
"Kenapa kamu malah menamparku, Aleena! Lagian apa salahnya kamu berkata jujur saja hah? Kamu kira saya tidak tahu, apa yang sudah kamu lakukan tadi saat di dalam mobil ketika berhenti di lampu merah hah?" Juna sambil menatap tajam Aleena.
Lalu Aleena pun terdiam sejenak, dan mengerti maksud Juna. Ternyata Juna telah salah paham tentang dirinya bersama Veri. Tiba tiba mata Aleena pun tertuju menatap leher Juna yang meninggalkan bekas memar merah. Dan Aleena tahu itu tanda nya apa, yang pastinya itu perlakuan antara Juna dan mantan kekasihnya.
"Kamu tadi seenaknya menuduhku hah? Tapi kenapa kamu tidak bercermin pada diri sendiri, apa yang sudah kamu lakukan Juna!" Bentak Aleena.
"Maksud kamu apa berbicara begitu Aleena? Kenapa kamu malah balik menuduhku hah?"
"Sudahlah Juna, kamu jangan ber- " ucapan Aleena terputus begitu saja, saat tiba tiba benda kenyal menyentuh bibir mungil milik Aleena. Kemudian Juna pun terus mencium b*bir Aleena dengan kasar.
Hemmptt... Aleena mencoba memberontak dan melepaskan dari bib*ir milik suaminya yang menyentuh bib*ir miliknya. Namun sayangnya tenaga dirinya tidak sebanding dengan tenaga suaminya.
Setelah cukup puas, dengan segera Juna pun melepaskan ciumannya.
"Kamu mau membunuhku hah? Saya hampir kehilangan napas karena ulahmu Juna!" Bentak Aleena sambil menatap Juna. Dan mengusap bibirnya yang kini terasa sakit dan bengkak karena ulah gigitan suaminya.
Juna pun tidak membalas ucapan Aleena. Juna malah menggendong Aleena ke punggung Juna, layaknya seperti karung beras. Kemudian dengan segera Juna pun membawa Aleena ke dalam kamar.
"Apa yang akan kamu lakukan terhadapku, Juna!" Bentak Aleena sambil memukul punggung suaminya dengan kasar dan keras.
Juna pun tidak memperdulikan betapa sakitnya saat Aleena terus memukul punggungnya dan berteriak. Juna masih terus membawa Aleena ke dalam kamar. Setelah sampai di dalam kamar, dengan segera Juna pun menidurkan Aleena di atas kasur.
__ADS_1
"Kamu jangan macam- macam sama saya, Juna." Aleena mulai ketakutan. Saat Juna mulai membuka bajunya.
"Loh kenapa emangnya Aleena? Bukannya kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri hah? Jadi tidak ada salahnya, kita melakukannya."
"Emang kita sudah resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan kita tanpa cinta Juna. Dan kamu harus ingat tentang kesepakatan kita, Juna. Jadi jangan coba-coba kamu menyentuhku." Ucap Aleena.
"Itu bagimu saja tidak ada cinta untukku. Tapi bagiku, kamu itu segalanya Aleena. Jadi tidak boleh ada seseorang yang boleh menyentuhmu, Aleena. Karena kamu itu milikku, dan semua yang ada pada dirimu itu milikku, Aleena." Juna sambil berjalan ke atas kasur, kemudian menindih tubuh Aleena dan mengunci seluruh tubuh Aleena, sehingga Aleena tidak bisa berbuat apa apa.
"Apa yang akan kamu lakukan Juna! Kamu jangan macam-macam ya. Bukankah kita sudah sepakat untuk-." Ucapan Aleena terputus saat tiba tiba Juna mencium kembali bib*ir istrinya.
Hemmptt... Aleena mencoba memberontak.
"Dengar Aleena sayang, lagian saya tidak peduli dengan surat kesepakatan kita. Setelah ini, saya akan merobek kertas tersebut." Ucap Juna saat melepaskan ciumannya.
Juna pun tidak menjawab perkataan Aleena. Tapi Juna malah merobek paksa baju milik Aleena satu persatu satu.
"Saya mohon Juna, jangan lakukan itu. Bukankah kamu sudah berjanji sama saya, Juna? Kenapa kamu mengingkarinya." Aleena mulai ketakutan.
Juna pun tidak mendengarkan ocehan Aleena. Juna masih melepaskan celana milik Aleena, sehingga kini tubuh Aleena keadaan polos tanpa benang sehelai pun. Kemudian Juna pun, membuka baju miliknya sehingga sama sama polos tanpa benang.
"Ah.... ular, eh pisang." Teriak Aleena merasa terkejut saat melihat benda pusaka milik suaminya. "Kamu itu benar -benar gila ya, Juna."
__ADS_1
"Iya memang Aleena, saya ini sudah gila karena melihat kedekatanmu dengan Veri. Makanya saya terpaksa harus melakukannya sayang." Juna sambil mengusap lembut pipi istrinya.
"Jangan sentuh wajahku, Juna! Saya tidak sudi bila kamu mennyentuh wajahku." Ucap Aleena.
"Apa kamu bilang barusan hah? Saya tidak boleh menyentuhmu, tapi kenapa si pria bajingan itu malah membiarkan menciummu hah?"
"Lagian itu semua-" lagi lagi ucapan Aleena terputus saat Juna kembali menci*mnya. Kemudian memperdalam ciu*mannya\, sehingga kini hasrat Juna semakin menggelora. Dengan segera\, Juna pun melakukan penyatuannya.
"Saya mohon, jangan...." protes Aleena saat Juna akan memasukan benda berharganya.
Juna pun tidak memperdulikan perkataan Aleena. Dengan segera Juna pun melakukan penyatuannya.
"Aww, sakit Juna." Ringis Aleena saat merasakan sakit di dalam area vaginanya.
Juna pun tidak memperdulikan Aleena yang kini sedang kesakitan. Juna terus melakukan penyatuannya.
"Juna, saya mohon. Hentikanlah saya benar benar sakit hiks hiks." Aleena mulai menangis.
Dan lagi- lagi Juna tidak memperdulikan ringisan Aleena. Setelah menuju puncak kesuksesan, dan merasa sudah puas. Juna pun segera mengeluarkan penyatuannya. Dan tidur di samping istrinya.
Setelah merasa kelelahan atas kejadian barusan. Aleena dan Juna pun tiba tiba tertidur. Dan kini mereka sedang berada di alam bawah sadar.
__ADS_1
Bersambung....
***jangan lupa tinggalkan jejak.