
Usai sudah mereka menikmati makan bersama. Aleena merasa tidak enak hati saat bergabung dengan Veri dan sahabatnya. Apalagi dari tadi Juna terus menatapnya dengan tatapan yang susah diartikan membuat Aleena merasa tidak enak hati.
"Maaf Tuan, sepertinya saya harus segera pergi sekarang juga," ucap Aleena sambil menatap Veri.
"Emangnya kamu mau pergi kemana Aleena?" tanya Veri sambil menatap kembali Aleena.
"Entahlah Tuan. Yang pasti saya harus pergi dari sini, untuk jalan-jalan kembali mencari tempat yang cocok buat menikmati udara segar. Iyakan Ren?" tanya Aleena sambil menatap sahabatnya.
"Iya benar Tuan." Jawab Reni.
"Ya sudah, ikut saja sama kita. Lagian kita juga mau pergi kesuatu tempat menikmati pemandangan yang sangat indah." Ucap Vir.
"Boleh juga tuh, emangnya kemana?" tanya Reni.
"Ke puncak!" Jawab Vir.
"Puncak? Wah asyik dan seru kayaknya, boleh juga tuh. Aleena ikut yuk," ajak Reni.
"Tidak ah Ren, mending kita ke tempat lain sajalah Ren," tolak Aleena sambil menatap Reni.
"Ayolah Na, please mau ya Na ...." Reni sambil memohon.
__ADS_1
"Sudahlah Na, apa salahnya sebagai sahabat menuruti kemauannya. Masa tidak solideritas sih sebagai sahabat. Lagian kita ke puncak ramai ramai loh Na, tuh ada kekasih Jamal sama Riki juga," ucap Vir sambil menatap Aleena.
"Tapi-"
"Masih tidak mau nih menuruti kemauan aku? Ya sudah kalau tidak mau, persahabatan kita sampai disini!" Gerutu Reni sambil menatap kesal Aleena.
Kemudian Aleena pun menghembuskan napas kasarnya. Betapa tidak mengertinya Reni, kenapa Aleena menolak untuk tidak ikut dengan Veri dan kawan kawannya.
"Baiklah, kalau begitu saya ikut juga." Ucap Aleena.
"Terima kasih, Aleena sayang," ucap Reni sambil memeluk Aleena lalu menguraikan pelukannya.
Aleena pun hanya menganggukan kepala dan tersenyum kepada Reni.
Lalu semuanya beranjak dari tempat tersebut dan berjalan menuju keluar dari cafe.
"Ayo Aleena," Veri sambil mengulurkan tangan kanannya.
Lalu Aleena pun menatap sejenak Veri, dan melihat tangan Veri yang kini mengulurkan tangannya. Kemudian Aleena pun tersenyum lalu meraih tangan Veri.
"Iya Tuan," jawab Aleena sambil tersenyum.
__ADS_1
Kemudian Aleena dan Veri pun berjalan menuju keluar cafe, menyusul sahabatnya yang terlebih dahulu berjalan. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang kini merasakan panas membara dihatinya sambil mengepalkan kedua tangannya.
Kini semuanya sudah berkumpul diparkiran untuk memastikan kalau semuanya sudah siap untuk pergi ke puncak.
"Ayo, kita berangkat," ajak Veri kepada semuanya. Ketika Veri dan Aleena berjalan menuju mobil, tiba tiba seseorang datang dan langsungĀ menarik tangan Aleena.
"Ayo Aleena, kamu ikut dengan saya," ucap Juna sambil menarik tangan Aleena agar mau naik mobil bersama Juna.
"Maaf Tuan, saya tidak mau," tolak Aleena sambil mencoba melepaskan tangan Juna yang kini sedang menarik tangannya.
"Sudah jangan banyak menolak, pokoknya kamu harus ikut dengan saya." Juna sambil menatap Aleena dan terus menarik tangan Aleena dan semakin mencengkram erat tangannya.
"Aww, Tuan sakit. Lepasin tangan saya, kan saya sudah bilang kalau Aleena tidak mau satu mobil dengan Tuan." Aleena sambil menatap tajam Juna.
"Juna, kamu itu benar benar gila ya hah. Orang tidak mau satu mobil denganmu, tapi kamu malah terus memaksa Aleena. Sekarang lepaskan tanganmu dari tangan Aleena." Veri tiba tiba menghampiri Juna dan mencoba menolong Aleena dari Juna.
"Kamu tidak perlu ikut campur Veri, ini urusan saya dengan Aleena." Juna sambil menatap tajam Veri.
"Tapi ini urusan saya juga Juna. Kamu sudah berbuat kasar sama Aleena, dan saya tidak rela bila ada orang yang menyakiti Aleena. Dasar pria bajingan!" Veri membalas tatapan tajam Juna.
"Barusan kamu bilang apa hah?" tanya Juna.
__ADS_1
"Kamu itu pria bajingan Juna Prakasa!" Jawab Veri dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Kini suasana pun menjadi mencengkam, saat Veri dan Juna saling bertatapan dengan tatapan yang susah diartikan.