
"Juna ... " ucap seorang wanita cantik dengan berpakaian seksi, memeluk Juna dari belakang.
Juna pun, langsung melepaskan tangan wanita tersebut. Kemudian berbalik badan dan menatap wanita tersebut.
"Olin? Kamu kenapa Olin?" tanya Juna merasa khawatir saat melihat pipi Olin, sedikit mengeluarkan darah dan bengkak.
"Kekasihku Juna hiks hiks, hampir membunuhku. Kamu bisa lihat sendirikan, pipiku terluka dan bengkak karena ulah perbuatan kekasiku," ucap Olin langsung memeluk Juna.
"Kenapa kekasihmu sampai tega melakukan seperti itu Olin? Sebenarnya, apa yang terjadi?" tanya Juna sambil membalas pelukan Olin, kemudian mengusap lembut rambut Olin.
Deg. Tiba-tiba ada rasa sakit hati saat melihat suaminya membalas pelukannya dan mengusap lembut rambut mantan kekasihnya. Jantung Aleena pun, terasa begitu lemah dan tidak berdaya. Bagaimana tidak? Suaminya telah melakukan, tindakan bodoh di depan Aleena dan tidak menghargai Aleena sebagai seorang istri.
'Mereka itu, apa-apaan sih pakai peluk-pelukan segala. Apakah ini alasan Juna, kenapa meminta aku datang ke kantornya? Benar-benar gila ya, si Juna. Masa cuma ingin memperlihatkan perlakuan yang tidak senonoh kepadaku? Arrgh ... brengsek, sial. Lagian, ngapain sih harus datang kesini juga. Mendingan, sekarang juga aku harus pergi saja dari sini' gumam Aleena dalam hati sambil menatap Juna dan Olin yang kini masih berpelukan.
Aleena pun dengan segera mengambil tas di atas meja, kemudian berjalan melewati Juna dan Olin. Namun, tiba-tiba tangan Aleena di tahan oleh Juna sehingga langkah Aleena terhenti.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku!" Aleena sambil menatap tajam Juna.
Juna pun, tidak mendengarkan perkataan Aleena. Juna malah sengaja memperat pegangan tangannya ke tangan Aleena.
"Saya bilang sekali lagi lepaskan, tanganku Juna!" bentak Aleena.
Olin pun dengan segera menguraikan pelukannya, kemudian menatap Aleena dengan perasaan kesal karena sudah mengganggu dirinya dengan Juna.
"Kamu itu kalau bicara biasa saja, tidak usah pakai emosi kali. Terus ini apa-apaan hah, malah pegangan tangan?" tanya Olin sambil menatap tajam Aleena.
"Kamu bicara saja sama dia, kenapa dia menahanku untuk pergi? Aku tadi sudah suruh dia melepaskan tanganku, tapi Juna tidak mendengarkannya," ucap Aleena sambil menatap Olin.
"Saya tidak akan membiarkan dia pergi! Lagian dia itu istriku, maka jangan berani pergi dari sini sebelum saya perintahkan untuk pulang. Karena kamu sudah berani untuk pergi dari perusahaanku, maka saya akan hukum kamu, Aleena." ucap Juna sambil menarik pinggang Aleena, sehingga wajah mereka saling berdekatan dan hidung mereka hampir saling bersentuhan.
"Kamu itu-" ucapan Aleena terputus saat Juna, tiba- tiba mencium lembut bibir miliknya. Yang kini sudah menjadi candunya. Aleena pun ingin memberontak, tapi tiba-tiba Aleena ingat, kalau dirinya tidak sedang berdua tapi bertiga dengan mantan kekasihnya Juna yaitu dengan Olin.
__ADS_1
Aleena pun sengaja merespon dan membalas setiap ciu*man yang Juna berikan. Mereka saling menukar salivannya serta saling menjulurkan lidahnya satu sama lain.
Olin pun, merasa tidak percaya dan merasa terkejut dengan apa yang mereka lakukan didepan matanya. Ada perasaan marah dan tidak terima yang di lakukan oleh mereka. Seharusnya dirinya yang berada di posisi itu, bukan Aleena. Setelah puas dan menikmatinya, dengan segera Juna pun melepaskan ciu*mannya lalu menghapus bibir Aleena yang basah karena ulah dirinya.
"Kalian itu, apa-apaan hah? Kenapa kalian melakukan itu di depan saya hah? dan kamu Aleena, berani-beraninya melakukan itu semua di depan saya serta kamu itu benar-benar kurang ajar," Olin tangannya mencoba untuk menampar Aleena, tapi sayangnya tidak berhasil karena dengan segera Juna mencengkram lengan tangan Olin dengan kasar.
"Aww ... Juna sakit, lepaskan!" pekik Olin merasa kesakitan saat lengan tangannya di cengkram kasar oleh Juna.
"Kamu jangan berani macam-macan dengan istriku. Sekarang juga, kamu keluar dari sini!" bentak Juna sambil menatap tajam Olin dan melepaskan tangannya yang mencengkram lengan tangan Olin.
"Maksud kamu apa? Kenapa kamu malah mengusirku. Seharusnya dia yang kamu usir, bukan aku!" bentak Olin merasa tidak terima dirinya di usir.
"Aleena itu istriku, mana mungkin saya mengusirnya. Sedangkan kamu, siapa saya hah? Lagian saya tadi berpura-pura perhatian sama kamu, supaya membuat istriku cemburu, Olin puspita," ucap Juna
"Jadi tadi kamu cuma bersandiwara iya hah? benar-benar kurang ajar kamu, Juna!
__ADS_1
Plakk .... satu tamparan mengenai pipi Juna.
"Aku sangat kecewa kepadamu Juna, aku benci sama kamu!" Olin sambil berlalu pergi meninggalkan Juna dan Aleena di ruangannya.