
"Heem, dia kakak iparmu," jawab Aleena sambil menatap adiknya.
"Ya ampun, tampan dan gagah sekali punya kakak ipar. Hello kak, kenalkan nama aku Angel Santika. Aku adiknya kak Aleena." ucap Angel sambil mengulurkan tangannya.
"Hei adik iparku. Perkenalkan, saya Juna Prakasa suami dari Aleena Prakasa," ucap Juna membalas uluran tangan Angel dan menatap istrinya.
"Sejak kapan namaku di ubah menjadi Aleena prakasa, apa-apan ini sih," protes Aleena.
""Mulai hari ini, detik ini juga nama mu, saya ubah menjadi Aleena Prakasa!"
"Tidak bisa! Namaku tetap Aleena Santika," Aleena masih protes dengan perubahan namanya.
"Dengar Aleena sayang. Kamu itu sekarang sudah jadi istriku! Jadi apa yang ada pada dirimu, sudah menjadi milikku. Termasuk perubahan namamu itu! Kamu itu istri dari seorang Juna Prakasa yang tampan, gagah, baik dan kaya raya," Juna menyombongkan diri.
"Ck, suamiku benar-benar sombong sekali. So paling segalanya lagi," gerutu Aleena merasa kesal terhadap suaminya.
"Sudahlah sayang, kamu itu jangan banyak protes! Lagian juga, adik ipar pasti menyetujuinya kok. Iya kan, adik ipar yang cantik dan manis?" tanya Juna sambil berjalan menghampiri Angel.
"Iya tentu saja, aku menyetujuinya kok. Lagian, kak Aleena aneh sekali malah menolak dengan perubahan nama dari suami yang cakep, tampan dan kaya raya ini," Angel sambil menelusuri wajah dan tubuh kakak iparnya.
"Tidak tahu tuh, kakakmu memang sungguh aneh dan tidak punya rasa bersyukur mempunyai suami yang hampir sempurna ini," Juna memuji dirinya sendiri.
"Punya adik malah membela kakak iparnya. Dan punya suami menyebalkan sekali, so pamer mulu lagi," Aleena sambil berlalu pergi dari hadapan Angel dan Juna dan berjalan menuju ruang makan.
"Kak Aleena, tunggu! mau kemana kak," panggil Angel sambil berjalan mengejar kakaknya.
__ADS_1
Aleena pun tidak menjawab perkataan adiknya. Aleena terus berjalan tanpa memperdulikan adiknya yang mengumpat dirinya dan berteriak memanggilnya. Juna yang melihat tingkah adik iparnya, hanya menggelengkan kepala.
'Ternyata bukan sama saya saja, istriku seperti Ini. Tetapi sama adiknya sendiri pun, seperti itu.' gumam Juna sambil Menghembuskan napasnya dengan kasar. Kemudian Juna pun berjalan menyusul istrinya.
"Kak Aleena! Kakak ini tuli ya? Kenapa kakak tidak menjawab perkataanku. Dan malah terus berjalan tanpa memperdulikan aku yang berteriak, memanggil kakak," gerutu Angel yang kini sudah berada di ruang makan bersama Aleena dan sambil menatap sebal kakaknya.
"Lagian, siapa suruh untuk berteriak memanggil kakak? Terus kamu ada apa datang kesini?" tanya Aleena sambil menatap adiknya yang duduk di sampingnya.
"Emangnya kenapa kalau aku datang kesini? Tega banget ya kakak, tidak memperbolehkan aku untuk kesini. Sekarang kakak mau usir Angel begitu?" ucap Angel sambil memonyongkan bibir atasnya.
"Iss kalau berbicara, sangat menyebalkan sekali dirimu itu. Emangnya siapa yang bilang, kalau kakak mau mengusirmu hem?" tanya Aleena sambil menatap adiknya.
"Tidak ada yang bilang kak hehe. Terus ngapain kakak bilang sama Angel, mau ngapain kesini? Bukannya itu sudah mewakilkan kalau kakak mengusirku dan tidak suka dengan kehadiranku, iya kan?"
"Benar tuh, apa yang dikatakan oleh kakakmu. Seharusnya, kamu itu kasih kabar dulu." Juna yang kini sudah berada di ruang makan dan duduk berhadapan dengan istrinya.
"Iya maaf. Lagian, mau menelpon kakak gimana? Handphone punya Angel hilang kak," ucap Angel dengan eskpresi sedih.
"Loh kok bisa? gimana ceritanya." tanya Aleena.
Kemudian Angel pun menceritakan kejadian saat handponenya hilang di kampus.
"Sudah sekarang kamu tidak usah sedih lagi ya. Kakak nanti beliin handphone buat mu," ucap Juna sambil menatap adik iparnya.
"Serius nih, kakak ipar mau membelikan handphone buat Angel?" tanya Angel.
__ADS_1
"Tentu saja serius. Kamu bisa memilih handpone yang kamu suka," ucap Juna.
"Terima kasih kakak ipar yang baik, tampan dan tidak sombong," puji Angel.
"Sama-sama adik iparku," ucap Juna sambil mengusap lembut pucuk rambut Angel.
Aleena pun tersenyum dan merasa bahagia dan senang saat melihat Juna yang begitu perhatian terhadap adiknya.
"Oya, ngomong-ngomong kita disini mau apa ya?" tanya Angel sambil menatap kakaknya.
"Iya mau makanlah Angel. Masa mau main remi? Emangnya kamu tidak lapar?"
"Ya tentu saja lapar kak hehe," jawab Angel.
Kemudian bi Atin pun berjalan menuju meja makan dan menaruh makanannya satu persatu diatas meja.
"Sudah beres Non, silahkan dinikmati makanannya." ucap bi Atin.
"Iya terima kasih Bi," ucap Juna sambil tersenyum.
"Sama-sama Tuan," bi Atin sambil berlalu pergi untuk mengerjakan tugas yang lainnya.
"Ya sudah ayo kita makan," ajak Juna.
Mereka pun kini sedang menikmati makan malamnya tanpa ada yang berbicara di antara mereka.
__ADS_1