnya Aleena lah yang membuat peraturan peraturan seperti itu.
"Tuan, apa yang sudah anda lakukan sekarang hah? Bukannya kita sudah sepakat untuk tidak menyentuhku. Dan kamu malah mengingkarinya." Bisik Aleena dengan perasaan kesal terhadap suaminya.
"Maaf Aleena, habisnya tadi saya tergoda dengan bibir merahmu yang begitu manis dan lumayan asyik." Ucap Juna sambil menatap Aleena.
"Iss menyebalkan sekali Tuan ini. Saya ben-" ucapan Aleena terputus saat Juna tiba tiba memotong pembicaraannya.
"Sudahlah Na, kamu jangan berdebat disini. Malu sama para tamu undangan yang hadir disini. Apa kata mereka kalau melihat kita yang baru saja menikah, tapi sudah berdebat." Ucap Juna memotong pembicaraan Aleena.
Kemudian Aleena diam tanpa membalas ucapan Juna. Dan berpikir emang benar apa yang di katakan oleh Juna, atau lebih tepatnya lagi sekarang sudah menjadi suami Aleena.
"Tuan lain kali kalau melakukan seperti tadi, harus tahu tempatnya. Jangan sembarangan main cium saja." Sindir Reni.
"Iya terserah Tuan saja deh," gerutu Reni sambil menatap malas Juna.
Sebenarnya Reni sengaja menyindir Juna, agar Juna menghargai dimana disini ada Veri juga.
"Oya Aleena selamat ya Na." Ucap Veri sambil mengulurkan tangannya.
"Iya terima kasih." Jawab Juna membalas uluran tangan Veri.
"Ck kamu ini kenapa sih, lagian saya kasih ucapan sama Aleena bukan sama kamu." Gerutu Veri sambil melepaskan tanggannya.
__ADS_1
"Lagian sama sajalah Ver, Aleena kan sekarang sudah jadi istriku." Ucap Juna sambil tersenyum sinis terhadap Veri.
Lalu Veri pun memilih pergi, dari pada berdebat dengan Juna.
"Kamu itu benar benar menyebalkan sekali ya Tuan." Gerutu Aleena.
Kemudian Juna pun, memilih pergi dari hadapan istrinya dan berjalan menghampiri rekan rekan kerja.
'Ih itu orang benar benar ya. Sangat menyebalkan sekali' gerutu Aleena pada diri sendiri, merasa kesal dan sambil menatap Juna yang kini berjalan menghampiri rekannya.
"Sudah yang sabar Na, jangan dipikirin dengan tingkah suamimu." Ucap Reni mencoba menenagkan Aleena.
"Ck, lagian dia cuma suami diatas kertas." Gerutu Aleena.
"Maksud kamu?" Tanya Reni. Sambil mengerutkan keningnya karena merasa tidak mengerti.
"Mau tahu?" Tanya balik Aleena.
"Tentu saja mau, maksudnya apaan Na?" Ucap Reni.
"Kepo." Jawab Aleena.
"Ih Aleena, menyebalkan sekali. Malah bilang begitu." Gerutu Aleena.
"Sudah ah Ren, aku haus nih. Tolong ambil air minum dong." Pinta Aleena.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan ambil nih." Ucap Reni sambil berjalan mengambil air minum sesuai perintah Aleena.